Andalan

Sudah 2 Minggu Gak Ngepos, Kemana Aja?

Sumber Gambar: Pinterest

Hallo guys.. apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan yang sehat. Amin.

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya dalam hati, kok gak ada lagi pos terbaru dari aku? Ke mana saja aku selama 2 minggu ini? Baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang mengapa aku gak ngepos blog selama 2 minggu ini.

Kalau gak salah ingat, aku mulai berhenti ngepos tulisan di blog mulai tanggal 8 April 2022. Saat itu kondisi fisik ku sedang drop. Aku merasa kesakitan di bagian perut ku selama seminggu lebih, entah apa penyebabnya. Jadi selama seminggu itu aku memutuskan untuk rehat dari semua aktivitas, kecuali pelayanan di gereja.

Setelah merasa membaik, aku mulai lagi aktivitas ku seperti membaca buku, menulis buku, mengedit naskah buku klien, dan mengurus komunitas kecil ku, YPPL.

Alasan utama aku belum aktif menulis blog saat ini adalah karena aku sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan proyek buku aku yang berjudul Kepemimpinan Gembala (Belajar dari Yesus). Buku ini adalah buku kelima yang aku tulis, yang rencananya aku jual untuk biaya operasional YPPL.

Aku berharap proyek buku ini dapat selesai di awal bulan Mei, sehingga aku bisa kembali menulis di blog lagi. Ke depannya, selain aktif menulis buku, aku juga akan aktif menulis di blog. Mohon doanya ya guys.

Aku rasa itu saja yang bisa aku bagikan. Jika kalian ingin mendapatkan update tulisan terbaru ku, kalian bisa follow blog aku sekarang juga! Terima kasih suda membaca cerita ku yang pendek ini.

Andalan

Intip Yuk Toko Buku Bekas Di Jalan Kramat Raya

Halaman depan toko buku bekas Senen [gambar diambil oleh Billy Steven Kaitjily]

Apa kabar kalian? Semoga dalam keadaan yang sehat, ya. Amin.

Hari ini, aku enggak menulis esai atau renungan rohani seperti biasanya, tapi aku pingin bercerita sedikit soal pengalaman ku berkunjung ke toko buku bekas yang berlokasi di Jalan Kramat Raya, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Selama tinggal di Jakarta, hanya beberapa kali saja, aku berkunjung ke toko buku bekas di Senen ini. Lebih seringnya ke gramedia dan toko buku rohani. Hehe.

Baca juga: 4 Toko Buku Rohani di Jakarta yang Wajib Dikunjungi

Toko buku bekas ini, berada di samping jalan raya, rada susah untuk parkir kendaraan bermotor, terutama mobil. Jadi, kalau kalian mau ke sini, mendingan naik grab atau gojek deh, biar lebih aman.

Sebelum terjadi pandemi, pengunjung toko buku bekas ini sangat ramai. Tetapi, sejak pandemi, pengunjungnya mulai sepi. Duh, prihatin juga dengan nasib toko bukunya.

Keadaan dalam toko [gambar diambil oleh Billy Steven Kaitjily]

Para pengunjung yang datang berasal dari berbagai latar belakang status sosial, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, guru atau dosen, hingga orang kantoran.

Tempat ini, menjadi tempat favorit mereka, oleh karena harga buku yang dijual sangat murah. Harga yang dibuka mulai dari 10.000 hingga 100.000 tergantung ketebalan bukunya.

Kalau tidak salah ingat, aku beli buku di sini sekitar 10 biji. Rata-rata adalah buku sekuler bertemakan kepemimpinan, konseling, dan motivasi. Aku pernah sekali nemu dan beli buku rohani berjudul “Bukan Yesus Yang Saya Kenal” karangan Philip Yance. Bekas, tapi masih mulus.

So, untuk kalian yang berdomisili di wilayah Jabodetabek (singkatan dari Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), yuk cobain tempat ini. Buku-bukunya cukup lengkap, murah, dan lumayan bagus kok.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ku ini, yuk bagikan juga kepada yang lain, supaya mereka pun mendapat manfaatnya.

Andalan

Renungan Harian Kristen: 5 Ilah Yang Harus Diwaspadai

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Hidup ini adalah sebuah pertempuran. Pertempuran terhadap apa? Pertempuran terhadap ilah-ilah duniawi. Setiap hari, kita berjuang melawan ilah makanan, ilah seks, ilah hiburan, ilah uang, ilah prestasi, dan ilah lainnya. Tidak sedikit yang kemudian kalah dalam pertempuran mematikan ini. Bagaimana mewaspadai jebakan dari ilah-ilah duniawi ini, sehingga kita tidak terjatuh, ambruk, dan hancur? Simak penjelasannya berikut ini.

Ilah Makanan

Dalam Alkitab makanan adalah sesuatu yang baik, karena ia datang dari Tuhan. Misalnya, Tuhan menyediakan makanan kepada Adam dan Hawa di taman Eden. Tuhan juga memberi makan “manna” kepada bangsa Israel yang bersungut-sungut di padang gurun. Jelas, Ia ingin tindakan makan menjadi sesuatu yang mendatangkan sukacita, bukan sekadar persoalan pemeliharaan tubuh semata. Kita diperintahkan oleh Tuhan dalam Pengkhotbah 9:7, demikian:

“Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.”

Makanan memang baik. Masalahnya adalah bahwa setiap pemberian yang baik dari Tuhan bagi kita bisa berbalik menjadi sebuah kail untuk menarik kita justru menjauh dari Tuhan. Mari, kita melihat bagaimana makanan bekerja menarik kita jauh dari Tuhan.

Rata-rata orang Indonesia menyukai makanan yang mengandung gula dan gorengan, apalagi di bulan puasa seperti sekarang, makanan jenis ini di jual dengan harga murah di sepanjang jalan raya. Di satu sisi, kita diminta Tuhan untuk memelihara tubuh dengan makan makanan, karena tubuh adalah bait Allah. Tapi, di sisi lain, makanan menggoda kita untuk mengkonsumsinya terus-menerus, sehingga kita tidak lagi memedulikan kesehatan kita. Akibatnya, kita mendapati diri kita bermasalah dengan diabetes, kolestrol, dan tekanan darah tinggi.

Supaya kesembuhan terjadi, sebuah berhala harus terlebih dahulu dihancurkan, yaitu ilah kesenangan yang disebut makanan. Ilah kesenangan duniawi ini, harus dilawan dengan puasa. Jadi, ambillah waktu untuk puasa selama tiga hari. Lakukan hal ini untuk tujuan disiplin makan makanan tertentu dan untuk tujuan mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Berdoalah, agar kalian memiliki rasa lapar akan firman daripada makanan duniawi. Yesus berkata: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi . . .” (Yoh. 6:35).

Baca juga: Renungan Harian Kristen: Sikap Orang Kristen Terhadap Makanan

Ilah Seks

Seks adalah gagasan Tuhan. Ia merancangnya untuk menghubungkan kita secara intim dengan pasangan kita. Seks, bila dilakukan menurut cara Tuhan bisa mendatangkan kesenangan dan tentu saja menghasilkan anak-anak, menurut rencana-Nya. Tuhan bisa saja menciptakan seks terasa biasa saja, tetapi Ia memilih untuk membuat seks terasa menyenangkan. Tuhan seperti seorang ayah yang sering memberi hadiah istimewa bagi anak-anaknya.

Tetapi, hadiah yang istimewa ini (seks) dapat berubah menjadi sesuatu yang buruk, yaitu ketika hadiah menggantikan sang Pemberi hadiah sebagai objek penyembahan. Ketika kita mulai menyembah ilah seks melebihi sang Pemberi seks, maka di situlah kita mendapati diri kita bermasalah.

Suatu kali, ketika berada di warnet, nggak sengaja, aku melihat seorang anak muda yang syik membuka situs porno. Ia tampak sekali menikmati gambar-gambar porno itu. Aku sangat yakin, ini bukan kali pertama ia membuka situs porno. Pasti ia sering membukanya. Seperti itulah jadinya, kalau kita memilih menyembah ilah seks daripada sang Pemberi seks. Ilah seks tampak memberi kesenangan, tetapi kesenangan yang didapat itu sementara, bahkan palsu. Semakin kita mengejar berhala seks, semakin kita tidak mendapatkan apa-apa darinya. Kita akan terus merasa kosong.

Cara terbaik untuk menang dari berhala seks adalah mengisi pikiran kita dengan pikiran-pikiran yang positif. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, demikian:

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8).

Perjuangan melawan hawa nafsu seks multak sangat diperlukan demi keselamatan akhir kita. Paulus mengatakan demikian: “Jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup (Rm. 8:13). Ini sangat mirip dengan pengajaran Yesus bahwa, jika kita bersedia mencungkil mata kita daripada menuruti hawa nafsu, maka kita akan masuk ke dalam kehidupan (Mat. 18:9). Pertempuran hawa nafsu seks adalah pertempuran sampai mati. Karena itu, jagalah diri kalian dengan menggunakan segala perlengkapan senjata yang disediakan Tuhan.

Ilah Hiburan

Seperti juga makanan dan seks, hiburan atau waktu luang juga diciptakan oleh Tuhan. Ia memerintah bangsa Israel untuk bekerja selama enam hari, dan beristirahat pada hari ketujuh. Tetapi waktu luang yang diciptakan-Nya dalam keindahan dan kesucian, kini telah merosot di dalam dosa.

Waktu-waktu luang itu penting dan sakral. Tetapi, kita kurang serius untuk memikirkannya. Mungkin juga karena kita tidak tidak pernah berpikir bahwa, Tuhan senang melihat anak-anak-Nya bersenang-senang secara manusiawi – jenis bersenang-senang yang mencerminkan saling mengasihi, keadilan sosial, dan memperdalam, memperluas, serta menguatkan identitas kita sebagai gambar dan rupa Tuhan.

Kalau bermain game membuat Anda kehilangan kasih dan keadilan sosial kepada sesama, maka game harus diganti dengan hiburan yang lain. Kalau pergi ke mall membuat Anda menjadi orang yang konsumtif, individualis, dan lain sebagainya, maka Anda harus mengganti mall dengan ruang publik lainnya.

Menurut Kak Hans Abdiel Harmakaputra, mall bukan untuk semua orang. Ini benar. Pernahkah kalian melihat orang-orang miskin yang berpakaian kumuh berkeliaran di sebuah mall? Selama hampir 7 tahun tinggal di Jakarta, aku belum pernah melihat mereka. Inilah salah satu dampak negatif dari budaya mall, yaitu menambah kesenjangan sosial di dalam masyarakat. Aku pikir, ada panggilan kepada pejabat pemerintah untuk memperhatikan dengan serius masalah budaya mall ini, sebuah budaya yang membuat jarak antarmasyarakat.

Hiburan memang bisa menjadi istirahat bagi pikiran dan emosi, khususnya mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta. Tetapi, ingat bahwa, hiburan dapat membuat kita menjadi manusia-manusia yang tidak punya kasih, keadilan sosial, indiviadualis, konsumtif, dan hal negatif lainnya.

Seorang yang berhikmat sepanjang sejarah pernah menulis demikian: “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pkh. 1:14). Dengan perkatan lain, Salomo ingin berkata, yang kita butuhkan dan kejar dalam hidup seperti makanan, seks, dan hiburan itu justru sia-sia. Menurutnya, kita harus takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pkh. 12:13). Allah adalah kesenangan tertinggi kita, kajarlah Dia.

Ilah Uang

Harus diakui bahwa, uang memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dewasa ini, sebab tidak ada satu pun kegiatan di bawah kolong langit ini, yang tidak memerlukan uang. Mau makan sederhana saja memerlukan uang. Berobat memerlukan uang. Bangun gedung gereja perlu uang, dan lain sebagainya membutuhkan uang.

Sejauh uang menjadi alat atau sarana untuk menopang kegiatan hidup sehari-hari, tidak jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika uang mulai mengambil alih hidup kita. Uang menjadi polemik, jika kita diperhamba atau diperbudak olehnya. Alkitab memperingatkan kita demikian: “Janganlah kamu menjadi hamba uang . . .” (Ibr. 13:5), karena “akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:10).

Contoh orang yang teropsesi dengan uang adalah Yudas dan Demas. Yudas menjual Yesus dengan 30 keping perak, kemudian menjadi menyesal dan bunuh diri. Sedangkan Demas, mencintai dunia (baca: uang) ini dan meninggalkan Paulus di ladang pelayanan. Maka, setiap hari kita perlu mengecek keadaan hati kita, apakah hati kita terpaut pada uang ataukah tidak.

Salah satu cara untuk mendeteksi hati kita adalah dengan memberikan sumbangan atau donasi – memberikan donasi kepada organisasi Kristen maupun organisasi non-Kristen. Bagaimana emosi atau perasaan kalian ketika memberi? Apakah kalian merasa terganggu? Kalau iya, berarti ada yang tidak beres dengan hati kalian. Maka, hati-hati dengan uang. Hati-hati dengan hati kita!

Ilah Prestasi

Kita hidup dalam dunia yang menjunjung tinggi prestasi. Sejak kecil kita dituntut oleh orangtua kita untuk mengejar prestasi setinggi-tingginya, agar bisa hidup nyaman, aman, diakui dan dihormati orang. Seolah-olah, prestasi adalah identitas diri kita sesungguhnya.

Dalam Amsal 18:12 berkata demikian: “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahuluai kehormatan.” Ayat ini mengajarkan bahwa dasar dari kehormatan manusia bukanlah prestasi atau pencapaian, melainkan kerendahan hati. Bukan berarti kita tidak boleh berusaha memperoleh juara atau prestasi. Namun, jangan sampai kita mengejar prestasi semata-mata untuk mendapat pujian dan kehormatan. Ingat, apapun yang kita peroleh dan raih dalam hidup ini berasal dari Tuhan. Prestasi adalah anugerah umum dari Tuhan.

Anugerah umum ini bukanlah tujuan kita. Tujuan kita adalah memperoleh anugerah khusus, yakni keintiman dengan Tuhan. Inilah yang mesti dikejar.

Penutup

Itulah kelima ilah yang mesti diwaspadai di hari-hari terakhir ini. Terima kasih telah membaca tulisan ku, jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, bagikanlah kepada orang lain, agar mereka juga mendapat mandapat darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Service Motor Lama Banget, Ini Yang Aku Lakukan

Sedang menunggu motor selesai diservice [gambar diambil oleh Billy Steven Kaitjily)

Siang ini, pukul 13.15 WIB, aku dimintai tolong oleh gembala ku, untuk service sepeda motornya yang bermerek TIGER. Yang diservice adalah busa filter, ganti busi dan oli, isi angin dan bensin.

Kebetulan bengkel engga jauh dari gereja. Tiba di bengkel, ternyata antri. Bang Dedi, pemilik bengkel bilang: “tunggu aku selesaikan satu motor ini, ya”. Aku jawab: “iya engga papa bang”.

Aku pun duduk menunggu antrian. Jujur, sebenarnya, aku agak males menunggu. Haha. Tapi, karena permintaan gembala ku, ya sudah aku rela menunggu.

Sambil menunggu, aku iseng baca blog orang, lumayan terhibur. Saat sedang asyik baca, tiba-tiba aku terganggu oleh kedatangan gembala ku.

“Motornya sudah selesai diservice, Bil?”, tanyanya. Aku jawab: “belum, ini baru mau diservice, Pak.”

Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Teryata, sudah 45 menit aku menunggu satu motor tadi selesai diservice.

Gembala ku sempat meminta bang Dedi untuk meperbaiki rem tangan yang kendor. Lalu, ia kembali ke kantor gereja, sedang aku tetap duduk menunggu. Nasib jadi staf. Haha.

Bang Dedi, mulai memperbaiki bagian-bagian motor yang rusak. Tak lama kemudian, dia bilang: “tunggu sebentar ya, aku keluar beli oli, busa filter, dan busi.” “Oke bang Dedi”, jawab ku.

Aku masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Aku berpikir sejenak: “kenapa engga aku pakai waktu ini untuk menulis blog saja ya? Tapi, apa yang mesti aku tulis?”

Lalu, terbesit ide untuk menulis cerita ini. Setelah menentukan judul, aku pun mulai menulis di handphone. Aku jarang menulis blog di handphone. Lebih seringnya menulis di notebook. Ternyata, menulis di handphone engga begitu leluasa dibanding menulis di notebook. Aku jadi mengerti sekarang penderitaan sahabat ku Dion, ketika menulis artikel blog di handphonenya. Haha.

Pukul 14.30 WIB, bang Dedi datang membawa barang-barang yang baru ia beli. Dan dia meneruskan pekerjaannya, sedang aku meneruskan cerita ku.

Pukul 16.00 motor belum selesai diservice, karena masih ada satu item barang, yaitu busa filter yang belum kepasang. Ternyata, waktu bang Dedi keluar beli tadi, barangnya sedang habis. Wkwk.

Pukul 16.15 WIB bang Dedi keluar lagi untuk beli barang yang masih kurang tadi. Dan baru kembali pukul 15.30. Ternyata, yang bikin lama adalah bang Dedi keliling toko sperpat motor yang ada di Jembatan Lima. Baranya sudah engga diproduksi lagi, jadi sudah langka. Tapi, beruntung dapat barangya.

Bang Dedi meneruskan pemasangan busa filternya. Akhirnya, motor pun selesai diservice tepat pukul 16.45 WIB. Hore.

Tapi, kini masalah baru datang, di luar sedang hujan deras di sertai petir. Haha. Aku harus menunggu lagi; menunggu hujan berhenti. Lalu, pergi ke pom bensin untuk mengisi bensin.

Pengalaman menunggu memang terasa jenuh dan membosankan, entah menunggu kendaraan kita diservice, menunggu jemputan, menunggu keberangkatan kereta api atau pesawat. Kita beranggapan seolah-oleh sedang membuang-buang waktu. Padahal, kalau kita bisa memanfaatkan momen menunggu ini dengan baik, maka momen yang dianggap membosankan dan tak berguna tadi, berubah menjadi sesuatu yang berharga.

Terima kasih sudah membaca cerita ku hingga selesai. Jika kalian merasa terinspirasi dari cerita ini, mari bagikan juga kepada orang lain, supaya mereka juga mendapat inspirasi darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini, agar kalian engga ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

8 Cara Menjadi Pribadi Yang Menarik

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Jika kalian diminta memilih antara roti yang baik dan roti yang kadaluwarsa, mana yang akan kalian pilih? Tentu, roti yang baik, bukan? Trus, kalau kalian dihadapkan pada dua orang yang memiliki kepribadian yang baik dan yang buruk, mana yang akan kalian jaddin pacar? Tentu, orang dengan kepribadian baik, bukan? Seperti itulah manusia normal, mereka menginginkan sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri.

Untuk menjadi pribadi yang baik atau menarik bagi orang lain itu tidaklah mudah. Kalian perlu tahu bagaimana cara menjadi pribadi yang baik dan menarik, sehingga orang lain menyukai kalian. Berikut adalah 8 cara bagaimana menjadi pribadi yang menarik.

Milikilah Rasa Hormat

Hormat adalah menghargai atau perbuatan yang menandakan rasa khidmat seperti menyembah dan menunduk. Rasa hormat adalah modal utama agar menjadi pribadi yang menarik. Orang yang memiliki rasa hormat, pasti tidak akan meremehkan sesamanya. Ia akan memperlakukan sesamanya seperti ia memperlakukan dirinya sendiri. Banyak sekali contoh sikap saling menghormati seperti bertegur sapa di dunia nyata dan di dunia maya, berjabat tangan bila bertemu, saling menolong, dan mau mendengarkan pendapat sesamanya.

Milikilah Kelemahlembutan

Kelemahlembutan adalah bentuk sikap rendah hati di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap ini, tidak akan mudah tersinggung dan marah, bila disakiti. Musa dan Yesus adalah contoh pribadi yang lemah lembut. Musa tidak melawan bangsa Israel yang bersungut-sungut, tetapi menyerahkan semua itu kepada Tuhan. Tidak heran bila ia disebut sebagai orang yang sangat lembut hatinya (Bil. 12:3). Yesus juga tidak marah ketika murid-murid meninggalkan-Nya; Ia tidak marah ketika prajurit Romawi menyiksanya secara brutal. Sebaliknya, Ia mengampuni mereka. Itu sebabnya, Ia mengajak kita untuk belajar pada-Nya. Jika kalian ingin menjadi pribadi yang menarik, maka milikilah kelemahlembutan (Mat. 11:29).

Tunjukkan Keunikan dan Kelebihan

Semua orang yang terlahir ke dalam dunia ini, tentu mempunyai kelemahan. Tetapi, jangan pernah tunjukkan kelemahan kalian di hadapan orang lain. Tunjukkan bahwa, kalian memiliki keunikan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kalau kalian belum tahu apa yang menjadi bakat dan talenta kalian, teruslah menggalinya hingga ketemu. Jika sudah nemu, tunjukkanlah itu kepada orang lain. Ketahuilah bahwa, orang lebih tertarik kepada orang yang penuh rasa percaya diri, daripada orang yang pesemis.

Berbagi Ilmu dan Mimpi

Berbagi ilmu dan mimpi bukan sesuatu yang tidak baik. Justru baik. Ceritakanlah kepada orang lain apa yang kalian ketahui dan kuasai tentang suatu bidang. Ceritakanlah juga mimpi dan cita-cita kalian. Siapa tahu, ilmu dan mimpi kalian itu menginspirasi orang lain. Siapa tahu juga, ada orang yang mempunyai mimpi yang sama, sehingga kalian bisa menggapainya bersama-sama. Kalau kalian ingin menjadi pribadi yang menarik, jangan pelit untuk berbagi ilmu dan mimpi.

Jangan Berkhayal

Memang seseorang harus punya mimpi dan cita-cita, tapi bukan khayalan atau angan-angan. Banyak orang suka berkata: “Seandainya aku jadi orang kaya, pasti aku akan beli rumah dan mobil”, “seandainya aku punya banyak uang, pasti aku masuk di sekolah atau universitas terbaik”, dan lain sebagainya. Orang yang bijak akan memanfaatkan waktu produktifnya dengan baik, bukan dengan duduk berkhayal yang tak jelas. Stop berkhayal, bila kalian mau jadi pribadi yang menarik!

Milikilah Keberanin

Tantangan atau masalah adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam perjalanan hidup yang silih berganti. Tantangan tidak perlu ditakuti, apalagi disesali, karena itu bisa menjadi pelajaran yang berharga. Tantangan datang tanpa diundang, tanpa diduga, ia datang begitu saja, tapi tidak perlu membuat kita ciut. Orang yang menarik adalah mereka yang berani dengan tantangan. Percayalah, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tertarik dengan para panakut. Orang penakut atau pecundang, justru akan dipandang lemah oleh orang lain. Semakin tinggi keberanian kalian dalam mencoba sesuatu yang baru, maka semakin tinggi pula pujian yang akan kalian dapatkan.

Berikanlah Pujian

Pada dasarnya, manusia ingin dipuji. Karena pujian, ibarat air segar yang dapat menghilangkan rasa haus dalam diri seseorang. Jika kalian melihat kesuksesan seseorang, barikanlah pujian yang sewajarnya kepadanya. Jangan sampai pujian yang diberikan, justru membuat orang itu terlena dan merusak karakter yang mulia. Maka, baik yang memberi pujian, maupun yang mendapat pujian, harus selalu berhati-hati. Bentuk-bentuk pujian bisa dengan kata-kata atau memberikan barang atau benda yang disukai seseorang.

Lakukanlah Apa yang Kalian Ingin Orang Lain Lakukan kepada Diri Kalian

Rumusnya sangat sederhana, jika kalian ingin dicintai oleh orang lain, maka kalian juga harus mencintai orang lain tersebut. Jika kalian ingin dianggap penting oleh orang lain, maka kalian juga harus menganggap penting orang lain tersebut. Jika kalian ingin keberadaan kalian diakui oleh orang lain, maka kalian juga harus mengakui keberadaan orang lain tersebut. Jika kalian tidak ingin disakiti oleh orang lain, maka maka kalian jangan menyakiti orang lain tersebut. Singkatnya, lakukan apa yang kalian ingin orang lain lakukan terhadap diri kalian. Dalam Matius 7:12 disebutkan:

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah itu demikian juga kepada mereka, itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

Itulah 8 cara bagaimana menjadi pribadi yang menarik bagi orang lain. Tentunya, kalian masih bisa menambahkan daftarnya dengan memberi komentar di bawah ini.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ku ini, bagikanlah kepada orang lain, agar mereka pun mendapat manfaat darinya. Terakhir, jangan lupa follow blog ini, agar kalian tidak ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

4 Persiapan Penting Yang Mesti Diketahui Sebelum Memulai Bisnis

Gambar Diambil oleh Billy Steven Kaitjily

Pendahuluan

Mutia Ulfah, dalam artikelnya berjudul “Motivasi Berwirausaha Generasi Millenial” mengatakan bahwa, jumlah entrepreneurs di suatu negara dianggap sebagai indikator kemajuan suatu negara. Semakin tinggi jumlah entrepreneurs, maka semakin tinggi pula tingkat kemajuan negara tersebut. Syarat untuk menjadi negara maju, yakni apabila negara tersebut memiliki jumlah entrepreneurs di atas angka 14% dari rasio penduduknya. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh WorldEconomic Forum tahun 2019, sepertitiga dari generasi muda Indonesia, dengan rentang usia 15-35 tahun, ingin menjadi pembisnis. Apakah kalian tertarik menjadi pembisnis? Jika iya, maka kalian perlu mengetahui 4 persiapan penting, sebelum memulia sebuah bisnis. Berikut penjelasannya.

Persiapan Spiritual

Ada orang yang enggan terjun ke dalam dunia bisnis, karena menganggap dunia ini kotor dan jahat. Emang sih, ada pembisnis yang kotor, dan jahat tetapi ada juga loh pembisnis yang bersih.

Ada pula yang menganggap bisnis itu sekuler. Aku pribadi, tidak setuju dengan anggapan ini, sebab menurut ku, Tuhan bisa memakai pekerjaan apa pun, termasuk bisnis sebagai sarana pemberitaan Injil. Dalam Roma 11:36 berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Jadi, pekerjaan atau bisnis berasal dari Tuhan.

Baca Juga: Pemikiran Yang Miring Tentang Pekerjaan

Cornelius Wing mengatakan bahwa, kita dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam bisnis kita, apabila menerapkan prinsip-prinsip firman Tuhan. Dalam Kolose 3:23 disebutkan: “apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Hal terpenting dalam menjalankan bisnis adalah melibatkan Tuhan di dalamnya. Ir. Ciputra (alm) mengakui hal ini. Ia mempercayai campur tangan Tuhan terhadap masa depan bisnisnya. Hasilnya, bisnis yang dibangunnya terus berkembang hingga hari ini. Seorang calon entrepreneurship, mesti menyadari ini sebelum ia memulai bisnisnya.

Persiapan Mental

Selain memiliki keyakinan kepada pemeliharaan Tuhan, seorang calon entrepreneurship juga perlu memiliki keberanian. Kalian mungkin pernah mendengar seseorang berkata bahwa, menjadi pengusaha itu perlu bakat. Perkataan itu ada benarnya. Bakat memang sangat diperlukan, tetapi bakat saja tidak cukup, ia mesti mempunyai keberanian mengambil risiko.

Seorang teman baik ku, belum lama ini, membuka usaha kecil, yakni warung makan ayam lalapan dan bakso. Padahal, dia begitu sibuk melayani di gereja dan mengajar di universitas. Kalau dia tidak punya keberanian yang cukup, tidak mungkin dia membuka usaha tersebut. Puji Tuhan, usaha yang dirintisnya itu berkembang.

Persiapan Modal Usaha

Tidak hanya persiapan spiritual dan mental, seorang calon entrepreneurship perlu memiliki modal usaha yang cukup. Modal usaha ini bisa didapat melalui tabungan pribadi, pinjaman pribadi, penggalangan dana, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, ketika aku memulai bisnis blog menggunakan platform WordPress, maka aku harus punya modal awal untuk membeli hosting dan domain. Artinya, ada harga yang dibayar. Prinsip ini, berlaku dalam bisnis apa pun.

Jangan takut untuk bayar harga, apabila kalian ingin bisnis kalian berkembang.

Persiapan Teknis

Persiapan spiritual, mental, dan modal usaha saja tidak cukup, seorang entrepreneurship juga perlu persiapan teknis. Persiapan teknis di sini, lebih ke arah marketing, promosi, dan kepemimpinan.

Di samping persiapan materi, kalian juga perlu mengetahui dengan baik, siapa saja yang bakal menjadi target potensial pasar kalian. Pemahaman yang baik terkait pasar potensial, akan membantu kalian saat menentukan strategi pemasaran yang tepat. Jangan sampai, produk yang kalian kemas dengan susah payah itu, malah menumpuk di gudang, karena kalian tidak mengenal pasar potensial dengan baik.

Selain itu, kalian juga perlu berjejaring. Berjejaring merupakan modal usaha yang paling utama saat ini. Kalian bisa memanfaat media sosial yang ada seperti facebook, Instagram dan TikTok untuk menarik sebanyak mungkin teman. Nah, teman-teman di media sosial inilah yang nantinya membantu kalian mempromosikan bisnis kalian. Maka, bangunlah jejaring sebanyak mungkin sekarang juga, sehingga ketika tiba waktunya kalian berbisnis, sudah ada jaringan yang mendukung bisnis kalian.

Aspek teknis ini, relatif lebih mudah untuk dipelajari. Misalnya, lewat buku, seminar, dan berbagai pelatihan atau kursus tentang memulai bisnis. Kalian juga bisa mempelajari aspek teknis ini dari pengusaha-pengusaha lain yang sudah berhasil. Kalau kalian ingin menjadi seorang blogger atau youtuber yang sukses, misalnya, maka belajarlah atau bergurulah pada para blogger atau youtuber yang telah sukses.

Aku pikir itu dulu yang bisa ku sampaikan. Kalau kalian punya pertanyaan, silahkan komen di kolom komentar di bawah ini ya. Dan jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ku ini, mari bagikan tulisan ini ke orang lain, supaya mereka pun mendapat manfaatnya. Terakhir, jangan lupa untuk follow blog ini, agar kalian tidak ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

Engga Sengaja Nemu Handphone di Jalan, Aku Harus Bagaimana?

Gambar Diambil oleh: Billy Steven Kaitjily

Pernah engga kalian berpergian dan engga sengaja menemukan sesuatu barang milik orang lain di jalan? Pasti sebagian dari kalian yang membaca tulisan ini, pernah mengalaminya. Apakah kalian akan mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya? Seorang teman pernah bercerita bahwa, beberapa tahun yang lalu, dirinya pernah temukan handphone merek Nokia di jalan raya, tetapi engga dikembalikan. Kartunya dibuang dan handphonenya jadi milik pribadi. Wah, parah sekali teman ku ini. Haha.

Aku juga punya pengalaman yang mirip dengan teman ku (mungkin juga sama dengan kalian?). Begini kisahnya. Pada tanggal 1 April Kemarin, aku sedang dalam perjalanan mengantar Ani ke Kemang, Jakarta Selatan. Kami berangkat dari kontrakan, Meruya Utara, sekitar pukul 12:15 WIB. Ketika melintasi Jalan Kavling, Meruya Selatan, aku melihat handphone milik pengendara motor Vario di depan ku, jatuh ke jalan raya. Pengendara tersebut, engga menyadarinya dan terus berjalan.

Baca juga: RIP Samsung Galaxy Tab A8

Saat itu, seorang penjual makanan, berlari ke tengah jalan dan mengambil handphone tersebut. Tetapi, aku menghampirinya dan meminta handphone itu. Aku bilang bahwa, aku akan mengejar si pengendara tadi dan mengembalikannya. Setelah dikejar, ternyata aku kehilangan jejaknya. Ya sudah, aku teruskan perjalanan ke Kemang.

Dari Kemang, aku balik ke kontrakan. Setelah tiba di kontrakan, aku cek dong handphone yang tadi, ternyata mereknya Samsung Galaxy J5 Prime. Aku teruskan buka handphonenya, sudah banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dari pemilik handphone tadi. Aku sengaja diamin, agar aku bisa fokus mengerjakan tugas-tugas ku, hingga malam hari.

Setelah pulang jemput Ani dari Kemang, aku baru buat janji dengan pemilik handphone tadi. Malam itu, di depan Gerbang Vila Meruya, aku call ke salah satu kontak keluarganya. Yang terima adalah istrinya, aku bilang supaya datang ambil handphonenya sekarang di depan Gerbang Vila Meruya. Lalu, tidak lama kemudian, 4 orang bapak-bapak datang menghampiri ku, ternyata mereka pemilik handphone tadi dan merupakan warga Meruya Selatan.

Aku sampaikan dong kronologinya gimana. Setelah itu, aku serahin handphone ke pemiliknya. Sang pemilik sangat berterima kasih atas kebaikan hati ku. Untuk membalas kebaikan itu, beliau memberi ku uang sebesar Rp. 100.000. Katanya, “ini untuk ongkos bensinya Pak.” Aku sudah menolaknya, tapi beliau tetap ngotot. Ya sudah, mungkin karena aku berjasa ya, makanya beliau kasih uang itu. Sebelum kami berpisah, aku sempat mendengar beliau berkata: “rejeki ku”.

Ya, beliau tentu sangat beruntung karena handphonenya bisa kembali ke tangannya dalam keadaan utuh. Mungkin, beliau sempat berpikir kalau handphonenya engga bakal kembali atau rusak dan karena itu iklas. Tetapi, di Jakarta, ternyata masih ada orang baik. Masih ada orang jujur seperti aku. Wkwk.

Pesan ku ke kalian, bila menemukan sesuatu barang kepunyaan orang lain, kembalikanlah itu kepada pemiliknya. Bersikaplah jujur. Percayalah, orang yang jujur pasti hidupnya diberkati oleh Tuhan.

Itulah kisah ku, bagaimana dengan kisah mu?

Terima kasih sudah mempir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat berkat dari tulisan ini, mari bagikan juga kepada orang lain, agar mereka mendapat berkat dari tulisan ini. Jangan lupa untuk follow blog ini ya, agar kalian tidak ketinggal tulisan terbaru.

Andalan

Anak Remaja Anda Bingung Menentukan Karier? Lakukan 2 Hal Ini Sekarang!

Sumber Gambar: Pinterest

Dalam masa hidupnya, remaja atau pemuda pasti diperhadapkan pada pilihan-pilihan penting. Pilihan-pilihan yang diambil akan memengaruhi masa depannya kelak. Pilihan-pilihan penting yang diambil antara lain: memilih jurusan kuliah, memilih pasangan hidup, dan memilih karier atau pekerjaan. Dalam tulisan kali ini, aku akan membahas masalah pilihan karier bagi seorang remaja atau pemuda dan bagaimana peran orangtua di dalamnya.

Ada seorang anak remaja yang aku kenal baik, saat ini, ia duduk di bangku SMA kelas 2. Aku pernah bertanya: “nanti setelah lulus SMA, kamu mau kuliah apa?” Ia menjawab: “aku belum tahu sir. . . mungkin kuliah IT”. Di lain kesempatan, aku bertemu dengan seorang pemudi gereja, yang aku kenal baik, dan bertanya pertanyaan yang serupa: “setelah lulus kuliah nanti, mau kerja apa?” Dia menjawab: “lihat saja nanti”.

Jawaban kedua orang di atas, mencerminkan kebingungan yang mendalam berkenaan dengan masa depan mereka. Jika situasi ini, terus dibiarkan, maka dapat dipastikan bahwa, setelah terjun dalam dunia perkuliahan atau pekerjaan, mereka akan mengalami kesulitan, kekecewaan, dan bahkan frustasi, oleh karena jurusan atau pekerjaan yang dipilih tidak sesuai dengan minat mereka.

Sebagai remaja atau pemuda, kamu harus tahu betul di mana “tempat” kamu dalam hidup ini. Yang aku maksudkan dengan “tempat” adalah suatu kehidupan yang berjalan sesuai panggilan yang diberikan Tuhan bagi kamu. Pemahaman yang jelas akan “tempat” di dalam hidup, akan membuat kamu berakar kuat dalam menjalani kehidupan. Kamu tidak bingung dan mencari-cari arah, karena kamu tahu dengan jelas arah mana yang mesti ditempuh. Nah, untuk mewujudkan ini, kamu harus didampingi orangtua mu.

Lantas, seperti apa peran orangtua dalam mendampingi anak remajanya untuk mengambil keputusan karier? Setidaknya, ada 2 tugas penting yang harus dilakukan.

Pertama, sejak anak berusia sekitar 15-16 tahun, orangtua harus mulai mengajak anak remajanya berbicara tentang minat dan kemampuannya serta memberikan motivasi untuk mengembangkan apa yang disukainya. Orangtua harus dapat mengusahakan sarana demi mengembangkan minat anak. Misalnya, kalau anaknya berbakat dalam bermain musik, maka orangtua harus memberinya les music, sehingga kemampuan bermain musik terus terasah. Kalau kemudian hari, anak ingin memasuki universitas impiannya, maka orangtua harus mendukungnya. Dorothy Law Nolte dan Rachel Harris mengatakan, “Kita (orangtua) tidak boleh mendorong mereka memasuki universitas mana pun untuk memenuhi impian kita”. Biarkan mereka memilih jalurnya sendiri.

Pada masa ini, jika anak remaja kurang mendapat perhatian dan tanggapan positif atas apa yang dia lakukan, maka anak tidak akan pernah mengetahui kemampuannya. Akibatnya, anak ini akan bertumbuh tanpa tahu apa kemampuan dan minatnya.

Kedua, orangtua pada masa ini, harus dapat mulai menyediakan informasi yang cukup tentang berbagai jenis pekerjaan, memperkenalkan anak remaja pada situasi pekerjaan atau orang dengan profesi bidang tertentu. Hal ini, akan memperluas wawasan anak terhadap bidang pekerjaan. Anak pun akan menyadari dan mengerti bidang apa yang ia sukai atau tidak sukai. Persiapan dini seperti ini, akan menolong remaja menempatkan pilihannya pada bidang yang ia sukai dan mengembangkan minatnya.

Dua tugas penting di atas, harus mulai dilakukan oleh orangtua sejak dini, karena sangat memengaruhi perkembangan karier anak remaja atau pemuda di masa mendatang.

Terima kasih telah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, harap membagikannya kepada orang lain, sehingga mereka pun mendapat manfaat darinya. Jangan lupa follow blog ini ya, supaya kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Apa yang Piala Oscar 2022 Coba Katakan kepada Mahasiswa Teologi Seperti Saya?

Sumber Gambar: CNN Indonesia

Pendahuluan

Tampaknya, nama Will Smith, tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Ia menjadi perhatian dunia saat gelaran Piala Oscar Academy Award 2022 di Dolby Theatre, Los Angeles, Minggu 27 Maret 2022. Bagaimana tidak, sang aktor film King Richards itu, menampar koleganya Chcris Rock di atas panggung Oscar, yang disiarkan secara langsung. Bagaimana insidennya? Simak terus tulisan ini.

Kronologi Insiden

Insiden bermula ketika Chris Rock naik ke atas panggung untuk membacakan nominasi Best Docimentary Features. Sang komika itu pun, membuat beberapa candaan kepada sejumlah artis Hollywood yang jadi tamu gelaran malam itu. Salah satunya adalah membahas penampilan Jada Pinkett Smith dengan kepala botaknya, yang dimiripkan dengan film GI Jane: “Jada, aku sayang padamu. GI Jane 2, tak sabar untuk melihatnya. Wow, itu film yang bagus kok,” katanya.

Awalnya, Will Smith terlihat tertawa dengan bebarapa candaannya, namun istrinya tampak tak menyukai candaan itu. Tiba-tiba saja Will Smith naik ke atas panggung dan berjalan menghampiri Chris Rock, tanpa pikir panjang, tanpa kata-kata, ia menampar wajah Chris Rock dengan keras dan turun lagi ke tempat duduknya.

Chris Rock sempat menaggapi dengan lelucon: “Astaga, Will Smith baru saja menghajarku,” ujarnya. Sampai di sini, para penonton masih tertawa.

Dari tempat duduknya, Will Smith berteriak dengan penuh emosi: “Jangan kau sebut nama istriku!” Tiba-tiba saja para penonton menjadi hening.

Mendengar perkataan itu, Chris Rock akhirnya menghentikan candaannya dan lanjut mengumumkan pemenang nominasi. “Aku akan melanjutkannya oke? Itu benar-benar . . . malam yang terbaik di sejarah pertelevisian”, ujarnya.

Setelah insiden itu, pihak penyelenggara Academy Award sempat meminta Will Smith untuk meninggalkan ruangan. Namun, ia menolaknya dan tetap berada di ruangan hingga akhirnya diumumkan sebagai peraih Best Actor.

Permintaan Maaf

Saat menerima piala Oscar, Will Smith sempat mengucapkan permintaan maaf kepada The Academy dan rekan-rekan aktornya: “Aku ingin minta maaf kepada The Academy. Aku ingin minta maaf kepada rekan-rekan sesama nomine. Ini adalah momen yang indah dan aku tidak menangis karena memenangkan sebuah penghargaan”, ujarnya.

Will Smith juga mengucapkan permintaan maaf kepada koleganya, Chris Rock atas insiden kemarin. Permintaan maaf ini, disampaikannya lewat akun Instagram pribadinya pada . Ia menulis permintaan maaf itu dalam latar hitam polos.

“Aku ingin meminta maaf di depan publik kepadamu, Chris. Aku kelewat batas, dan aku salah. Aku malu dan tindakan ku bukanlah cerminan dari sosok pria yang kuinginkan. Taka da tempat untuk kekerasan di dunia yang penuh cinta dan kebaikan,” tulisnya.

Terancam Sanksi

Meskipun berhasil memenangkan piala Oscar 2022 untuk pertama kalinya, ada kemungkinan Will Smith kena sanksi dari The Academy. Ini karena kode etik yang dipegang oleh The Academy, yakni menjunjung tinggi kemanusiaan dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung. Dengan kode ini, maka kekerasan dalam bentuk apa pun, tidak bisa diterima.

The Academy telah mengungkapkan bahwa mereka akan mengadakan Rapat Dewan pada 18 April 2022 untuk menetapkan tindakan disiplin terhadap Will Smith atas insiden kemarin. Jadi, sangat mungkin terjadi bila Akademy mencabut status Will Smith sebagai actor terbaik.

Refleksi: Apa yang Piala Oscar 2022 Coba Katakan kepada Mahasiswa Teologi Seperti Kita?

Semua orang dapat tersinggung dan menjadi marah. Para mahasiswa teologi, meskipun belajar Alkitab, juga bisa tersinggung dan marah, jika ada yang memicunya. Will Smith, yang dikenal baik dan sopan tersinggung malam itu, karena candaan koleganya, Chris Rock. Menurutnya, koleganya itu telah menghina istrinya, yang saat itu sedang mengalami alopecia areata karena gangguan autoimun yang menyebabkan rambut rontok parah, sehingga ia pantas mendapat tamparan. Sebagian Netizen, memuji apa yang dilakukan oleh Will Smith malam itu, tetapi sebagian lagi mengutuknya.

Bila ditinjau dari segi kode etik yang dipegang oleh The Academy, maka perbuatan Will Smith jelas tak bisa dibenarkan. Ia sendiri telah mengakuinya melalui akun Instagramnya. Will Smith menyadari perbuatannya dan meminta maaf kepada Chris Rock dan The Academy. Tetapi, hukum tetap ditegakan. Will Smith harus siap menerima konsekuensi atas tindakannya itu.

Bagaimana dengan Chris Rock? Apakah ada sanksi dari The Academy terhadap sang comedian ini? Atau apakah Chris Rock akan melapor perkara ini ke kepolisian? Aku pribadi belum tahu, karena sejauh ini Chris Rock hanya berucap: “Saya masih memproses apa yang terjadi”.

Insiden Piala Oskar 2022, mengajak kita, terutama para mahasiswa teologi, untuk berefleksi tentang beberapa hal dalam hidup, sebagai berikut. Pertama, berhati-hati dalam bersosmed. Jangan membuat candaan yang berpotensi menyinggung perasaan orang lain. Bangunlah pertemanan atas dasar saling menghargai satu sama lain. Kedua, belajarlah untuk tidak main hakim sendiri, meski ada dalam posisi sebagai korban. Tuhan Yesus pernah menasihati agar kita mengasihi musuh dan berdoa untuk mereka. Sulit? Ya, memang sulit. Itulah panggilan kita menjadi mahasiswa teologi. Kita dipanggil untuk mengasihi orang yang berbeda pandangan teologi dari kita. Ketiga, belajarlah untuk rendah hati. Akuilah kalau kita salah, jangan sudah salah, tapi tetap ngotot tidak salah.

Penutup

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari share ke semakin banyak orang, agar mereka pun mendapat manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku, agar kalian tidak ketinggal tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Markus 7:31-37: Efata, Terbukalah

Sumber Gambar: Pinterest

Menarik sekali, bila kita mencermati kisah kesembuhan yang dilakukan Yesus dalam keempat Injil. Cara Yesus menyembuhkan seseorang, tidak selalu sama. Adakalanya, Ia menyembuhkan dari jarak jauh seperti anak perempuan Siro-Fenisia dalam Markus 7:24-30. Adakalanya, Ia menyembuhkan dari jarak dekat seperti yang dialami seorang tuli dan gagap dalam Markus 7:31-37. Tetapi, adakalanya, Ia sengaja tidak menyembuhkan, meskipun sudah lama dimohonkan, contohnya kisah Lazarus dalam Yohanes 11:1-39. Semua ada dalam otoritas dan rencana-Nya.

Entah seseorang menjadi sembuh atau tidak, ada maksud dan rencana Tuhan di baliknya. Ketika Tuhan berkenan menyembuhkan orang yang tuli dan gagap tadi melalui sebuah tindakan yang aneh, maka Ia menghendakinya mendengar Injil dan membagikannya kepada orang-orang di daerah asalnya, yaitu Dekapolis, supaya mereka pun menjadi percaya kepada-Nya. Rasul Paulus pernah mengatakan bahwa, manusia tidak menjadi beriman karena penampakan atau pewartaan dari malaikat, melainkan dengan mendengar sabda firman yang disampaikan oleh para penginjil (Rm. 10:17).

Sebelum kedatangan Kristus, banyak orang menutup telinga terhadap berita Injil. Banyak orang menutup mulut dan menolak berbicara tentang Injil. Kendati Tuhan, sudah berbicara terus-menerus melalui para nabi-Nya, namun umat-Nya tetap menolak, bahkan berani-beraninya membunuh para nabi utusan-Nya.

Dengan kedatangan Kristus dan kuasa penyembuhan-Nya, semua orang, baik Yahudi maupun non-Yahudi, baik Kristen maupun non-Kristen, dimungkinkan untuk mendengar dan mengkomunikasikan Injil. Mengkomunikasikan Injil, tidak melulu dengan cara mengabarkan Injil di jalan-jalan atau di pasar-pasar, tetapi juga melalui sikap hidup sehari-hari, yaitu seluruh perkataan dan tindakan kita mencerminkan Kehidupan Kristus.

Perkataan “Efata!” (artinya: terbukalah) dalam teks Markus 7:31-37 ini, menurut ku, tidak sekadar berbicara tentang bebas dari belenggu penderitaan. Tetapi, juga berbicara tentang bebas untuk menjadi saksi bagi siapa pun dan di mana pun, melalui talenta yang Tuhan anugerahkan. Bagi seorang yang berprofesi guru, misalnya, ia dapat mengajari murid-murid tentang kebenaran dengan talenta mengajarnya. Bagi seorang yang berprofesi sebagai pendeta, ia dapat melayani umat dengan talenta berkhotbah atau konselingnya. Bagi seorang blogger Kristen, ia dapat melayani orang-orang melalui tulisan-tulisan yang diupload di blognya. Sehingga, melalui pelayanan yang kita lakukan, kita berharap agar banyak orang boleh mendapat manfaat pengetahuan dan manfaat spiritual. Dan pada akhirnya, nama Tuhan dimuliakan.

Terima kasih sudah berkunjung ke blog ku. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ku ini, mari bagikan kepada semakin banyak orang, agar mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa follow blog ini, agar kalian tidak ketinggalan tulisan-tulisan terbaru.

Andalan

Panggilan Menjadi Garam dan Terang di Lingkungan Kerja

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul: “Pemikiran Miring tentang Pekerjaan”. Karena itu, aku harap, agar kalian sudah membaca terlebih dahulu tulisan sebelumnya. Baiklah, kalau sudah membaca, aku akan mulai pembahasan ini.

Baca juga: Pemikiran Yang Miring Tentang Pekerjaan

Dalam tulisan sebelumnya, aku menulis bahwa, tujuan utama dari bekerja bukan untuk mencari nafkah, tetapi supaya melalui bekerja kita menjadi garam dan terang di lingkungan kerja kita. Harus diakui bahwa, menjadi garam dan terang di lingkungan kerja, terkadang sulit dipraktikkan, karena tantangan-tantangan yang datang dari dalam diri kita maupun dari luar diri kita. Maka itu, kita perlu memperhatikan tiga prinsip penting berikut, agar berfungsi sebagai garam dan terang dunia.

Sukai Pekerjaan

Dalam dunia pekerjaan, biasanya, akan muncul ketegangan antara kepuasan dan kewajiban. Aku akan coba jelaskan poin ini dengan sebuah pengalaman pribadi ku. Aku pernah melayani di sebuah gereja, setelah satu tahun pertama, aku mulai resah, dan ingin mencari gereja yang baru. Persoalannya adalah, di gereja yang lama, aku hanya diperbantukan di Sekolah Minggu. Sementara, passion aku adalah di pelayanan orang muda dan dewasa. Maka, langkah pertama adalah memastikan bahwa, kalian benar-benar menyukai bidang di mana kalian dipekerjakan. Atau dengan kata lain, pekerjaan/pelayanan yang kalian lakukan sekarang, sesuai dengan kemampuan/panggilan kalian.

Sebuah tanda bahwa pekerjaan/pelayanan yang kita lakukan sesuai dengan panggilan hidup kita adalah adanya kenikmatan atau kepuasan dalam melakukannya. Kalau sebaliknya, kalian merasa tidak puas, berarti pekerjaan/pelayanan itu tidak sesuai panggilan hidup kalian. Di sini, kalian boleh memilih untuk keluar dan mencari tempat kerja yang baru. Tapi, kalau kita sudah mencobanya dan pintu tetap tidak dibukakan, maka kalian harus menerima itu sebagai ketetapan Tuhan. Kalian mau tak mau, harus belajar menyukai pekerjaan tersebut. Hehe. Percayalah, ada rencana Tuhan yang indah di sana.

Yusuf adalah contoh yang baik bagaimana melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilannya. Kita tahu sama tahu bahwa, ia bekerja sebagai budak di rumah Potifar, salah satu petinggi kerajaan Mesir. Sudah barang tentu, budak bukanlah talenta/panggilannya. Tetapi, Yusuf belajar untuk menyukai pekerjaannya itu. Yusuf yakin bahwa, semua rangkaian penderitaan yang dilaluinya adalah bagian dari rencana Tuhan bagi hidupnya. Dari kisah Yusuf ini, kita belajar bahwa rencana Tuhan bagi anak-anak-Nya, terkadang harus melalui jalur yang susah.

Setia terhadap Pekerjaan

Idealnya, semua orang menginginkan bekerja dalam lingkungan yang mendukung, manajemen yang rapi, rekan-rekan kerja yang ramah dan saling menolong. Tetapi, pada realitanya, kita tidak selalu mendapatkan lingkungan kerja yang ideal seperti tadi. Malah sebaliknya, terkadang kita ditempatkan di lingkungan yang tidak kondusif sama sekali.

Biasanya, ketika berada di lingkungan kerja yang tidak kondusif, kita merasa tertekan dan tidak merasa damai sejahtera. Ketika bekerja, kita cenderung merasa malas dan tidak bersemangat. Barangkali, kita juga sudah berusaha melakukan perbaikan atau perubahan, tetapi perbaikan atau perubahan tidak terjadi dalam semalam, butuh proses yang panjang. Kalau hal-hal ini yang kalian alami, maka kalian perlu bersikap realistis. Cobalah untuk berbicara kepada atasan kalian dan mengundurkan diri secara baik-baik.

Aku pernah melayani di sebuah gereja yang tidak kondusif, tetapi aku memilih untuk bertahan. Dalam lingkungan yang tidak baik seperti ini, aku mencoba melakukan pelayanan dengan baik. Aku mencoba untuk setia, meskipun sakit. Karena pada akhirnya, yang Tuhan tuntut dari kita adalah kesetiaan. Tuhan tidak melihat pekerjaan kita, Ia melihat komitmen dan kesetiaan kita.

Menghadapi permasalahan dalam dunia pekerjaan, alangkah baiknya kita mencoba untuk tetap setia dengan pekerjaan kita. Jika kita sudah mencoba bertahan dalam lingkungan kerja yang jauh dari ideal sekian lama dan akhirnya tidak tahan, maka dari pada kita memperburuk iklim kerja, sebaiknya kita mengundurkan diri saja. Mengundurkan diri adalah alternatif terakhir.

Berani Menolak Pekerjaan yang Curang

Adakala, kita mendapat tempat kerja yang kondusif, talenta/kemampuan kita dapat tersalurkan dengan baik, kita mempunyai rekan-rekan kerja yang saling menolong. Tetapi, atasan kita ternyata senang melakukan penipuan. Senang menghalalkan segala cara demi kemajuan perusahaan. Bagaimana kalian meresponinya? Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus mengambil sikap yang tegas, jika diminta untuk melakukan penyimpangan. Jangan kita silau dengan tawaran yang menggiurkan.

Perhatikan kehidupan Daniel. Ia pernah menerima tawaran yang menggiurkan dari pihak istana raja. Ia akan dijamu dengan makanan dan minuman terbaik. Tetapi, ia tidak menjadi silau oleh tawaran raja. Ia menetapkan hati untuk berpegang teguh pada keyakinan/prinsip hidupnya. Dengan tegas namun tentu sopan, Daniel menolak tawaran itu: “. . . dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya” (Dan. 1:8b).

Daniel menolak tawaran raja, bukan karena tawaran itu tidak baik dan memuaskannya, tetapi karena hal itu dapat membuatnya jatuh ke dalam dosa. Maka, dalam hidup ini, kita perlu memiliki keberanian untuk menolak segala hal yang bertentangan dengan prinsip firman Tuhan. Segala pekerjaan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa, harus ditolak. Hanya dengan begitu, kita menjadi garam dan terang dunia sebagaimana yang dikatakan dalam Matius 5:4:

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi . . . Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga”.

Penutup

Terapkanlah ketiga prinsip penting di atas, maka orang-orang di sekeliling kalian akan mendapat berkat dari hidup kalian. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini ke semakin banyak orang, agar mereka pun mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian tidak ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

Pemikiran Yang Miring Tentang Pekerjaan

Sumber Gambar: Pinterest

Kalian tentu sepakat dengan ku bahwa, bekerja sudah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Dengan bekerja, kita memperoleh uang. Dengan uang itu, kita bisa membeli sesuatu yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita. Kelangsungan hidup di dunia, ditentukan oleh kerja.

Dalam kekristenan, tujuan utama kita bekerja, sebetulnya, bukanlah untuk mencari nafkah. Tujuan utama bekerja adalah supaya Tuhan memakai kita untuk menerangi dan menggarami lingkungan tempat kita bekerja. Sehingga orang lain, akhirnya melihat bahwa kita adalah saksi-saksi Kristus, dan kemudian memuliakan-Nya. Inilah yang menjadi kerangka berpikir orang Kristen dalam memandang pekerjaan.

Akan tetapi, kerangka pikir di atas, seringkali di-salah-mengerti oleh sebagian orang hari-hari ini, barangkali, termasuk orang-orang Kristen. Aku menemukan, setidaknya, ada dua pemikiran miring tentang pekerjaan ini.

Pemikiran pertama yang miring adalah menganggap bahwa pekerjaan sekuler tidak baik, karena tidak mencerminkan sifat-sifat baik Tuhan. Maksudnya, pekerjaan-pekerjaan tersebut divonis tidak bisa menjadi sarana untuk menggarami dan menerangi lingkungan.

Sedang, kalau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rohani, barulah bisa mencerminkan sifat-sifat Allah. Barulah kita bisa berfungsi sebagai garam dan terang bagi dunia.

Sudah barang tentu, pemikiran ini, tidaklah benar. Mengapa? Karena Tuhan tidak memanggil kita untuk melakukan pekerjaan yang sama. Tuhan memanggil setiap orang dan memberinya pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang dipanggil menjadi pendeta, dokter, sales atau kurir. Pekerjaan yang dikaruniakan Tuhan itu sangat luas, sehingga tidak boleh kita mempersempit atau mengotak-ngotakannya. Dalam Kolose 3:17 dan 23 tertulis: “Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah bagi Tuhan dengan segenap hatimu . . . dan bukan untuk menusia.” Jadi, apa pun pekerjaan yang kalian lakukan hari-hari ini, dapat dipakai Tuhan untuk kemuliaan nama-Nya.

Pemikiran kedua yang miring adalah anggapan bahwa pekerjaan adalah sebuah kutukan atau hukuman dari Tuhan. Pemikiran ini tentunya tidak benar. Mengapa? Sebab sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, manusia sudah diberi tugas untuk mengelola taman Eden dan segala isinya. Tidak ada pohon yang datang dan memberi buah kepada manusia, tanpa manusia merawat dan memetik buahnya. Tuhan tidak menempatkan manusia di taman Eden untuk bersantai-santai. Tidak ada di benak Tuhan rencana yang seperti itu. Ada banyak sekali contoh ayat dalam Alkitab, yang berbicara tentang kewajiban manusia bekerja. Dalam keluaran 20:9, misalnya, Allah berfirman kepada umat Israel, supaya mereka mengerjakan segala pekerjaannya selama 6 hari.

Jadi, kalian tidak perlu bingung terhadap kedua pemikiran miring yang sudah aku sebutkan di atas ya. Sekarang, kalian hanya perlu menanamkan konsep yang benar, yaitu bahwa tujuan utama dari bekerja adalah untuk menjadi garam dan terang bagi dunia tempat bekerja. Maksudnya, melalui pekerjaan, lingkungan kita boleh mengenal Tuhan. Bagi para pekerja dan pelayan Kristen, selamat menjadi terang dan garam!

Baca Juga: Panggilan Menjadi Garam dan Terang di Lingkungan Kerja

Terima kasih telah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian terberkati dengan tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh berkat dari tulisan ini. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Guru Kristen dan Gairah

Sumber Gambar: Pinterest

Siapa itu guru? Menurut Ferry Yang, guru adalah orang yang bertugas menyampaikan suatu informasi atau mengajarkan suatu pengertian atau menuntun pikiran murid supaya memiliki kerangka berpikir yang dianggap sebagai kerangka berpikir yang baik. Dalam konteks kekristenan, maka seorang guru bertugas menyampaikan kebenaran. Itu sebabnya, jika guru belum mengerti kebenaran, maka sebaiknya dirinya berhenti menjadi guru. Tuhan Yesus mengatakan di dalam Matius 18:6-7, demikian:

“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut, Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”

Tuhan Yesus begitu keras sekali menegur ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, Saduki, dan para imam saat itu. Mengapa? Karena mereka menyesatkan. Hal ini terjadi karena mereka tidak menjadi murid kebenaran terlebih dahulu sebelum menjadi guru yang menyampaikan kebenaran kepada murid-muridnya.

Di abad ke-21 ini, kita menjumpai banyak yang seperti orang Farisi dan ahli Taurat, yaitu orang-orang yang tidak memiliki visi dan panggilan menjadi guru, mereka terpaksa menjadi guru. Mereka mengambil profesi tersebut, oleh karena tidak ada profesi lain yang dapat mereka ambil. Atau mereka mengambil profesi guru, karena urusan gaji atau perut. Guru yang demikian, menurut ku tidak pantas menjadi guru.

Guru sejati adalah guru yang memiliki visi dan panggilan menjadi guru. Guru mengerti bahwa, dirinya bukan hanya bertugas mentransfer ilmu kepada naradidik, tetapi mentransfer kehidupan. Kehidupan yang bersumber dari nilai-nilai firman Tuhan. Itulah pendidikan yang sesungguhnya.

Guru dan gairah sangat dibutuhkan dalam abad ke-21 ini. Akan sangat celaka, jika guru tidak memiliki gairah. Gairah guru adalah belajar dan mengajar, memberi pengertian dan menuntun naradidik kepada kebenaran. Gairah guru adalah membuat naradidik mengenal kebenaran dan membangun masa depannya. Guru seringkali memiliki gairah yang mengalir deras, bahkan mengabaikan dirinya. Itulah yang aku lihat dalam diri ibu ku. Jika sudah belajar dan mengajar, maka ia sering lupa makan. Meski fasilitas sekolah tempat ia mengabdi kurang memadai, ia tetap mempunyai gairah. Itulah guru yang sejati.

Kepada para guru Kristen, baik di kota maupun di desa, meskipun engkau sering dilupakan, diabaikan, dan disepelekan, tetaplah maju. Karena sesungguhnya engkaulah pejuang yang menciptakan masa depan umat manusia. Selamat berjuang dan tetap semangat.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Apabila kalian terinspirasi oleh tulisan ini, mari bagikanlah tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh berkat dari tulisan ini. Jangan lupa untuk mencantumkan nama blog aku ya. Sampai jumpa di tulisan-tulisan saya berikutnya.

Andalan

Renungan Harian Kristen Pertolongan Tuhan Tepat Waktu

Sumber Gambar: Pinterest

Suatu malam, dalam perjalanan pulang dari Kemang, Jakarta Selatan, aku dan Ani mogok di jalan, sepeda motor yang kami tumpangi mengalami pecah ban. Saat itu, kira-kira pukul 10 malam. Kami kuatir, karena berpikir bahwa, tidak mungkin jam segitu, ada bengkel yang masih buka. Lalu, kami bertanya ke salah satu satpam, yang kebetulan tidak jauh dari jalan raya. Dia menunjuk ke arah depan, katanya “ada bengkel di sana.” Dan benar, setelah kami berjalan sekitar 500 meter, kami menemukan bengkel. Lalu, motor kami pun diperbaiki dan kami bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Meruya Utara, Jakarta Barat. Pertolongan Tuhan, selalu tepat waktu.

Terkadang, kita berpikir bahwa, pertolongan Tuhan mustahil terjadi. Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, misalnya, menurut logika Nebukadnezar, tidak mungkin mereka dapat selamat dari dalam perapian yang luar biasa panasnya. Tetapi, nyatanya, mereka tidak tersentuh sama sekali oleh “si jago merah.” Mereka malah dengan bebas berjalan-jalan dalam perapian itu, karena Tuhan mengirim malaikat-Nya untuk melindungi dan menyelamatkan mereka.

“Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jaln dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa” (Dan. 3:25b).

Kalian mungkin sekarang sedang menunggu pertolongan Tuhan untuk sesuatu hal, entah kesembuhan dari sakit penyakit, menunggu kelahiran sang buah hati, menunggu kelulusan ujian anak-anak, dan lain sebagainya. Kalian mungkin merasa sudah terlalu lama menunggu datangnya pertolongan Tuhan, namun yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang. Kalian merasa frustrasi dan menyalahkan Tuhan. Ya, memang kita tidak pernah tahu caranya Tuhan menolong kita. Kita tidak tahu persis waktu-Nya Tuhan.

Meski demikian, tetaplah sabar. Tetaplah yakin bahwa, pertolongan Tuhan selalu tepat waktu. Dia tahu cara yang terbaik untuk menolong kita keluar dari permasalahan yang dialami. Tuhan tidak pernah merancangkan kita untuk sesuatu yang buruk, tetapi sesuatu yang baik. Kebenaran ini ditegaskan oleh penulis kitab Yeremia:

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yer. 29:11).

Tuhan mampukanlah kami untuk bersabar menunggu waktu-Mu. Amin

Andalan

4 Toko Buku Rohani di Jakarta yang Wajib Dikunjungi

Ilustrasi: Gedung Sarinah Jakarta, Wajah Baru Jakarta
Gambar diambil oleh Billy Steven Kaitjily

Pendahuluan

Selama aku di Jakarta, aku sering berkunjung ke toko buku rohani, entah untuk mencari referensi bacaan tugas kuliah atau sekadar refreshing. Ada 4 toko buku rohani, yang menurut ku, wajib kalian tahu dan kunjungi. Apa saja? Yuk simak penjelasan berikut.

Baca juga: 5 Manfaat Belajar Teologi Kristen

Momentum

Toko buku rohani pertama adalah MOMENTUM. Aku masih ingat betul, awal aku datang ke Jakarta, toko buku pertama yang aku kunjungi adalah MOMENTUM. Toko buku ini, berlokasi di Reformed Millennium Center, Kemayoran, Kota Jakarta Pusat. Toko buku ini, beroperasi mulai dari hari Senin hingga hari Minggu. Untuk kalian yang hanya punya waktu di akhir pekan (weekend), jangan kuatir. Kalian bisa berkunjung pada hari Sabtu pukul 10:00-14:00 WIB atau pada hari Minggu pukul 8:30-13:00 WIB.

Bagaimana dengan koleksi bukunya? Menurut ku cukup lengkap. Kalian bisa mendapatkan buku-buku rohani dalam bahasa Indonesia seperti teologi sistematika, teologi biblika, tafsiran, teologi praktika, dan PAK di toko buku ini.

Selain itu, kalian juga bisa mendapatkan buku-buku rohani dalam bahasa Inggris. Ya, hanya dengan biaya yang sedikit agak mahal. Hehe. Cuman bagi kalian yang mempunyai member card, kalian engga perlu kuatir, karena kalian akan mendapatkan potongan harga khusus sebesar 10% untuk setiap pembelian buku terbitan MOMENTUM dan 5% untuk pembelian buku terbitan lain, lumayan kan?

Sebagai catatan: kebanyakan buku-buku yang dijual di toko buku ini, bernuansa teologi Reformed. Jadi, kalau kalian yang mau mencari buku-buku yang bernuansa teologi Pentakosa/Karismatik atau Ekumene, jangan di sini ya. Hehe.

Bagaimana dengan pelayanannya? Untuk pelayanannya dijamin memuaskan. Jangan ragu untuk berkunjung ke toko buku MOMENTUM, Kemayoran, Jakarta ya.

OBOR

Toko buku kedua adalah toko buku OBOR. Aku beberapa kali, berkunjung ke toko buku ini dan membeli beberapa buku. Lokasinya di Jl. Gunung Sahari No. 91, Jakarta Pusat, tidak jauh dari toko buku Momentum. Jam beroperasi toko buku ini, yaitu pada hari Senin hingga hari Minggu. Jadi, kalian tinggal tentukan mau datang pada hari apa.

Bagaimana dengan koleksi bukunya? Menurutku cukup lengkap. Hanya saja, kebanyakan buku yang di dijual di sini adalah buku terbitan Katolik. Namun demikian, ada juga dari penerbit lain seperti penerbit BPK Gunung Mulia. Harga bukunya pun terjangkau. Untuk mendapatkan potongan harga, maka kalian perlu berlangganan dengan membuat member card. Aku sih belum sempat berlangganan, oleh karena syarat berlangganan lumayan mahal, kalau tidak salah Rp. 50.000 untuk pembuatan member cardnya. Semoga suatu waktu bisa berlangganan. Hehe.

Bagaimana dengana pelayanannya? Menurut ku sangat baik dan memuaskan.

BPK Gunung Mulia

Toko buku ketiga adalah toko buku BPK Gunung Mulia. Toko buku ini, berlokasi di Jl. Kramat Kwitang No. 22, Jakarta, tak jauh dari toko buku OBOR. Waktu beroperasinya adalah pada hari Senin hingga hari Minggu. Jadi, jangan kuatir, kalian bisa datang kapan saja, asal sesuai dengan jam beroperasi.

Bagaimana dengan koleksi bukunya? Menurutku cukup lengkap. Bagi kalian yang mecari buku-buku dari berbagai bidang studi teologi, ada di sini, kecuali pas sedang kehabisan stok. Hehe. Hanya, kebanyakan buku BPK Gunung Mulia bernuansa Injili dan Ekumene.

Di toko buku ini, kalian bisa mendapatkan diskon yang cukup besar khusus buku-buku terbitan BPK GM, yakni sebesar 20% bagi yang memiliki member card. Tetapi, kadang-kadang, BPK juga ngasih diskon besar-besaran, di moment-moment tertentu. Jadi, buat kalian yang baru pertama kali datang, jangan ragu untuk membuat member card di sini ya. Biaya member cardnya murah kok, kalau engga salah ingat, cuman 25.000.

Bagaimana pelayanannya? Menurut sangat baik dan memuaskan.

Oh ya, satu lagi yang menarik dari toko buku BPK GM ini, ada rumah makan (kantin) loh, tepat di sebelahnya. Kantin ini, menyediakan makanan khas Manado. Jadi, setelah habis beli buku, kalian bisa nongkrong sambil menikmati hidangan ala Manado. Mantap kan?. Hehe.

Immanuel

Toko buku terakhir yang aku rekomendasikan adalah toko buku IMMANUEL. Toko buku ini, berlokasi di Jl. Proklamasi No. 76, Pegangsaan, Menteng, Kota Jakarta Pusat, tidak jauh dari lokasi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Jakarta. Waktu beroperasinya mulai dari hari Senin hingga hari Sabtu. Jadi, untuk weekend, kalian hanya bisa datang pada hari Sabtu.

Bagaimana dengan koleksi bukunya? Menurutku cukup lengkap. Kalian bisa mencari buku rohani dengan berbagai bidang studi dan nuansa teologi di sini, tetapi jumlahnya sedikit terbatas. Kebanyakan adalah buku-buku yang bernuansa teologi Pentakosta/Karismatik.

Toko buku ini, juga memiliki kantin yang berada di lantai 2. Aku baru satu kali nongkrong di kantinnya bersama sahabat ku, Agus Alfrido Samosir. Hehe.

Seperti toko buku rohani yang lain, toko buku ini juga menyediakan member card bagi pengunjungnya, cuman untuk mendapatkan member card, kalian harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 500.000 untuk membeli buku-buku terbitan Immanuel. Barulah, kalian bisa mendapatkan member card. Lumayan besar sih. Tapi dengan member card ini, kalian akan mendapat potongan sebesar 25% untuk setiap buku terbitan Immanuel. Aku sih belum berlangganan. Kalian tahulah alasannya. Hehe.
Bagaimana pelayanannya? Menurut ku sangat baik dan memuaskan. Jadi, jangan ragu untuk berkunjung ke toko buku Immanuel, ya.

Kalau ditanya, toko buku rohani mana yang paling sering aku kunjungi selama di Jakarta? Aku jawab, BPK Gunung Mulia. Selain karena diskonnya besar, buku-bukunya cukup lengkap, juga lebih bersifat ekumene.

Demikian yang bisa aku bagikan tentang toko buku rohani di Jakarta. Kalau kalian ingin menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar ya.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan kepada orang lain, supaya mereka juga mendapat manfaat dari tulisan ini.

Andalan

Renungan Harian Kristen Apa Dan Bagaimana Hidup Yang Saleh Itu?

Sumber Gambar: Unplash

Apa Itu Hidup yang Saleh?

Menurut teolog terkenal, Cornelius Plantinga Jr., hidup yang saleh atau kehidupan Kristen adalah cara hidup kita yang seharusnya (benar) di hadapan Tuhan. Kesalehan hidup ini, mencakup mengakui dan taat pada ajaran yang benar, yang bersumber atau berpusat pada Alkitab. Menurutku, kesalehan hidup yang dijalani tanpa pengakuan dan ketaatan pada kebenaran Yesus Kristus (Alkitab), bukanlah hidup yang saleh. Itu adalah hidup yang penuh mitos atau tipuan belaka. Hidup yang demikian, tidak layak untuk dihidupi.

Bentuk-Bentuk Hidup yang Saleh

Lantas, bagaimana bentuk dari kehidupan yang saleh itu? Aku mencatat di sini, beberapa bentuk yang dapat kalian praktikkan dalam hidup sehari-hari. Tentunya, kalian masih bisa menambahkan daftarnya.

Bentuk-bentuk hidup saleh, yaitu: berdoa (Mat. 6:6), berpuasa (Mat. 6:16-18), membaca dan merenungkan Alkitab (Yos. 1:8), membaca buku-buku rohani, beribadah (1 Tim. 4:7), menolong orang yang lapar (Yes. 58:10), dan membela orang yang tertindas hak-haknya (Mzm. 140:13). Semua bentuk disiplin hidup yang saleh ini, dipraktikkan oleh Yesus dan murid-murid/rasul-rasul-Nya semasa hidup mereka di dunia.

Disiplin devosi ini, telah menolong mereka dari serangan-serangan Iblis dan membuat pelayanan mereka efektif. Maka dari itu, baiklah kita juga mempraktikkannya, dan lihatlah manfaat besar yang akan kita dapatkan.

Tantangan Mempraktikkan Hidup yang Saleh

Mungkin kalian bertanya, apa mungkin manusia mempraktikkan kehidupan yang saleh dalam dunia yang penuh dengan tantangan dan cobaan ini? Aku jawab, ya! Dalam surat Petrus yang kedua, disebutkan di situ bahwa:

“Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib” (2 Ptr. 1:3)

Tuhan telah menganugerahkan segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh. Akan tetapi, dalam menjalankannya kita perlu kuasa Tuhan. Dalam bagian Alkitab yang lain disebutkan bahwa, Roh Kudus atau Roh Kebenaran, akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Jadi, kita tidak berjuang atau berusaha sendirian untuk mencapai hidup yang saleh dalam dunia ini, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus. Oleh sebab itu, rasul Paulus menasihati:

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.  Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”  (Gal. 5:16-17).

Asal kita mau dipimpin oleh Roh Kudus (bukan ambisi daging kita) setiap hari dan di mana pun, maka hidup yang saleh bukan hanya impian atau mimpi belaka, tetapi bisa terwujud.

Hidup yang Saleh adalah Sebuah Perintah

Hidup yang saleh merupakan sebuah perintah, bukan sekadar saran atau himbauan. Dari mana aku tahu kebenaran ini? Dalam surat Petrus yang pertama, disebutkan di situ bahwa:

“… hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15-16).

Tuhan menuntut kita hidup kudus atau saleh. Karena itu, kita mesti berusaha dan berjuang sedemikian rupa, tentu dengan pertolongan kuasa-Nya. Terhadap orang-orang yang hidup dalam kesalehan atau ketaatan kepada Tuhan, Ia akan menganugerahkan kepada mereka janji yang berharga. Ia berkata dalam Matius 25:21:

“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Sungguh baik Tuhan kita, Dia bukan saja memberi perintah untuk hidup dalam kesalehan, tetapi juga janji yang berharga bagi mereka yang setia menjalankannya.

Penutup

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada orang lain, agar mereka juga mendapat manfaat dari tulisan ini. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian tidak ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen Taklukkanlah Latar Belakangmu Dan Kejarlah Latar Depan-Nya

Sumber Gambar: Pinterest

Semua orang pernah melakukan kesalahan atau kegagalan di masa lalu. Terkadang, kesalahan atau kegagalan itu sangat besar dan berat, sehingga membuat mereka putus asa dan menyerah. Mengapa manusia sulit bangkit dari masa lalunya? Mengapa manusia sulit menaklukkkan latar belakangnya? Menurutku, hal itu terjadi, karena manusia tidak menyadari bahwa, ia diciptakan sebagai penakluk. Dari mana aku tahu kebenaran ini? Mari kita lihat nas Kejadian 1:28:

“Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Ayat di atas, secara gamblang menunjukkan bahwa, rencana Tuhan bagi manusia adalah, supaya ia memenuhi dan menaklukkan bumi. Menaklukkan bumi di sini, dapat diartikan sebagai menaklukkan keadaan atau latar belakang. Keadaan atau latar belakang kita harus ditaklukkan, sebab kalau tidak ditaklukkan, maka keadaan atau latar belakang itu yang akan menaklukkan kita. Terdapat banyak contoh di dalam Alkitab, yang memperlihatkan orang-orang pilihan Tuhan yang berusaha untuk menaklukkan latar belakangnya seperti Yefta, rasul Petrus, atau rasul Paulus. Latar belakang kehidupan rasul Paulus, boleh dibilang brengsek. Bagaimana tidak, ia yang menjadi dalang dari pembunuhan umat Tuhan. Tapi, ia mampu menaklukkan latar belakangnya bersama Tuhan. Ia menulis dalam salah satu suratnya, demikian:

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang yang di hadapanku” (Flp. 3:13)

Mengapa rasul Paulus memilih melupakan atau menaklukkan latar belakangnya? Karena ia menyadari bahwa, ia diciptakan sebagai seorang penakluk, bahwa ia diciptakan untuk sebuah tujuan, bahwa ia mempunya latar depan yang harus dikejar. Ketika kita menyadari bahwa, kita mempunyai latar depan, maka apapun keadaan atau situasi yang kita alami baik di masa lalu, masa kini, maupun masa yang akan datang, kita akan tetap berjalan, berlari, dan mengarahkan pandangan kita ke depan. Penulis kitab Yesaya menggambarkan orang-orang Kristen seperti burung rajawali:

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yes. 40:3)

Seperti rajawali yang naik terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya pada saat angin kencang, demikianlah seharusnya, orang-orang Kristen menguasai dan menaklukkan keadaan atau latar belakangnya. Ingat, Tuhan mempunyai rencana yang besar dalam dan melalui hidup kita, Ia menyediakan kita latar depan-Nya. Kejarlah itu!

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada orang lain, supaya mereka juga mendapat manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian tidak ketinggalan update tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen Pemimpin Inisiatif, Kreatif, dan Beriman

Sumber Gambar: Pinterest

Kabar mengenai Tuhan Yesus yang mengadakan banyak mukjizat, viral dengan begitu cepat di seluruh Galilea, Yudea, dan Yerusalem. Maka, tak heran ke manapun Tuhan Yesus pergi, orang-orang mengikuti-Nya. Mereka membawa orang sakit dan yang dirasuk setan untuk disembuhkan.

Suatu ketika, Tuhan Yesus sedang berada di sebuah rumah di Kapernaum. Orang-orang yang mengetahui keberadaannya, segera membawa sanak keluarga, kenalan, dan kerabatnya untuk disembuhkan. Banyak orang yang datang mengerumumi rumah itu, sehingga rumah tersebut menjadi sangat sesak, bahkan di muka pintu pun tidak ada tempat.

Sementara Tuhan Yesus berkhotbah, ada orang-orang yang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, yang digotong oleh empat orang. Namun, karena banyak orang yang berkerumun, mereka tidak dapat membawanya masuk. Lalu keempat orang itu pun membuka atap rumah yang ada di atas-Nya. Sesudah terbuka, keempat orang yang tak disebutkan namanya itu, menurunkan sahabat mereka yang lumpuh menggunakan tilam.

Ketika Tuhan Yesus melihat iman keempat orang itu, berkatalah Ia kepada orang lumpuh tersebut: Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” (Mrk. 2:5). Kemudian, Ia juga memberi perintah kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itupun bangun bangun segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi keluar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat” (ay. 11-12).

Orang lumpuh itu, mendapat dua berkat yang ia sangat syukuri, yakni berkat keselamatan jiwa dan kesembuhan tubuh. Dosa yang diampuni dan penyakit yang disembuhkan, juga pernah dimohonkan oleh raja Daud dalam Mazmur 103:1-3. Akan tetapi, yang perlu dicatat di sini adalah orang lumpuh itu memperoleh kasih karunia Tuhan, berkat keempat sahabatnya yang memiliki inisiatif, kreasi, serta iman yang kuat. Apa maksudnya?

Orang yang berinisiatif adalah orang yang memanfaatkan apa yang ada dan tidak bersungut-sungut akan apa yang tidak ada. Orang yang berinisiatif adalah orang yang cepat bertindak dan bukan lamban. Orang-orang yang berinisitif ditandai oleh semangat yang tinggi, tekun, dan ulet. Mereka melanjutkan pekerjaannya dan menyelesaikannya, sementara orang lain menyerah dan berhenti.

Sedangkan orang yang kreasi/kreatif adalah orang yang terus-menerus mencari dan mencoba cara yang baru dan lebih efisien dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Mereka adalah orang-orang yang begitu cepat menyelesaikan masalah, sebelum muncul ke permukaan. Mereka selalu menjadi sumber berbagai gagasan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dan terakhir, orang yang beriman, adalah orang yang selalu melibatkan Tuhan dalam segala upayanya. Mereka sadar bahwa, tanpa campur Tuhan, pekerjaan yang dilakukannya tidak mungkin berhasil. Mereka memahami ungkapan: “Ora Et Labora, Berdoa dan Bekerja.”     

Ketiga elemen ini, harus ada dalam diri kita, sebagai para pemimpin Kristen masa kini. Jika ketiga elemen penting ini ada dalam diri kita, maka dipastikan kita akan membawa pengaruh dan perubahan besar bagi lingkungan, baik keluarga, gereja, maupun bangsa.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari membagikannya kepada orang lain, sehingga mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: 2 Cara Pandang tentang Kematian

Sumber Gambar: Piterest

Semua manusia, bahkan semua makhluk hidup di bumi, akan berujung pada titik akhir, yakni kematian. Hal ini merupakan konsekuensi dari dosa. Ketika Adam dan Hawa diciptakan di taman Eden, salah satu perintah Tuhan kepada mereka adalah ancaman kematian. Penulis kitab Kejadian mencatat: “Lalu Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17).

Dapat dibilang bahwa sejak Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan, maka saat itulah, kematian menjadi sesuatu yang pasti atau sesuatu yang berlaku bagi semua orang. Realitas kematian juga dinyatakan oleh penulis kitab Pengkhotbah: “… nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, … Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari… Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan…, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.” (Pkh. 9:2-3). Penulis kitab Ibrani mengungkapkan hal yang sama: “Dan sama seperti manusia diciptakan ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibr. 9:27).

Manusia memandang realitas kematian ini berbeda-beda, ada yang memandangnya secara negatif dan ada yang memandangnya secara positif. Dua cara pandang ini akan dijelaskan sebagi berikut:

Pandangan Negatif

Cara pandang pertama, yakni cara pandang yang negatif, memandang kematian sebagai akhir dari segalanya. Kelompok orang yang memiliki pemikiran seperti ini berpendapat bahwa, segala aktivitas manusia akan berakhir di liang lahat. Karena itu, marilah bersenang-senang, mari makan dan minum, sebab besok kita mati. Inilah yang dilukiskan di dalam Yesaya 22:12-13: “Pada waktu itu Tuhan, Tuhan semesta alam menyuruh orang menangis dan meratap dengan menggundul kepala dan melilitkan kain kabung; tetapi lihat, di tengah-tengah mereka ada kegirangan dan sukacita, membantai lembu dan menyembelih domba, makan daging dan minum anggur, sambil berseru: Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”

Tuhan menyuruh umat Israel untuk bertobat dari perbuatan dosanya, supaya diberkati baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan yang akan datang (kekal). Namun umat-Nya tidak menghiraukan perintah-Nya. Yang mereka lakukan adalah bersenang-senang. Sebab mereka berpikir, kehidupan yang dijalani sekarang hanyalah sebentar, sebab setelah itu mereka akan mati. Mereka berseru: Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”

Kalau kita termasuk kelompok orang yang memiliki falsafah hidup bahwa, kehidupan hanyalah sekarang dan tidak ada kehidupan sesudah mati, maka kita akan tergoda menjalani hidup sesuka hati, termasuk melakukan tindakan-tindakan yang jahat. Hidup yang seperti ini, kata John Piper, adalah hidup yang sia-sia. Namun ini bukan satu-satunya cara pandang. Masih ada cara pandang yang lain, yang lebih baik. Dan ini yang akan saya bahas selanjutnya.

Pandangan Positif

Cara pandang kedua, yakni cara pandang positif yang memandang kematian bukanlah akhir dari segalanya. Perhatikan kata-kata dari penulis kitab Pengkhotbah berikut: “Ia membuat segala sesuatu pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh. 3:11).

Ayat di atas, mengungkapkan bahwa, Tuhan Allah menaruh dalam hati manusia “kekekalan.” Apa artinya? Itu berarti Tuhan ciptakan kita bukan untuk satu hari, seminggu, sebulan atau sepuluh tahun, tetapi untuk selama-lamanya. Memang penulis Mazmur mengatakan bahwa, masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika manusia kuat, delapan puluh tahun. Tetapi, ini adalah masa hidup selama di bumi. Dan ini bukanlah akhir dari segalanya.

Tubuh jasmani kita hanyalah tempat tinggal sementara dari roh kita. Paulus menyebut tubuh jasmani sebagai “kemah,” tetapi tubuh rohani sebagai tempat kediaman atau rumah (2 Kor. 5:11). Hal serupa juga pernah dikatakan oleh Tuhan Yesus, Ia berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2).

Memandang kematian dengan cara yang positif bahwa, kematian bukanlah akhir dari segalanya, akan membuat kita menjalani hidup dengan bergairah dan terarah. Kita akan menggunakan waktu secara bijaksana dengan melakukan hal-hal yang positif bagi banyak orang melalui talenta atau bakat yang Tuhan berikan. Pertanyaannya: Anda termasuk cara pandang yang pertama atau yang kedua?

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian terinspirasi oleh tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh berkat dari tulisan ini. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Deuterokanonika: Kebijakan-Kebijakan Salomo

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Timur sejak abad ke-16 sebagai sebutan bagi kitab-kitab dan bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci Perjanjian Lama Kristen yang tidak menjadi bagian dari Alkitab Ibrani saat ini. Istilah ini, digunakan untuk membedakan kitab-kitab dan bagian-bagian tertentu tersebut dari kitab-kitab protokanonika, yakni kitab-kitab yang menjadi bagian dari Alkitab Ibrani.

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya. Pada tulisan sebelumnya aku membahas Tambahan-Tambahan Pada Kitab Ester. Nah, di sini aku akan mengulas Kebijakan-Kebijakan Salomo, dengan jumlah pasal, yaitu 19 pasal.

Baca Juga: Deuterokanonika: Tambahan-Tambahan Pada Kitab Ester

Pasal 1

Mengenai bagaimana manusia harus hidup suci dan berkenan di hadapan Tuhan, sehingga tidak dibinasakan oleh perbuatan-perbuatan buruk mereka sehari-hari.

Pasal 2

Kenyataannya hidup manusia itu singkat, namun mereka tidak mau mendengarkan teguran/nasehat. Mata mereka dibutakan oleh kejahatan, sehingga tidak mengenal ampun. Mereka menganiaya, menyiksa, dan menindas orang yang hidup benar. Sebab mereka sendiri tidak mengenal Tuhan.

Pasal 3

Kini, Tuhan bertindak. Pengadilan Allah terbuka bagi orang benar dan orang fasik. Orang benar akan mendapakan kebahagiaan kekal, sebab jiwanya ada di tangan Tuhan. Sebaliknya, orang fasik akan menerima hukuman kekal, sebab mereka telah menolak kebenaran dan menjauhkan diri dari Allah.

Pasal 4

Berbicara tentang penyesalan dari orang fasik sebab dosa yang dilakukan tak terhitung banyaknya. “Lebih baik tidak beranak,daripada keturunan kita nanti akan lebih banyak lagi berbuat kejahatan”. Mereka cemas dan gelisah saat berhadapan dalam penghakiman itu.

Pasal 5

Hukuman Tuhan tidak bisa dinegoisasi lagi, sebab sudah terlambat.

Pasal 6

Pentingnya untuk menghargai kebijaksanaan dalam kehidupan manusia.

Pasal 7

Kedaulatan kebijaksanaan lebih kuat dibandingkan dengan kejahatan, karena kebijakan didapat dari Tuhan.

Pasal 8

Sehebatnya kepintaran manusia kalau tanpa kebijaksanaan dari Tuhan akan menjadi sia-sia.

Pasal 9

Manusia tidak dapat memahami Allah seutuhnya, karena manusia memiliki keterbatasan berpikir.

Pasal 10

Orang yang benar akan penuh dengan pengertian dan kebijaksanaan dari Allah dan kemuliaan Allah nyata di dalamnya.

Pasal 11

Mengisahkan tentang perjalanan orang Israel atas pemeliharaan Tuhan. Namun, mereka tidak menyadari, bahwa Tuhan itu ada bersama mereka. Mereka menggantikan Tuhan dengan memuja berhala.

Pasal 12

Mereka membutuhkan Tuhan hanya ketika mengalami kesusahan dan penderitaan, namun tak mau mendengarkan teguran. Kesempatan yang sangat panjang ada untuk mereka bertobat, namun dilalikan. Karena Tuhan membenci dosa, Ia mendatangkan hukuman bagi mereka.

Pasal 13

Manusia lebih mengagungkan kemuliaan dan keindahan buatan tangana manusia dibanding dengan Tuhan. Seperti lukisan-lukisan, ukiran-ukiran kayu pahatan membentuk sebuah patung yang adalah benda mati. Mereka mencintai pekerjaan tangannya sendiri.

Pasal 14

Menceritakan bahwa manusia tidak dapat menjalani kehidupan dengan baik, tertib, teratur dan terarah. Sibuk dengan karya tangannya dan pemujaan kepada berhala. Semua menjadi ambruk seperti rumah ditiup angin badai yang tak dapat dikendalikan. Hanya Tuhan sajalah yang dapat mengendalikan kehidupan manusia. Walaupun terkadang manusia sangat berdosa dengan mengabaikan peringatan dan perintah Tuhan.

Pasal 15

Allah yang baik hati dan setia, memiliki Kasih terhadap manusia. Sehingga Ia tetap sabar dengan tingkahlaku manusia yang tersesat dan penuh nafsu dosa sia-sia belaka.

Pasal 16

Mengenai kekuasaan Allah terhadap segalanya, Ia menyembuhkan dengan Firman. Para musuh dimusnahkan karena menjauhi diri kepada Tuhan.

Pasal 17

Iman manusia semakin menipis, mereka terus berbuat dosa dengan bersembunyi. Namun, mereka dihantui oleh rasa takut.

Pasal 18

Orang yang benar selalu dipelihara dan dijaga oleh Tuhan dengan memberi terang-Nya kepada mereka yang percaya.

Pasal 19

Tuhan murka terhadap orang yang berbuat jahat, sebaliknya Tuhan memuliakan umat pilihan-Nya.

Penutup

Demikian ulasan singkat tentang isi kitab Kebijakan-Kebijakan Salomo. Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen Menciptakan Pelayanan yang Berhasil, Ini Kuncinya

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Pernahkah kalian kehilangan kunci, entah kunci rumah, kunci lemari, atau kunci kendaraan bermotor? Aku yakin, sebagian dari kalian, pasti pernah mengalami salah satu yang aku sebutkan di atas. Bagaimana respons kalian saat kehilangan kunci? Pasti panik, bukan? Mengapa panik? Karena tanpa kunci tersebut, kalian enggak bisa masuk ke dalam rumah atau enggak bisa menyalakan kendaraan bermotor. Artinya, kunci tersebut sangat penting, bukan? Tanpa kunci tersebut kalian enggak bisa sampai di tujuan. Tanpa kunci tersebut kalian enggak bisa mencapai kesuksesan. Pada kesempatan ini, izinkan aku untuk berbagi mengenai kunci menciptakan pelayanan yang berhasil menurut Alkitab. Apa sih kunci pelayanan yang berhasil menurut Alkitab? Mari simak nasihat Alkitab mengenai kunci menciptakan pelayanan yang berhasil.

Jagalah Pikiran

Penulis Amsal mencatat bahwa, pikiran yang jahat, mendukacitakan Allah dan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia (Ams. 12:5). Itu berarti, mengisi pikiran dengan hal-hal yang baik, suci, dan mulia serta membaharuinya secara terus-menerus melalui doa, membaca, dan merenungkan firman adalah kewajiban setiap orang percaya, baik yang muda atau tua.

Kunci pada pikiran kita tidak berada pada tangan orang lain, tetapi pada tangan kita sendiri. Ya, kita sendiri yang memilih mengisi atau tidak mengisi pikiran kita dengan sampah kehidupan. Apa yang berada dalam pikiran kita, itulah yang menentukan seperti apa pelayanan kita kelak. Maka, pusatkanlah perhatian kita pada hal-hal yang positif sebagai anugerah Tuhan. Misalnya, kalau bos kita adalah orang yang tidak pernah berbuat adil pada kita, maka belajarlah untuk melihat hal yang positif dari tindakannya itu. Mungkin Tuhan sedang membentuk pribadi kita, agar kelak kita enggak berlaku seperti bos kita itu. Dengan cara ini, maka pelayanan yang kita lakukan, apa pun bentuknya, akan berhasil.

Jagalah Hati

Dunia di mana kita tinggali sekarang, adalah dunia yang penuh dengan banyak masalah, kesukaran, dan kesulitan yang membuat kita lekas tua, dan yang sudah tua akan lebih cepat menuai akhir kehidupannya. Karena itu, kita harus memiliki hati yang kuat dan teguh. Dalam Yohanes 16:33 tertulis demikian: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33). Itu berarti, kekuatan dan keteguhan hati kita ibarat bangunan rumah yang berdiri kokoh di atas batu karang. Sehingga angin dan banjir enggak akan mampu meruntuhkannya.

Dalam konteks pelayanan, pasti akan ada banyak tantangan yang kita hadapi. Entah tantangan dari dalam diri kita sendiri atau tantangan dari luar diri kita. Apa pun bentuk tantangan itu, kita perlu menjaga hati kita agar tetap kuat. Seperti yang dikatakan penulis Amsal: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Dengan manjaga hati, tidak hanya pelayanan kita akan berhasil, tetapi umur kita juga semakin panjang. Karena menjaga hati, sama dengan menjaga kehidupan itu sendiri.

Jagalah Kesehatan Jasmani

Merawat tubuh untuk tujuan Kerajaan Allah bukanlah dosa, karena tubuh adalah bait Roh Kudus: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Kor. 6:19). Namun merawat tubuh untuk kepuasan daging, ini yang dosa. Ini yang bahaya. Dalam Roma 13:14 tertulis demikian: “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.”

Kalau tubuh kita sehat, maka jiwa, dan roh kita juga ikut sehat. Karena tubuh, jiwa, dan roh merupakan satu kesatuan yang enggak terpisahkan. Supaya tubuh kita tetap sehat, maka kita perlu menjaga pola makan, berolahraga, dan tidur yang cukup. Dalam pelayanan Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, kita enggak pernah lihat salah satu dari antara mereka yang sakit, kan? Itu karena mereka menjaga kesehatan fisiknya. Dari mana aku ambil kesimpulan ini? Bacalah Markus 6:30-32. Maka, kalau pelayanan kalian mau berhasil, kalian perlu menjaga kesehatan fisik.

Jagalah Kesehatan Rohani

Tidak hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan rohani. Hubungan kita dengan Tuhan itu ibarat pohon dan ranting. Jika ranting tidak tertancap atau menempel pada pohon, maka akan layu dan kering. Sehingga akan dipotong, lalu dibuang ke dalam api. Karena itu, penting untuk kita melekat pada Tuhan. Daud menulis demikian: “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.”

Orang yang suka dekat atau intim dengan Tuhan, dipastikan mengetahui rencana atau kehendak Tuhan bagi hidup dan pelayanannya. Dari mana aku mengambil kesimpulan ini? Dari Mazmur 25:14, Daud Menulis: “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”

Kesimpulan

Demikian yang bisa aku bagikan bagi kalian. Tentu kalian masih bisa menambahkan daftar kunci pelayanan yang berhasil berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kalian. Tetapi, hemat aku, keempat kunci di atas, sudah cukup untuk membuat kita berhasil dalam pelayanan. Renungkan dan terapkanlah keempat kunci tersebut dan lihatlah Tuhan akan bekerja dan membuat kalian berhasil dalam pelayanan baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang. Soli Deo Gloria!

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Deuterokanonika: Tambahan-Tambahan Pada Kitab Ester

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Deuterokanonika adalah istilah yang dipakai Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen Timur sejak abad ke-16 sebagai sebutan bagi kitab-kitab dan bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci Perjanjian Lama Kristen yang tidak menjadi bagian dari Alkitab Ibrani saat ini. Istilah ini, digunakan untuk membedakan kitab-kitab dan bagian-bagian tertentu tersebut dari kitab-kitab protokanonika, yakni kitab-kitab yang menjadi bagian dari Alkitab Ibrani.

Baca juga: Deuterokanonika: Kebijakan-Kebijakan Salomo

Mimpi Mordekhai (Tambahan pada Ester 1:1)

A. 1-11: Mimpi Mordekhai. Mimpinya sendiri berkisah tentang dua naga raksasa yang bergulat satu sama lain; adanya bangsa yang akan melawan suatu bangsa yang benar dan bagaimana Allah menyelamatkan bangsa ini lewat suatu sungai besar.

12-17: Kisah mengenai Bigtan dan Teresy yang bersekongkol untuk menjatuhkan raja, dan bagaimana hal itu diketahui oleh Mordekhai. Mordekhai kemudian memberitahukannya kepada raja.

Surat Penetapan Haman (Tambahan pada Ester 3:13)

B. 1-7 berisi surat Ahasyweros untuk memunahkan semua orang Yahudi yang dititahkan di Ester 3:12-13.
8b-9a berisi pesan Mordekhai yang dititipkan lewat lewat Hatah kepad Ester, “Supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda” (Est. 4:8a).

Doa Mordekhai (Tambahan pada Ester 4:17)

C. Bagian C. 1-24 melanjutkan perintah Ester ke-pada Mordekhai untuk berpuasa bersama semua orang Yahudi yang ada di benteng Susan. Bagian1-9 berisi doa Mordekhai
10-24 berisi doa Ester.

Ester Menghadap Raja (Tambahan pada Ester 5:1-2)

D. Dalam bagian D. 1-9 berusaha menjelaskan bagaimana Ester bisa mendapatkan karunia di hadapan baginda ketika ia berusaha bertemu raja. Di Ester 5:1-2, hal ini secara sederhana dideskripsikan dengan raja “melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran,” dan “berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya kea rah Ester,” yang menunjukkan kalau Ester mendapatkan karunia untuk bertemu raja. Bagimana hal ini terjadi secara detail, dijelaskan di 1-9. Di sini, pertama-tama raja murka karena Ester masuk tiba-tiba. Ester kemudian jatuh pingsan dan hati raja diubah oleh Allah menjadi lemah lembut, dan raja berusaha mendekap Ester sampai ia siuman.

Surat Penetapan Raja Ahasyweros Mengenai Orang-Orang Yahudi (Tambahan pada Ester 8:12)

E. Bagian E. 1-21 berisi surat Ahasyweros yang memutarbalikan kebijakan yang dibuat Haman sebelumnya dalam B. 1-7. Isi surat ini adalah mengizinkan orang Yahudi untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya (bdk. Ester 8:11).

Takbir Mimpi Mordekhai (Tambahan pada Ester 10:3)

F. Bagian F. 1-11 sebagai penutup terdiri dari dua bagian. Bagian 1-10 berisi penjelasan mimpi Mordekhai. Dua naga raksasa yang dilihatnya dalam A. 1-11 adalah Haman dan Mordekhai, bangsa melawan bangsa itu adalah Persia dan Yehuda, sedang suatu sungai.

Catatan Mengenai Terjemahan Yunani

Bagian kedua, yaitu F. 11 menjelaskan bagaimana latar belakang tambahan-tambahan pada kitab Ester ini, yaitu sebagai berikut: “Dalam tahun keempat pemerintahan Ptolomeus dan Kleopatra maka Dositeius, yang menurut keterangannya adalah seorang imam dan keturunan Lewi, beserta dengan anaknya Ptolomeus membawa surat mengenai Purim ini. Surat itu dikatakannya asli dan diterjemahkan oleh Lisumakhus bin Ptolomeus, salah seorang penduduk Yerusalem.”

Penutup

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada orang lain, supaya mereka juga mendapat manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

RIP Samsung Galaxy Tab A8

Ganbar diambil oleh Billy Steven Kaitjily

Malam itu, aku bawa cukup banyak barang, ada notebook ASUS, tablet kesayangan ku, Samsung Galaxy Tab A8, Speaker aktif bermerek GMC yang baru dibeli, dan kipas angin kecil merek SEKAI dari lantai empat menuju lantai satu.

Notebook, tablet, dan speaker ditenteng dengan tangan kanan. Sedangkan kipas angin ditenteng dengan tangan kiri. Bisa ngebayangin engga ribetnya gimana?

Terus kan aku jalan pelan-pelan tuh, eh ternyata, si tabletnya lepas dan terjun bebas ke tangga keramik, karena pegangannya kurang kuat. Hampir juga si notebooknya jatuh.

Aku panik dong, trus langsung cek si tabletnya, sudah engga nyala. Bodinya pecah seperti tampak pada gambar di atas. Aku diemin sampe 10 menit, trus coba nyalain lagi. Kali ini nyala, cuman lampu LCDnya gelap dan tampak bergaris-garis.

Di situ aku sedih banget. Aku sempet nyalahin diri ku yang engga hati-hati. Ini sedikit catatan untuk kalian: jangan bawa barang banyak-banyak sekaligus, bisa bahaya. Lebih baik sedikit saja, meskipun harus bolak-balik.

Sejenak aku duduk diem di tangga sambil mengenang perjalan ku bersama si tablet kesayangan dua tahun silam. Ketika awal-awal kuliah S2, si tablet banyak memberikan pertolongan ke aku, mulai dari melakukan panggilan, melakukan penelitian, presentasi paper, penulisan blog dan e-Book, hingga melakukan bisnis online yang aku tekuni sampai sekarang.

Ke mana-mana aku SELALU mebawanya. Ke kampus, mall, taman, dll. Ketika sedang menunggu jemputan atau sedang menunggu antre, aku selalu membaca e-book yang ada di dalam tablet kesayangan. Pernah kami kuhujanan juga, untung lah tas aku punya pelindung hujan. Pokoknya, si tablet paling banyak membantu ku selama kuliah.

Namun sekarang, semuanya tinggal kenangan. Semuanya tinggal cerita. Selamat jalan bet. Terima kasih sudah menemani ku selama ini.

Sebagai gantinya sekarang, aku beli Galaxy A03. Kalau enggak salah, baru launching sekitar akhir Januari 2022. Mungkin kalian bertanya, kok enggak beli tablet lagi, Bang? Jawabannya sederhana: belum cukup dana. Dananya mau ditabung untuk nikah guys. Haha.

Kalau kalian punya cerita yang mirip dengan ku, yukk ceritakan di kolam komentar. Aku akan senang bila mendengar cerita kalian.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada kerabat, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Miris Hari Perempuan Internasional

Sumber Gambar: Pinterest

Pada tahu enggak guys bahwa, pada tanggal 8 Maret lalu, Indonesia dan seluruh dunia baru saja merayakan Hari Perempuan Internasional loh. Tapi, pada momen yang menggembirakan ini, aku malah dikejutkan dengan sebuah kejadian yang memalukan dan memilukan. Begini ceritanya.

Saat itu, aku baru ngantarin Ani, pacar ku untuk mengajar. Terus pas pulang, aku mampir makan mie ayam di langganan ku, di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Asli, mie ayamnya enak banget guys.

Nah, pas sedang duduk menikmati mie ayam, tiba-tiba dua orang muda yang sudah lama duduk di sebelah ku mengambil handphone dari saku celananya dan kemudian merekam seorang perempuan dewasa yang kebetulan lewat di depan mereka.

Jelas mereka rekam, karena perempuan itu memakai baju yang ketat, sehingga kentara bentuk buah dadanya. Dari wajahnya, perempuan itu berusia sekitar 40 tahun. Setelah puas merekam, mereka berbicara dalam bahasa daerahnya, sambil senyum-senyum. Aku engga terlalu tahu apa yang mereka bicarakan, tapi jelas mereka sedang membicara hasil rekamannya. Sayangnya, aku engga sempat berbicara ke mereka, karena setelah itu, mereka langsung pergi.

Tentu saja, masih banyak kasus serupa yang dialami kaum perempuan. Aku berharap kalian (kaum perempuan) engga diem saja ketika dilecehkan, tapi berani bersuara. Bahkan berani melawan, sekalipun nyawa jadi taruhannya.

Teruntuk kaum laki-laki di mana pun kalian berada, tolong berhentilah mengeksploitasi tubuh kaum perempuan. Hargailah tubuh mereka, sebagaimana kita menghargai tubuh kita. Jangan juga kita cepat menghakimi perempuan yang bertato, merokok, atau berpakaian seksi sebagai perempuan yang enggak baik. Setiap perempuan mempunyai kebebasannya sendiri. Setiap perempuan punya caranya sendiri untuk tampil di depan publik. Kita enggak punya hak atas diri mereka. Kita enggak boleh melarang atau menghukum mereka berdasarkan kebenaran diri kita. Beri mereka kebebasan.

Baca juga: Perempuan di Ruang Publik

Yesus Anak Allah saja enggak pernah menghakimi kaum perempuan, ia menghargai dan mengasihi diri mereka sebagai ciptaan Allah. Kalau Yesus, Putra Allah saja enggak pernah menghakimi, engga pernah menghukum, lantas mengapa kita berani menghakimi dan menghukum? Mengapa kita berani-beraninya mengeksploitasi tubuh kaum perempuan ciptaan Allah?

Aku sangat berharap, agar kejadian seperti ini, tidak terulang lagi. Kita, kaum laki-laki, harusnya memperlakukan kaum perempuan entah pasangan, keluarga, sahabat kita, maupun orang lain dengan penuh hormat. Percayalah, perempuan akan hormat dan tunduk pada laki-laki yang menghormati mereka.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada keluarga, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaat darinya.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Nyanyian Baru dalam Hati

Sumber: unsplash.com

“Ya Allah, aku hendak menyanyikan nyanyian baru bagi-Mu, dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur bagimu” (Mzm. 144:9)

Tuhan telah melakukan intervensi dalam hidup raja Daud dan bangsanya, Israel. Dan sebagai bentuk terima kasih, Daud bermain musik gambus sepuluh tali sambil bernyanyi girang kepada Tuhannya. Gambus sepuluh tali merupakan alat musik terbaru pada zaman Asaf. Asaf telah menciptakan banyak lagu kala itu dengan menggunakan alat musik tersebut.

Musik dan nyanyian baru adalah ungkapan hati orang percaya yang penuh dengan sukacita dan rasa syukur atas kasih karunia yang telah kita terima dari Tuhan. Kasih karunia yang kita terima bisa bermacam-macam. Contohnya sembuh dari Covid-19, bisnis atau usaha tetap berjalan lancar meski di tengah-tengah pandemi, bahkan bisa naik pangkat atau jabatan, dan lain sebagainya.

Terhadap semua itu, kita bersyukur dan berterima kasih. Ucapan syukur dan terima kasih bisa berbagai bentuk. Bisa berbentuk nyanyian atau pujian, tarian, penyembahan, atau buah karya yang kita hasilkan untuk memuliakan Tuhan.

Tetapi, ada pula orang yang sudah menerima kasih karunia Tuhan, lantas tidak mau mengucap syukur dan memuliakan Tuhan. Walaupun Ia telah menerima banyak yang baik dari Tuhan, tetap saja tidak mau mengucap syukur. Hidupnya dipenuhi oleh perasaan bersungut-sungut, khawatir, dan tidak ada damai sejahtera. Orang yang seperti demikian, menunjukkan bahwa hatinya kosong bak roti donat.

Karena hatinya kosong, maka ia berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai hal duniawi yang menjijikan. Meskipun demikian, ia tidak pernah bisa mendapat kepuasan sejati, kecuali ia mengisi hatinya dengan kehadiran Tuhan. Ketika Tuhan mengisi hatinya, maka akan ada nyanyian syukur yang keluar dari bibirnya. Ketika Tuhan menempati posisi terdalam dari hatinya, maka meskipun dalam situasi yang sulit, hatinya tetap bahagia.

Pertanyaan refleksi: Adakah nyanyian baru dalam hatimu? Apakah yang sedang engkau kejar saat ini? Tuhan kah atau hal-hal duniawi yang menjijikan?

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada keluarga, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Jehovah Jireh

Sumber Gambar: Pinterest

Bacaan Alkitab: Kejadian 22:1-19

Pembaca budiman, pada tulisan kali ini aku ingin mengajak kalian merenungkan kisah Abraham (bapa segala bangsa) yang diuji Allah di tanah Moria. Barangkali, ada di antara kalian yang sudah pernah membaca atau mendengar cerita dari Kejadian 22 ini, tetapi aku berharap dalam tulisan ini, kalian dapat menemukan pelajaran yang baru. Selamat membaca!

Kejadian 22 ini, dimulai dengan sebuah perintah dari Allah kepada Abraham, yang pada waktu itu masih berdomisili di negeri orang Filistin.

“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkan dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu” (ay. 1,2).

Kita tentu, bisa membayangkan pergumulan dalam hati dan pikiran Abraham atas perintah tersebut.

Dari cara pandang manusia, tentu perintah itu tidak masuk akal. David W. F. Wong memberikan dua alasan. Pertama, perintah itu bertentangan dengan pendapat umum (common sense). Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa, ia akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Tetapi, bagaimana mungkin ia menjadi bapa banyak bangsa, jika ia harus kehilangan anak tunggalnya? Ishak adalah satu-satunya harapan untuk meneruskan keturunan. Jadi, perintah itu tidak masuk akal.

Kedua, perintah itu betentangan dengan kasih sayang manusia (human affection). Bagaimana mungkin seorang ayah tega membunuh anaknya sendiri – khususnya seorang yang dicintai begitu dalam? Seorang anak yang tewas dalam suatu kecelakaan atau karena sakit saja sudah cukup menyakitkan. Apalagi membunuh anak sendiri? Jelas ini tidak sesuai dengan perasaan setiap manusia.

Perintah Allah, memang acap kali bertentangan dengan pola pikir dan perasaan manusia. Perintah Allah agar Abraham mengorbankan anaknya sama sekali tidak bisa diterima bila ditinjau dari dua hal di atas, kalian setuju?

Di sisi lain, apabila kita merenungkannya, perintah itu, sebenarnya, bukannya tidak dapat diterima. Pada kenyataannya, perintah itu dapat diterima dengan sempurna. Pertama, Allah yang memberikan Ishak kepada Abraham; karena itu, Allah berhak meminta anak itu dari Abraham. Seperti Ayub yang menyatakannya dalam suatu pernyataan klasik, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN” (Ayb. 1:21). Kedua Allah memberikan Abraham seorang anak melalui suatu kelahiran yang ajaib. Istrinya, Sara, sudah mati haid. Baik Abraham maupun Sara sudah menyerah untuk memiliki anak. Namun Tuhan, melalui suatu mujizat kelahiran, memberikan mereka anak.

Jika Allah dapat memberikan kehidupan kepada suatu rahim yang mandul, pastilah ia dapat memberikan kehidupan kepada Ishak setelah ia dikorbankan. Pada kenyataannya, penulis Ibrani 11:19 menyatakan: “ia [Abraham] berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati”. Kalau Allah dapat memberikan kehidupan kepada Ishak pada pertama kalinya (sebelum ia dilahirkan), mengapa Dia tidak bisa melakukannya untuk kedua kalinya (setelah ia dikorbankan)? Jika Allah dapat melakukan mujizat kelahiran, mengapa Ia tidak bisa melakukan mukjizat kebangkitan?

Ketika kita merenungkan perintah agar Abraham mengorbankan anaknya memang tidak bisa diterima (bertentangan dengan logika dan perasaan manusia), tetapi sekaligus dapat diterima (menurut kepemilikan dan kuasa Allah). Paradoks semacam ini, berlaku untuk setiap perintah Allah kepada manusia. Ditinjau dari sudut pandang manusia, perintah Allah tampak tidak masuk akal, tetapi ditinjau dari sudut pandang Allah segala sesuatu masuk akal. Pada kenyataannya penulis Injil Lukas 1:37 mengatakan: “Sebab bagi Allah tidak ada mustahil”.

Perintah untuk mengorbankan anak memang tidak masuk akal jika dipandang dari sudut pandang manusia, tetapi lihat tanggapan Abraham terhadap perintah tersebut:

“Keesokan harinya pagi-pagi bagunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya” (ay. 3).

Kita melihat di sini bahwa, Abraham taat. Ia tidak menunggu-nunggu atau mengulur-ngulur waktu, ia langsung mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, yaitu kayu bakar, bujang, dan keledai). Perjalanan itu membutuhkan waktu tiga hari. Tentu saja, selama perjalanan Abraham merenungkan perintah Allah tersebut. Berbagai pertanyaan ia lontarkan kepada Allah. Selama tiga hari perjalanan itu, ia memiliki kesempatan untuk menolak perintah Allah. Bagaimana kedaan dia pada akhirnya? Kita mendapat petunjuk Alkitab bahwa Abraham tetap taat melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.

Pada hari ketiga mereka sampai di tempat yang dikatakan Allah (ay. 4). Kita bisa melihat iman Abraham dalam pernyataannya: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami akan kembali kepadamu” (ay. 5). Perhatikan bahwa, Abraham sangat yakin ia beserta Ishak akan kembali dengan selamat. Jikalau kita mengagumi iman Abraham, kita juga tidak boleh lupa akan iman Ishak. Seperti ayahnya percaya penuh kepada Allah, demikian juga Ishak percaya penuh kepada ayahnya bahwa, ayahnya tidak melakukan sesuatu yang mencelakakan dirinya. Kenyataannya, ia tidak melawan ketika ayahnya mengikat dia dan membaringkannya di atas mezbah.

Ketaatan Abraham membawanya setapak demi setapak menuju puncak ujian. Ia telah meninggalkan rumah (zona nyamannya) menuju Moria. Ia telah membangun mezbah. Ia telah mengikat Ishak dan membaringkannya di atas mezbah. Dan kini ia harus melakukan tahapan terakhir, yakni membunuh anaknya yang sangat ia cintai. Apakah yang terjadi selanjutnya? Ya, kita sudah tentu tahu akhir kisah ini. Allah menghalanginya (ay. 12).

Abraham terpaku, tangannya berhenti di udara. Ia tahu bahwa imannya tidak sia-sia. Proses iman sudah selesai. Yakobus menulis, “Ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperolah buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yak. 1:24).

Sayangnya, banyak dari kita gagal bertahan dalam masa pematangan iman. Ketika kita diuji, kita menyerah. Kita seperti mengugurkan iman kita di dalam rahim. Bukannya melahirkan iman yang telah lulus ujian, iman kita yang belum matang justru gugur. Alkitab memperlihatkan iman Abraham yang tahan uji.

Ketika kita membaca tentang kisah iman Abraham, kita terkesan dan terpukau oleh berbagai bagian yang dimainkan oleh Abraham dan Allah. Masing-masing melakukan apa yang menjadi tugasnya. Abraham menyediakan kayu bakar dan mezbah dan Allah menyediakan domba untuk korban bakaran. Jadi, iman itu aktif bukan pasif. Kita melakukan apa yang menjadi bagian kita, dan selanjutnya Allah akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.

Saat tulisan ini dibuat, aku sedang memimpin sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Teolog Muda Penggerak Literasi (KTMPL). Sebagai pemimpin, aku sempat merasa takut dan ragu; apa iya saya bisa membawa komunitas ini menuju kesuksesan? Aku benar-benar bergumul. Dalam pergumulan itu, aku kemudian merenungkan secara mendalam kisah Abraham di dalam Kejadian 22:1-19 ini dan kembali dikuatkan.

Apapun yang menjadi pergumulan dan tantangan kalian saat ini, aku ingin mendorong kalian untuk tetap melakukan apa yang menjadi bagian kalian, dan selanjutnya kalian serahkan kepada Tuhan untuk melakukan bagian-Nya. Aku percaya bahwa, kalian akan mengalami kemenangan iman sebagaimana Abraham. Kita akan bersaksi kepada banyak orang tentang Jehovah Jireh, Allah yang melihat dan menyediakan.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada keluarga, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Gerejaku, Rumahku

Sumber Gambar: Pinterest

Tahukah kalian bahwa, ada perbedaan antara kata bahasa Inggris home dan house? Kedua kata ini secara literal mempunyai arti yang sama, yaitu “rumah.” Namun, dalam bahasa Inggris ada perbedaan yang esensial antara keduanya. House menunjuk pada rumah dalam arti fisik, yaitu bangunan rumah yang biasa ditinggali oleh kita. Sedangkan home lebih kepada situasi atau tempat yang membuat kita bagian darinya, merasa at home. Dengan demikian, house lebih berbicara soal di mana seseorang tinggal, dan home merupakan lingkungan di mana seseorang merasakan dirinya bagian dari keluarga (Hans Abdiel Harmakaputra, 2015: 27).

Terinspirasi dari artikel kak Hans, “Super Home=Super House” dalam bukunya yang berjudul Allah itu Narsis? Aku kemudian menulis tentang Gerejaku, Rumahku (Gereja di sini bukan dalam pengertian Ekklesia, tapi gedung, struktur, atau organisasi); apakah gereja yang kita pimpin saat ini telah menjadi home, di mana orang-orang merasa kerasan di dalamnya atau malah sebaliknya, orang-orang di dalamnya merasa seperti maaf, neraka?

Aku telah banyak menyaksikan orang-orang Kristen yang setia pada denominasi gereja asalnya, tetapi aku juga banyak melihat orang Kristen yang terpaksa keluar/pindah dari denominasi gereja asalnya ke denominasi gereja lain. Penyebabnya tentu bermacam-macam, misalnya konflik antara jemaat dengan gembala, jemaat merasa tidak diperhatikan oleh gembala, jemaat merasa tidak bertumbuh secara rohani karena doktrin yang diajarkan tidak alkitabiah, dan seterusnya.

Bagaiman gereja membuat dirinya nyaman bagi umat? Aku pikir jawabannya ada dua. Menjaga relasi dan pengajaran. Gereja yang sehat pasti memelihara relasi yang baik dengan Tuhan maupun sesama. Jika ada konflik, maka harus segera diselesaikan dengan baik, tidak menunda-nunda.

Berikutnya, menjaga doktrin/pengajaran. Doktrin merupakan sesuatu yang esensial dalam sebuah gereja. Sebagai gembala Anda harus mengajar doktrin yang benar (sesuai Alkitab). Jika Anda mengajarkan doktrin yang tidak benar (tidak sesuai Alkitab), maka jangan heran jika anggota gereja Anda pindah ke gereja lain yang doktrinnya lebih baik dari yang diajarkan di gereja Anda. Aku berharap setiap gembala sidang memperhatikan hal ini dengan serius.

Marilah kita mengusahakan (dengan pertolongan Roh Kudus) agar komunitas gereja kita disukai dan dicintai oleh semua orang yang berada di dalamnya, bahkan lebih jauh lagi disukai oleh orang-orang di luar gedung gereja. Anggota gereja merasa seperti di rumah sendiri, et home, karena di dalamnya terpancar kasih, sukacita dan damai sejahtera. Dan orang-orang non-anggota gereja tertarik dengan komunitas gereja, karena mereka melihat sukacita yang terpancar dari diri para anggotanya.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada saudara, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen Pemuda: Memahami Panggilan Tuhan

Sumber Gambar: Unsplash

Panggilan menjadi hamba Tuhan bukan sebuah perkara yang mudah. Menjadi hamba Tuhan adalah perkara yang sulit, karena menyangkut hidup pribadi dan keluarga di ladang pelayanan yang barangkali asing bagi kita. Oleh karena itu, dibutuhkan keteguhan dari Tuhan.

Bagaimana aku tahu dan yakin kalau Tuhan memanggilku sebagai hamba Tuhan? Setidaknya ada tiga prinsip yang bisa aku jelaskan di sini, yang semoga saja menjawab pertanyaan di atas. Pertama, panggilan Tuhan berawal dari suara Roh Kudus di dalam hati. Paulus di dalam Filipi 2:13 mengatakan, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Roh Kudus menaruh beban atau visi Allah di dalam hati dan kita meresponinya. Perhatikan di sini bahwa visi datangnya dari Allah, bukan dari diri kita. Ketika Nehemia dalam puncak kesuksesannya Allah menaruh visi di dalam hatinya. Nehemia (dan kita) tentu bisa menolaknya dengan 1001 alasan, tetapi ia tidak memadamkan gerakan Roh di dalam hatinya. Ia justru mengizinkan Allah bekerja di dalam hatinya melalui doa, puasa dan pergumulan.

Kedua, jikalau Anda benar-benar dipanggil, maka ada perasaan damai sejahtera dalam hati. Sebaliknya jika Anda tidak benar-benar dipanggil maka tidak ada damai sejahtera. Paulus di dalam Kolose 3:15 berkata, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.”

Ketiga, jika Anda dipanggil tapi tidak mau taat, maka akan dihajar oleh Tuhan. Penulis Ibrani mengatakan, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (12:6; bdk. Ayb. 5:17). Ketika Tuhan Allah menyuruh (memanggil) nabi Yunus ke Neniwe untuk melaksanakan misi-Nya (memberitakan Injil kepada orang-orang Niniwe), Yunus ngeyel (keras kepala/tidak taat). Ia malah pergi ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan (Yun. 1:3). Maka Tuhan marah dan menurunkan badai besar, sehingga kapal yang ditumpangi Yunus hampir tenggelam. ABK kapal kemudian melemparkan Yunus ke dalam laut dan lautan pun menjadi teduh. Kalau Tuhan menaruh beban di dalam hatimu, jangan mencoba lari atau acuh tak acuh, sebab Tuhan Allah akan memukulmu dengan keras.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada saudara, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Peran Gereja Menyikapi Masyarakat Indonesia yang Tertindas Hak-Haknya

Latar Belakang Sejarah
Amerika Selatan adalah benua penuh sumber alam, namun mayoritas penduduknya terperangkap dalam kehidupan yang melarat. Negara-negara di sana, dikuasai oleh sekelompok elite yang kaya, yang mempertahankan kedudukannya dengan mengorbankan mayoritas penduduk. Pada tahun 50-an dan 60-an diusahakan untuk membawa “pembangunan” ke Amerika Latin, karena dikira kesulitan disebabkan oleh tidak adanya pembangunan. Akan tetapi, usaha ini tidak berhasil membawa perbaikan nasib bagi mayoritas penduduk yang miskin. Amerika Latin tidak hanya terbelakang, tetapi juga tertindas. Kesulitan disebabkan oleh struktur yang tidak adil, baik di dalam masing-masing negara itu sendiri (rezim yang menindas) maupun antara wilayah itu dan dunia “maju” (kapitalisme yang menindas).

Analisa situasi ini muncul pada Konferensi Para Uskup Amerika Latin II di Medellin, Kolombia (1968). Pernyataan terakhir para uskup menegaskan bahwa, di banyak tempat di Amerika Latin terdapat keadaan tidak adil yang harus diakui sebagai kekerasan yang sudah melembaga, karena struktur yang ada melanggar hak-hak asasi manusia. Situasi ini membutuhkan langkah-langkah yang mempunyai dampak luas, nekat dan mendesak, yang membawa perubahan-perubahan mendasar. Konferensi Medellin mengesahkan analisa baru mengenai situasi itu sebagai penindasan serta kebutuhan akan pembebasan. Segera ini menghasilkan Teologi Pembebasan, suatu teologi yang mengabdikan diri pada pembebasan sosio-politik.

Tokoh-tokoh Teologi Pembebasan
Adapun tokoh-tokoh Teologi Pembebasan sebagai berikut:

  1. Camillo Torres, asal Kolombia adalah seorang aktivis pertama yang penting dan martir gerakan ini. Ia membuat sebuah pernyataan yang terkenal bahwa, “Orang Katolik yang tidak revolusioner hidup dalam dosa, sehingga layak dihukum mati.”
  2. Gustavo Gutierrez, imam Peru menulis sebuah buku yang sangat penting mengenai Teologi Pembebasan berjudul, Theology of Liberation, 1972. Di samping itu, ia juga menulis tentang spiritualitas dari perspektif Teologi Pembebasan yang berjudul, We Drink from Our Own Wells, 1983.
  3. Jose Porfirio Miranda, seorang sarjana Meksiko menulis Marx and the Bible, 1971, Being and the Messiah, 1973, dan Communism in the Bible, 1981.
  4. Juan Luis Segundo dari Ordo Yesuit asal Uruguay memberi dimensi Pastoral gerakan tersebut dengan karya lima jilidnya, A Thelogy for the Artisans of a New Humanity, 1968-1972 dan The Liberation of Theology, 1975.
  5. Leonardo Boff, seorang Fransiskan dari Brasil, merupakan seorang penulis subur.
  6. Jon Sobrino, seorang Yesuit Spanyol yang bekerja di El Salvador menulis Chistology at the Crossroads, 1976.

Pemikiran Misinya
Teologi Pembebasan berfokus pada masalah yang terjadi di Amerika Latin, yaitu penindasan yang dilakukan oleh orang kaya kepada orang miskin.

Relevansinya bagi Misi Masa Kini
Apakah Teologi Pembebasan relevan dengan konteks Indonesia? Aku pikir, masih sangat relevan. Misalnya, orang Kristen yang hak-hak ibadah mereka dirampas oleh sekelompok/ormas radikal dan pemerintah membiarkan hal ini terjadi. Bukan hanya hak beribadah yang dirampas, tetapi juga hak untuk hidup sebagai warga negara ditindas. Konflik di Papua merupakan contohnya. Warga Papua sudah lama ingin hidup sejahtera, tetapi hak-hak mereka, kekayaan tanah Papua diambil oleh Negara, bahkan tidak sedikit dari mereka yang harus dibunuh. Isu korupsi juga masih terus terjadi hingga hari ini, bahkan ditengah-tengah pandemi.

Melihat situasi ini, Gereja tidak boleh diam atau tutup mata, melainkan harus bertindak. Gereja harus bersedia membela hak-hak mereka yang tertindas. Gereja harus menjadi sakramen atau tanda penyelamatan kepada warga Indonesia yang hak-hak hidupnya dirampas. Sebab itulah, tujuan Kristus datang ke dalam dunia. Dia datang untuk memberikan kebebasan dan kedamaian bagi kaum yang miskin dan tertindas hak-haknya. Gereja bersedia melakukan aksi sosial kepada masyarakat yang miskin, tetapi tidak dengan motivasi kristenisasi.

Kepustakaan
Lane, Tony. Runtut Pijar: Tokoh dan Pemikiran Kristen dari Masa ke Masa. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Peduli pada Orang yang Membutuhkan

Sumber Gambar: Pinterest

Orang-orang yang mengikuti Yesus saat itu, barangkali termasuk para murid Yesus, menegur Bartimeus ketika ia memanggil Yesus. Mereka menegurnya, karena keadaan Bartimeus yang buta (dalam budaya Yahudi ini dianggap najis). Orang-orang tersebut, tidak ingin agar Guru mereka bersentuhan dengan Bartimeus si buta dan miskin itu. Tetapi, Bartimeus terus memanggil Yesus, bahkan dengan suara yang keras. Bartimeus mungkin sudah mendengar tentang tentang Yesus dan ini adalah kesempatan bagi-Nya. Itu sebabnya, ia terus berteriak. Yesus, yang mendengar suara itu, langsung berhenti, lalu menyuruh murid-murid-Nya memanggil orang itu.

Setelah memanggilnya, Yesus kemudian bertanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (ay. 51).  Pertanyaan Yesus ini menunjukkan sebuah sikap peduli yang dalam. Yesus tidak sekadar bertanya untuk mendapatkan informasi, tetapi lebih dari itu menyatakan kasih yang mendalam kepada Bartimeus. Yesus mengetahui bahwa Bartimeus tidak hanya memerlukan kesembuhan jasmani, tetapi lebih daripada itu, ia membutuhkan keselamatan jiwa.  Tuhan kemudian menyembuhkan Bartimeus dan Bartimeus menjadi murid-Nya.

Terkadang kita mengetahui orang yang sedang membutuhkan pertolongan, namun kita bersikap cuek, tidak mau peduli. Dalam hati kita berkata: “itu kan urusanmu, bukan urusanku.” Di sini, kita telah bersikap seperti para murid Yesus yang tidak peduli dengan keadaan Bartimeus. Sikap Yesus menyadarkan kita hari ini, bawasannya kita harus memiliki sikap peduli pada kebutuhan sesama kita. Tidak peduli ia dari keluarga kaya atau miskin. Ia dari suku apa, pokoknya kita harus menolongnya dan memberitakan Injil , kapan pun dan di mana pun. Bukankah ini yang dipesankan Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga (Mat. 28:19-20)? Kiranya Allah memberikan hati seperti hati Yesus. Mata seperti mata Yesus. Amin

Andalan

Renungan Matius 26:36-46: Tetap Setia di Jalan Tuhan

Sumber Gambar: Pinterest

Taman Getsemani adalah tempat yang paling menentukan dalam hidup dan pelayanan Yesus, apakah Ia akan menyerah terhadap keinginan-Nya untuk mati di atas kayu salib atau Ia akan melanjutkan misi Allah Bapa. Pergolakan ini, terlihat jelas dalam doa-Nya:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (ay. 39).

Sebagai manusia biasa, Yesus sebenarnya takut dan ingin menghindar dari penderitaan yang sudah di depan mata-Nya, tapi Ia memilih taat pada kehendak Allah Bapa.

Aku masih ingat sekali ketika memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan. Aku berangkat dari Saparua, Maluku Tengah menuju Malang tahun 2009 untuk kuliah di Malang. Waktu itu, aku mendapat beasiswa selama 1 semester. Dan semester berikutnya, aku harus cari beasiswa sendiri. Puji Tuhan, kampus menyediakan beasiswa untuk aku dengan syarat harus bekerja 5 jam setiap minggunya.

Bekerja sambil belajar memiliki pergumulan tersendiri. Kita harus pandai mengatur waktu. Di sini, aku sempat kewalahan, bingung mengatur waktu. Sempat pengen mundur. Namun, pergumulan besar yang aku hadapi selama kuliah di Sati, Malang sebenarnya adalah ketika papa ku meninggal dunia karena kecelakaan. tahun 2014. Di situ aku benar-benar down, aku benar-benar ingin mengakhiri perkuliahan ku. Tapi, berkat motivasi dan dorongan ibu dan teman-teman, akhirnya aku bisa terus melanjutkan perjuanganku di SATI Malang.

Refleksi untuk kita. Dalam hidup ini, akan ada masa-masa sulit yang membuat kita ingin menyerah. Tuhan seolah-olah diam dan tak campur tangan. Di sinilah, iman kita diuji, kesetiaan kita diuji, apakah kita tetap percaya dan bersandar pada Dia atau menyerah begitu saja. Teks Matius 26:36-46 yang sudah kita baca mengingatkan kembali bahwa, apapun yang kita sedang dan akan alami nanti, ingatlah untuk tetap taat pada kehendak Tuhan. Jalan Tuhan pasti adalah jalan yang terbaik untuk kita, karena itu setialah di jalan Tuhan.

Terima kasih sudah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada saudara, sahabat, dan kenalan kalian, sehingga mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar engga ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Serunya Spearfishing di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Ok guys, kali ini aku akan berbagi sedikit tentang pengalaman spearfishing/panah ikan di pulau Saparua. Sebelum itu, aku akan jelaskan sedikit mengenai letak geografis pulau Saparua.

Letak Geografis Pulau Saparua

Pulau Saparua merupakan pulau kecil sekaligus kecamatan yang terletak dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia. Pulau Saparua memiliki 16 buah negeri/desa dan 2 kampung mandiri yaitu: Haria, Porto, Tiouw, Saparua, Paperu, Booi, Kulur, Pia, Sirisori Amalatu, Sirisori Amapatti, Tuhaha, Ihamahu, Iha, Noloth, Itawaka, Mahu, Kulur, dan Pia.

Pulau Saparua berjarak sekitar 50 mil dari Ambon, ibu kota Maluku. Untuk bisa sampai di pulau Saparua kamu dapat menggunakan kapal ferry atau kapal cepat dari pelabuhan Tulehu kota Ambon menuju pelabuhan Kulur atau Haria. Waktu tempuh adalah 1-3 jam, tergantung jenis transportasi laut yang digunakan.

Keunikan dan Potensi Kota Saparua

Kota Saparua merupakan sebuah kota kecil yang berkembang pesat dalam bidang perdagangan, periwisata dan pendidikan. Tak heran, kota ini sering dikunjungi turis domestik maupun turis asing. Menurut perencanaan Pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah, Saparua akan dijadikan Kota Kabupaten yang Baru (Sumber: Wikipedia). Demikian ulasan singkat mengenai pulau Saparua.

Sekarang, aku mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat pantai-pantai cantik di Pulau Saparua yang menyimpan banyak sekali ikan. Pertama pantai berpasir putih di samping Benteng Durstede. Pantai ini sering dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Di waktu pagi dan sore para nelayan sering memancing atau menjala ikan di pesisir pantai ini. Belum lama ini seorang teman SMA aku meng-upload video di facebook yang memperlihatkan ikan-ikan yang tertangkap jala atau jaring. Banyak sekali. Ahh, aku jadi pengen pulang. Hehe.

Pantai berikutnya adalah pantai Paperu. Pantai ini dipenuhi oleh batu karang. Waktu aku dan keluargaku masih berdomisli di negeri Paperu, aku, Maykhael dan papa sering menangkap ikan pada malam hari. Cara kami menangkap ikan berbeda dengan orang Saparua. Orang Saparua biasanya menangkap ikan menggunakan jaring/jala dan pancing baik pada pagi hari maupun malam hari. Tetapi kami menangkap ikan dengan panah (spearfishing). Dan anehnya, itu dilakukan pada malam hari. Kebayang gak, waktu lagi selam lalu tiba-tiba ketemu ikan hiu di depan kita. Wkwk. Tapi sebenarnya, bukan itu yang ditakuti, tapi hal lain. (Nanti aku akan cerita hal ini pada kesempatan lain). Jadi, gimana proses menangkap ikan dengan panah? Apakah sulit? Penasaran? Yukk.. terus membaca.

Proses Penangkapan Ikan dengan Panah (Spearfishing)

Pertama-tama kami siapkan peralatan menyelam seperti lampu petromak, perahu, panah, dan dan kaca mata air (khusus untuk selam). Loh, kok gak ada alat bantu pernapasan? Iya, kami terbiasa menyelam tanpa alat itu. Hehe. Berikutnya, bekal selama perjalanan berupa nasi, singkong rebus, ubi rebus, dan dabu-dabu (rica-rica). Setelah semua dipersiapkan, kami kemudian menuju lokasi. Kami mendayung perahu sekitar 2 jam di tengah kegelapan pekat, sebab waktu panah ikan harus pada bulan gelap. Mengapa tidak pada bulan terang? Kan kalau bulan terang bisa kelihatan ikannya? Iya, kelihatan ikannya, tapi ikan itu akan segera pergi menjauhi kita ketika kita mendekatinya bahkan sebelum kita masuk ke dalam air. Ya, pada bulan terang ikan akan berjalan ke sana kemari karena suasana bawah laut terang-benderang. Tetapi pada bulan gelap, suasana bawah laut gelap pekat, sehingga ikan tidak bisa melihat sekitarnya. Ia hanya akan bersandar pada salah satu diding batu atau karang. Pada saat itulah kita bisa memanahnya, bahkah dari jarak dekat 1 cm. Hehe.

Setelah sampai di lokasi yang menjadi tujuan kami, kami bergegas untuk turun ke dalam air. Mulanya dari air yang dangkal kemudian menuju air yang dalam. Pada air yang dangkal hanya terdapat ikan-ikan kecil seukuran telapak tangan kita. Tetapi pada air yang dalam (tubir: batasan antara air dangkal dan dalam), banyak ikan besar bermain di sana. Biasanya, ada dua orang yang turun menyelam dan satu orang lagi di atas perahu, tujuannya untuk mengemudi perahu agar tidak terhanyut oleh arus laut. Kali pertama aku yang mengemudi, sedang Maykhael dan papa yang menyelam. Kali berikut aku yang menyelam bersama papa dan Maykhael yang megemudikan perahu.

Pernah kami kewalahan untuk menaiki ikan besar (kaka tua biru dan kerapu) ke dalam perahu. Papa yang menembaknya pada kedalaman 8 meter lalu kami manariknya dengan tali kecil. Ikan itu sempat menrik perahu kami beberapa meter, tapi akhirnya berhasil diangkat dari dalam air. Aku belum pernah membunuh ikan sebesar itu. Tapi adiku, belum lama ini menaklukan ikan kerapu besar. Aku kaget luar biasa. Walaupun papa tidak ada lagi bersama dengan kami, aku tetap bersyukur bahwa bakat papa diturunkan ke adik aku. Puji Tuhan!

Selain pantai Paperu, masih banyak lagi pantai di pulau Saparua yang kami kunjungi selama papa masih hidup, antara lain pantai Booi, pantai pia, dll. Pantai-pantai ini menyimpan banyak sekali karang dan ikan. Kamu harus pergi mengunjungi pantai-pantai di pulau Saparua.

Aku bersyukur pernah berburu ikan bersama papa baik dengan cara memanah, memancing atau menjaring. Ia adalah seorang pendeta, namun punya keahlian yang jarang ditemukan pada orang lain. Keahlian memanah ikan ini yang membuatnya dikenal oleh masyarakat Saparua, mulai dari PNS sampai anggota polisi.

Penutup

Ok, sekian dulu sharing dari aku tentang speafishing di pulau Saparua. Lain waktu, aku akan lanjutkan ceritanya. Kalau kalian punya pengalaman serupa, yukk sharing di kolom kementar ya.

Oh ya, jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan tulisan ini kepada orang lain, supaya mereka juga memperoleh manfaatnya. Jangan lupa untuk follow blog aku ya, agar tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Melayani atau Dilayani?

Sumber Gambar: Pinterest

Ketika Tuhan Yesus masih berada di dunia, ada dua perempuan yang sangat mengasihi-Nya, mereka adalah Maria dan Marta. Kedua perempuan ini, mengasihi Yesus dengan cara yang berbeda. Marta sibuk melayani Yesus dengan memasak di dapur. Marta berpikir bahwa, Yesus pasti capek dan lapar karena baru melakukan perjalanan yang panjang, sehingga memerlukan makanan yang cukup.

Sementara itu, Maria, adiknya, duduk dekat kaki Yesus untuk mendengar Ia berkhotbah. Maria memilih untuk dilayani oleh Yesus. Tetapi kakaknya, Marta, memilih untuk melayani Yesus. Manakah dari kedua sikap ini, yang sebenarnya diinginkan oleh Yesus?

Dari perikop yang kita baca, tampak jelas bahwa Yesus tidak menyukai sikap Marta dan memuji sikap Maria. Perhatikan ayat 41 dan 42:

“Tetapi Tuhan menjawabnya [Marta]: Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Aneh ya, Marta begitu giat melayani Yesus, tapi malah dinilai negatif. Bukan berarti kita tidak boleh melayani, boleh. Tapi, melayani menurut maunya Tuhan, bukan maunya kita. Dalam konteks perikop ini, yang Tuhan kehendaki hanya satu: duduk diam dan mendengar Ia berkhotbah.

Ingat, bahwa misi Yesus datang ke dunia yaitu untuk melayani kita orang pilihan-Nya; Dia datang untuk membereskan dosa-dosa kita. Tugas kita adalah membuka hati dan menerima-Nya. Tugas kita adalah duduk diam mendengar firman-Nya. Jadi, bukan kita yang melayani Tuhan, tetapi Tuhan yang melayani kita. Ini konsep yang perlu kita pahami dengan baik di hari-hari terakhir ini. Setelah kita berdiam diri, mengijinkan Tuhan berbicara dan mengorksi diri kita, barulah kita boleh melayani-Nya. Setelah kita dibaharui, barulah kita mengabdi kepada-Nya.

Sebenarnya, langkah awal Marta sudah tepat. Di ayat 38 dicatat bahwa:

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.”

Pada awalnya, Maria membuka pintu rumah dan mempersilahkan Yesus masuk, tetapi selanjutnya Maria berbuat menurut kehendaknya sendiri. Dicatat bahwa, ia bukan hanya sibuk menyiapkan makanan, tetapi ia juga mengajari Tuhan. Perhatikan ayat 40:

“Sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Di sini, Marta terlihat seperti menggurui Yesus. Padahal Yesus adalah Tuhan. Sebagai Tuhan maka Dia yang harus mengajari Marta, bukan sebaliknya.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan kita hal penting bahwa, ada waktu untuk kita melayani, tetapi ada waktunya untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Ada waktu untuk melayani, tetapi ada waktunya untuk dilayani. Dua hal ini, harus berjalan seimbang dalam hidup dan pelayanan kita di dunia.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Pandemi Covid-19 dan Pemberitaan Injil

Sumber Gambar: Unsplash

Pandemi Covid-19 yang dialami oleh semua orang di seluruh dunia, tidak bisa dipungkiri telah mengubah segala sesuatunya. Berbagai kegiatan yang tadinya dilakukan dengan mudah, sekarang menjadi rumit, sulit, dan susah. Gereja pun, tidak lepas dari kondisi ini. Gereja seperti “dipaksa” untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Jika sebelumnya, ibadah diperbolehkan, sekarang tidak diperbolehkan. Pemerintah telah menghimbau agar kegiatan agamawi (baca: gereja) dilaksanakan di/dari rumah melalui media/aplikasi online seperti WA, Google Meet, ZOOM, dll.

Adaptasi ini bukan tanpa kendala. Ada gereja-gereja yang terpaksa tidak melaksanakan kegiatan ibadah berbulan-bulan, lantaran tidak tahu cara mengoperasikan media digital. Di sisi lain, ada gereja-gereja yang bisa mengoperasikan media digital, namun jumlah jemaat yang mengikuti ibadah online sedikit. Tentunya, ini menjadi sebuah masalah yang mesti diselesaikan oleh gereja-gereja di Indonesia.

Dalam rangka menghadapi perubahan yang besar di depan mata, gereja jangan kehilangan semangat untuk menjadi saksi Kristus. Masih ingat dengan kisah William Carey? Pada tanggal 30 Mei 1792, pada kesempatan konferensi pendeta-pendeta Baptis, William Carey berkhotbah dari kitab Yesaya 54:2-3 dengan kesimpulan: “Harapkanlah hal-hal yang besar dari Allah; berusahalah melakukan hal-hal yang besar bagi Allah.” Carey, menegur gereja saat itu, karena bersikap apatis terhadap misi. Ia mendesak supaya gereja memperluas wilayahnya, hingga melampaui wilayah Inggris, bahkan juga Eropa (Klaus Wetzel 2015:156).

Sebagai dampak dari teguran Carey terhadap gereja, maka didirikanlah The Baptist Mission Society pada tanggal 2 Oktober 1792. Lalu, pada tahun 1793, setahun setelah didirikannya lembaga misi, Carey diutus ke India bersama istrinya dan seorang rekan kerjanya bernama John Thomas (Mark Shaw 2010:208).

Di India, Carey menghadapi tantangan yang luar biasa. Dikabarkan bahwa, anaknya meninggal dunia, istrinya menjadi gila, dan akhirnya meninggal dunia. Tidak sampai di situ, rekan sekerjanya pergi meninggalkannya. Sungguh sebuah derita yang tak terkatakan. Tetapi, Carey tidak kecewa dan putus asa, dia terus bersemangat melayani Tuhan. Dengan segenap kekuatannya, Carey tetap berjuang memberitakan Injil.

Bagaimana dengan gereja-gereja di Indonesia saat ini? Apakah gereja kita masih mempunyai semangat, komitmen, dan harapan dalam memberitakan Injil? Ataukah semangat, komitmen, dan harapan kita sudah padam ditelan badai Covid-19? Apapun kondisi gereja saat ini, aku harap supaya kita tetap mempunyai semangat, komitmen, dan harapan yang tinggi seperti yang ditunjukkan Carey, untuk tetap menjadi saksi Kristus bagi dunia.

Kiranya surat Ibrani 13:13 ini, menjadi pendorong bagi kita semua: “Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.” Covid-19 bukanlah penghalang untuk pemberitaan Injil, melainkan kesempatan bagi gereja untuk bersaksi kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Bersaksi di sini, tidak hanya melalui perkataan (verbal), tetapi juga melalui tindakan/cara hidup (nonverbal) sehari-hari. Dua hal ini harus berjalan seimbang dalam keseharian hidup kita.

Terima kasih telah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari share ke semakin banyak orang, agar mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini ya, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

5 Manfaat Belajar Teologi Kristen

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Tahukah kalian bahwa belajar teologi Kristen itu bermanfaat bagi kehidupan dan pelayanan? Ada setidaknya 5 manfaat dari belajar teologi Kristen bagi kehidupan dan pelayanan. Berikut ini penjelasannya

Meluruskan Pikiran

Pertama, belajar teologi akan meluruskan pikiran-pikiran kita yang keliru tentang pokok-pokok iman Kristen. Pemahaman kita akan pokok-pokok iman Kristen terbatas bukan hanya keterbatasan pikiran kita sebagai manusia untuk memahami pikiran Allah di dalam Alkitab, tetapi juga karena kecenderungan hati kita yang ingin berontak terhadap pengajaran Alkitab yang sulit kita terima.

Memiliki Pemahaman yang Benar

Kedua, belajar teologi membuat kita memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan. Studi teologi merupakan usaha untuk menterjemahkan firman Tuhan ke dalam konteks kehidupan masa kini. Kita tidak mungkin dapat melakukannya, jika kita tidak belajar teologi dengan baik. Dengan belajar teologi, akan memperluas pengenalan kita tentang Allah Tritunggal.

Memahami Diri dengan Baik

Ketiga, belajar teologi memampukan kita memahami diri kita dengan baik. Teologi tidak hanya membuka mata kita tentang siapa Allah Tritunggal. Tetapi teologi, juga dapat membuka mata kita akan diri kita: “siapa aku,” “mengapa aku bertindak begini dan begitu,” dan “bagaimana memanfaatkan potensi yang Tuhan karuniakan dalam diri kita untuk kemuliaan Tuhan.” Kita tidak mungkin mengenali diri kita dengan baik, jika kita tidak belajar tentang Allah.

Menjadikan Kita Terpelajar

Keempat, belajar teologi dapat menjadikan kita seorang yang intelektual/terpelajar. Dengan wawasan teologi yang mendalam dan luas, memampukan kita berinteraksi/berdialog dengan beragam pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Kita juga mampu untuk menghadiri pertemuan/seminar akademis. Orang yang tidak belajar teologi dengan baik, dipastikan tidak mampu mengahdiri pertemuan-pertemuan akademis, sebab wawasannya sangat sempit.

Tahu Mengambil Keputusan

Kelima, belajar teologi membantu kita membuat keputusan yang lebih baik di masa depan. Keputusan–keputusan masa depan bisa menyangkut bagaiman kita menyikapi berbagai pengajaran yang ada dari dalam kekristenan maupun pengajaran-pengajaran baru yang akan muncul. Misalnya, studi yang teliti tentang Alkitab akan menunjukkan bahwa, Alkitab sungguh dapat dipercaya dalam semua pengajarannya dan Alkitab sendiri memandang dirinya demikian. Ketika ada pengajaran yang mengatakan bahwa, sebagian isi Alkitab adalah mitos, kita akan lebih mudah menanggapinya ketika kita belajar sistematis tentang doktrin Alkitab.

Penutup

Jadi, Anda tahu sekarang betapa pentingnya belajar teologi, kan? Tentu, belajar teologi tidak harus masuk ke Sekolah Tinggi Teologi (STT), tetapi di rumah membaca buku-buku teologi setiap hari. Aku kenal seorang teman, walaupuan ia tidak pernah mencicipi sekolah formal teologi seperti kita, tapi pengetahuannya tentang teologi sangat luas sekali. Ia bisa duduk berdiskusi tentang isu-isu teologi berjam-jam dengan para teolog lulusan Sekolah Tinggi Teologi. Semoga semangat kita untuk belajar teologi tidak kalah jauh dari teman ku ini.

Terima kasih telah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari share ke semakian banyak orang, agar mereka juga mendapat manfaat dari tulisan ini.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Iman yang Teguh

Sumber Gambar: Pinterest

Ada hal yang menarik perhatian aku dari teks Markus 5:21-43 ini, yaitu sikap kepala rumah ibadat, bernama Yairus. Ia seorang yang terpandang di kalangan orang-orang Yahudi, tetapi caranya meminta pertolongan kepada Yesus berbeda dari kebanyakan orang terpandang saait itu, terumata ahli-ahli Taurat. Ia tidak memakai otoritasnya untuk mendesak Yesus, sabaliknya ia memohon dengan penuh kerendahan hati supaya Yesus mau menolongnya. Ia mau bersabar menunggu Yesus datang ke rumahnya dan menyembuhkan anak perempuan tercintanya yang sedang sakit keras.

Kisah ini mengoreksi apa yang selama ini kita lakukan dalam berdoa. Dalam doa-doa kita, kita cenderung mendesak dan memaksa Tuhan agar menjawab permintaan kita. Kita berpikir bahwa, sikap kita itu wajar, sebab kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Jadi, apapun yang kita minta dalam doa, Tuhan sebagai Bapa harus mengabulkan. Kalau tidak, kita akan marah, mengeluh, bahkan mungkin menyalahkan Tuhan.

Melalui perikop ini, kita diajarkan bahwa, kehendak kita harus tunduk kepada kehendak Tuhan. Seperti yang ditunjukkan Yairus yang memilih taat pada kehendak Tuhan. Ketika saudara-saudaranya datang dan mengatakan bahwa, anak yang dicintainya sudah mati, Yairus tetap mempercayai Tuhan dan tidak menjadi kecewa. Ia tetap percaya bahwa, Tuhan akan menolongnya tepat pada waktu yang ditentukan-Nya. Ini adalah contoh iman yang teguh. Iman yang teguh adalah percaya sepenuhnya pada Tuhan dan tidak terpengaruh oleh situasi atau kondisi di sekitar. Tuhan itu tahu waktu yang tepat untuk menolong kita, jadi belajarlah mempercayai-Nya.

Tuhan mampukan kami yang kurang percaya agar mempercayai-Mu.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Dipakai Tuhan dalam Kelemahan

Sumber Gambar: Pinterest

Markus pasal 16 adalah puncak dari seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam Kitab Injil Markus. Dalam pasal ini, diceritakan oleh penulis Markus bahwa, Yesus bangkit dari kematian dan kemudian menampakkan diri kepada para murid, serta memberikan mereka mandat untuk menjadi saksi-Nya ke seluruh dunia. Setelah rangkaian peristiwa itu, Yesus pun terangkat ke surga.

Yang menarik perhatian aku dalam kisah Markus 16 ini adalah pada ayat 14 dan 15. Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita melihat konteks ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya, yaitu ayat 9-12 Yesus menampakkan diri kepada seorang perempuan bernama Maria. Maria kemudian menceritakan peristiwa penampakan itu kepada murid-murid yang lain, namun mereka tidak percaya (ay. 11). Selain kepada Maria, Yesus juga menampakkan diri kepada dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke luar kota (ay. 12). Dan akhirnya, kepada kesebelas murid (ay. 14). Namun, ternyata kesebelas murid itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pada saat mereka belum percaya, pada saat mereka belum cukup iman, Yesus sudah memberi mereka perintah untuk memberitakan Injil dan memberi kuasa untuk mengusir setan-setan (ay. 17). Aneh, kok bisa begitu?

Peristiwa di atas, memang terdengar aneh di telinga kita, sebab kita sudah terbiasa mendengar ajaran bahwa, kalau aku mau dipakai Tuhan dengan luar biasa, maka aku harus hidup kudus atau sempurna seperti Yesus. Barulah kita bisa dipakai dengan hebat. Tetapi, kisah di atas, menunjukkan hal yang kontras sekali. Tuhan tidak menunggu kita harus kudus atau sempurna dulu, baru Ia memakai kita dengan hebat. Sebaliknya, Tuhan tahu bahwa, kita tidak bisa/mampu menjadi kudus dan sempurna di bumi, karena itu Ia memberikan kita Roh-Nya yang memampukan kita melakukan misi-Nya di dalam dunia. Bukankah ini juga dialami oleh raja Daud, rasul Petrus, rasul Paulus, dan tokoh-tokoh yang lain? Mereka juga adalah orang-orang penuh dengan kelemahan, yang sekali-kali dapat jatuh ke dalam lumpur dosa, namun toh Tuhan dapat memakai mereka menjadi alat-Nya. Ravi Zacharias adalah contoh hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa, tetapi ia sendiri mempunyai kehidupan moral yang buruk sekali. Menurut ku, Tuhan dapat memakai setiap orang berdosa demi untuk menyatakan kuasa-Nya di bumi.

Mohon untuk kalian tidak salah menangkap maksud aku ini. Tuhan memang dapat memakai setiap orang untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya, tetapi bukan berarti Ia menyetujui perbuatan dosanya. Jelas perbuatan dosa tetap akan dapat pembalasan dari Tuhan.

Meskipun kita dipakai dalam keberdosaan kita, itu tidak berarti kita tidak peduli dengan kehidupan moral dan spiritual. Kita harus tetap mengerjakan keselamatan dengan bersandar penuh pada kasih karunia Tuhan. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi, “. . . kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. . . .” Jadi, sambil melayani Tuhan, kita harus tetap bertanggung jawab atas keselamatan yang sudah Tuhan karuniakan. Kita harus terus waspada terhadap area-area yang dapat membuat kita terjatuh.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Marah yang Terkontrol

Sumber Gambar: Pinterest

Ketika Yesus dan murid-murid tiba Yerusalem, Yesus masuk ke Bait Allah. Sementara itu, pemandangan di halaman depan Bait Allah dipenuhi oleh orang-orang yang berjualan seperti pasar. Melihat hal itu, Yesus mengusir mereka semua. Alkitab mencatat meja-meja penukar uang dan bangku pedagang merpati dibalikan-Nya. Sementara itu, ahli-ahli Taurat berusaha untuk membunuh Yesus (Mrk. 11:15-19).

Coba sejenak kalian bayangkan seandainya kalian berada di posisi Yesus saat itu, apa yang bakal kalian lakukan? Barangkali kalian tidak berani melakukannya, sebab banyak orang. Dari segi jumlah, Yesus kalah jauh dengan massa saat itu. Akan tetapi, Yesus tidak takut melakukan hal yang benar. Ia bahkan siap jika dibunuh demi kebenaran. Sikap Yesus ini, kita bisa jumpai dalam diri pak Ahok (mantan Gubernur DKI, Jakarta). Dia berani melawan pejabat-pejabat yang korupsi saat itu. Dia berani memecat orang-orangnya yang ketahuan korupsi. Beberapa kali media massa menampilkan Ahok yang sedang marah-marah anak buahnya yang kerja tidak benar.

Seperti Ahok, seringkali dalam keadaan emosi (marah), kita menjadi tidak terkontrol. Kita lepas kendali. Kita mungkin memaki orang yang membuat kita marah. Atau kita mungkin memukul anak-anak kita yang telah membuat kesalahan. Aku ingat dulu, waktu kecil, papa ku sering memarahi aku dan adik ku karena melakukan kesalahan. Seringkali dengan memukul keras badan kami menggunakan rotan yang sudah disiapkannya. Seringkali rotan itu patah di badan kami. Di sekolah juga demikian, kadang-kadang guru kami lepas kontrol dan memukul kami dengan membabi buta, bahkan pernah kepala kami didorong ke papan tulis dengan keras. Memang disiplin menggunakan rotan itu perlu, tetapi apabila rotan digunakan dengan cara yang tak terkontrol, maka ini bisa mendatangkan dosa.

Maka, belajarlah pada Tuhan Yesus. Meskipun Dia marah, tapi amarahnya tetap terkontrol. Buktinya apa? Markus mencatat bahwa, Tuhan Yesus membalikkan meja dan bangku penjual merpati, tetapi tidak melepaskan merpati atau binatang yang lain dari kandang. Sebab kalau dilepas, maka semua binatang yang terlepas tidak bisa didapat kembali dan itu merugikan para penjual. Ini baru marah yang benar, marah yang terkontrol atau dalam istilah Alkitab marah yang suci.

Harap kita dapat belajar mengontrol amarah kita. Salah satu cara memadamkan (mengontrol) amarah kita adalah dengan bersikap tenang. Sebelum bertindak, tanyakan dalam diri apakah yang aku buat ini dosa atau tidak. Apakah yang aku buat ini mendatangkan celaka atau tidak. Dengan demikian, kita akan bersikap lebih hati-hati dan nama Tuhan dimuliakan.

terima kasih telah membaca tulisan ku ini hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari share ke lebih banyak orang, agar mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini ya, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Markus 10:35-45: Pemimpin yang Melayani

Sumber Gambar: Pinterest

Sebelum kalian membaca renungan ini, pastikan kalian sudah membaca teks Markus 10:35-45. Kalau sudah, yuk kita mulai.

Suatu kali, Yakobus dan Yohanes, anak Zebedeus meminta kepada Yesus, supaya mereka boleh diperkenankan-Nya duduk dalam kemuliaan-Nya, yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang satu lagi di sebelah kiri Yesus. Yesus menanggapi mereka dengan berkata bahwa hal duduk di sebelah kanan atau kiri, bukanlah hak-Ku. Namun, itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan (ay. 40).

Ternyata, tidak hanya Yakobus dan Yohanes saja yang menginginkan jabatan istimewa itu, melainkan kesepuluh murid yang lain. Sebab di ayat 41 berbunyi: “Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.” Dengan kata lain, mereka iri kepada Yakobus dan Yohanes.

Apa yang diinginkan oleh Yakobus dan Yohanes adalah hal yang wajar. Sebagai manusia, mereka ingin sebuah jabatan, mereka ingin mendapat pujian dan dihormati. Kita pun demikian. Tidak masalah apabila kita menginginkan sebuah jabatan kepemimpinan. Asal saja, kita patuh terhadap aturan. Kita mengikuti rambu-rambu yang telah diberikan kepada kita dalam meraih sebuah jabatan. Bukan main sogok orang sana sini. Main sikut sana sikut sisi demi sebuah jabatan atau kedudukan.

Berikutnya, kita mengerti tugas kita sebagai seorang pemimpin. Jangan sampai sudah mendapat kedudukan sebagai pemimpin, malah kita bertindak sembarangan.

Sebagai pemimpin, pertama-tama harus disadari bahwa tugas utama kita adalah melayani masyarakat, bukan memerintah seperti bos. Tuhan Yesus adalah teladan dalam hal ini. Dia datang dari surga yang mulia untuk mencari dan melayani orang-orang yang terhilang, orang-orang yang tidak dianggap oleh masyarakat. Ia memimpin mereka dengan kasih yang kekal. Bahkan, rela memberikan nyawanya bagi kita.Ini baru pemimpin sejati.

Menjadi pemimpin sejati berarti siap melayani orang lain, siap mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Bahkan, lebih dari itu, siap menderita demi orang-orang yang kita pimpin. Anda siap menjadi pemimpin?

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, jangan ragu untuk membagikannya ke yang lain.

Andalan

Renungan Lukas 24:36-49: Bukan Hantu

Sumber Gambar: Pinterest

Sebelum membaca renungan ini, pastikan kalian sudah membaca teks Lukas 24:36-49. Kalau sudah yuk, kita mulai pembahasannya.

Ketika para murid yang skeptis mulai memikirkan kemungkinan bahwa kebangkitan mungkin benar, spekulasi pertama adalah Yesus yang mereka lihat adalah hantu. Tetapi, Yesus segera menghancurkan spekulasi mereka ini. Di hadapan para murid yang ragu-ragu itu, Ia berkata, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat pada-Ku” (Luk. 24:39).

Baca juga: Renungan Harian Kristen: Benarkah Yesus Mati?

Heran sekali bahwa, para murid-Nya tidak dapat mengenali-Nya dengan baik, sama ketika kedua belas murid yang mengira Yesus sebagai hantu ketika Ia berjalan di atas danau (lih. Mrk. 6:45-52). Padahal mereka hidup bersama-sama dengan Yesus. Orang Kristen pun bisa begitu. Lamanya seseorang mengikut Tuhan, tidak menjamin bahwa ia mengenal-Nya secara pribadi.

Kembali ke kisah tadi. “… Ketika mereka belum percaya dan masih heran, berkatalah Yesus kepada “mereka, “Adakah padamu makanan di sini’ Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka” (ay. 41-43).

Di sini, Yesus membuktikan bahwa, diri-Nya bukan hantu. Jika Ia bukan hantu atau sejenisnya, lantas seperti apakah tubuh kebangkitan Yesus itu? Tubuh itu sama tetapi juga tidak sama. Ia dapat dikenali sebagaimana adanya Dia seperti biasanya. Tubuh-Nya adalah tubuh fisik. Tetapi, tubuh itu juga adalah tubuh yang sudah diubah.

Ketika Paulus menjelaskan mengenai tubuh kebangkitan orang percaya di masa depan, ia merujuk pada kebangkitan tubuh Yesus (1 Kor. 15:20). Dengan perkataan lain, Tubuh Yesus adalah wujud dari tubuh kebangkitan kita pada masa mendatang. Sekali lagi Paulus menjelaskan, Kristus akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:21).

Orang-orang percaya di seluruh dunia setiap tahunnya merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Mereka merayakan Yesus yang bangkit bukan sebagai hantu, melainkan sebagai manusia seutuhnya yang sudah ditransformasi. Yesus yang bangkit ini, memiliki tubuh kemuliaan. Tubuh kemuliaan inilah yang akan kita miliki kelak ketika kita dibangkitkan oleh kuasa Allah di masa mendatang dan hidup bersama-sama dengan Kristus selama-lama-Nya. Amin.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan kepada yang lain, supaya mereka juga mendapat manfaatnya.

Andalan

Renungan Markus 7:1-8 Percuma Melakukan Kegiatan Agamawi, Tapi Hati Jauh Dari Tuhan

Sumber Gambar: Pinterest

Pada tulisan kali ini, kita akan merenungkan Markus 7:1-8. Tuhan Yesus dalam perikop ini sedang berdebat dengan para ahli Taurat dan kaum Farisi terkait masalah tradisi. Waktu itu, para ahli Taurat dan kaum Farisi datang dari Yerusalem menemui Yesus.

Ketika mereka melihat murid-murid Yesus makan dengan tangan yang tidak dicuci, mereka menegur murid-murid. Yesus pun menanggapi mereka dengan mengutip sebuah teks Perjanjian Lama, yakni Yesaya 29:13, bunyinya demikian: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus memang benar dalam menilai mereka. Itu sebabnya, mereka semua bungkam.

Komentar Tuhan Yesus kepada kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat ini, seharusnya, membuat kita mengoreksi diri kita di hari-hari terakhir ini. Jangan-jangan, selama ini, kita melakukan berbagai kegiatan agamawi seperti ibadah, membaca firman, membaca buku-buku rohani hanya supaya terlihat rohani saja di depan orang atau demi memuaskan akal budi (kognitif) semata, namun tidak sampai dialami di dalam hati.

Dampaknya adalah hidup kita tidak seperti Yesus. Tidak ada kasih dan cinta dalam diri kita. Kita jadi gampang menjudge orang lain tanpa menyelidiki terlebih dahulu kebenaran yang sebenarnya. Mestinya, kegiatan-kegiatan rohani yang kita jalani selama ini, membawa kita semakin dekat dengan Tuhan dan mangsihi sesama, bukan sebaliknya. Inilah yang dipersoalkan oleh Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi, saat itu.

Kita patut bersyukur bahwa, melalui perikop Markus 7:1-8 ini, kita disadarkan kembali tentang betapa pentingnya menghidupi kebenaran Tuhan dalam hidup sehari-hari. Bukan tentang seberapa banyak kegiatan agamawi yang dilakukan sehari-hari yang menjadikan kita intim dengan Tuhan, melainkan sejauh mana kegiatan-kegiatan itu direfleksikan dan dipraktikkan dalam hidup sehari-hari. Kiranya Allah Tritunggal menolong kita semua dalam menerapkan kebenaran firman Tuhan. Amin

Terima kasih telah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, bagikanlah kepada orang lain, agar mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Markus 1:35-39 Melayani Seperti Yesus

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Pada tulisan kali ini, kita akan merenungan perikop Markus 1:35-39. Ketika membaca Markus pasal 1 dan 2, kita dibuat terheran-heran dan kagum oleh pelayanan Tuhan Yesus. Diceritakan bahwa Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit dan mengusir setan-setan. Tidak hanya itu, Ia juga berhasil membungkam para lawannya (ahli-ahi Taurat dan kaum Farisi). Banyak orang yang menyaksikan perbuatan-perbuatan-Nya itu menjadi percaya dan memuliakan Allah. Apa yang membuat pelayanan Yesus berhasil? Saya menemukan dalam Markus 1:35-39 ini setidaknya dua hal yang membuat pelayanan Yesus berhasil.

Yesus Memiliki Waktu Khusus

Waktu khus di sini adalah waktu pribadi dengan Allah. Menurut Markus 1:35, Yesus bangun pagi-pagi untuk berdoa. Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus telah merencanakan jam berdoa-Nya. Apa manfaat dari melakukan disipilin rohani ini bagi pelayanan kita di hari-hari terakhir ini? Berdoa dapat membuat kita peka akan suara Tuhan. Doa memampukan kita menghadapi serangan-serangan Iblis yang mematikan lewat pikiran. Tuhan Yesus memperoleh semua hal ini ketika Ia berdoa. Aku akui bahwa selama ini aku lebih sering membaca daripada berdoa, aku jujur. Bagimana dengan kalian? Kiranya kita sadar betapa pentingnya disipilin doa ini dalam pelayanan kita di hari-hari terakhir ini.

Yesus Mempunyai Fokus yang Jelas

Yesus mempunyai fokus yang jelas untuk mengembangkan kerajaan Allah di muka bumi. Dalam ayat 37, murid-murid mencari Yesus yang sedang berdoa. Setelah menemukan-Nya, mereka berkata, “Semua orang mencari Engkau.” Di sini, Yesus tampaknya tidak menghiraukan ucapan mereka itu dan menjawab mereka dalam ayat 38, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, . . .” Dari percakapan ini jelas bahwa Yesus tidak tertarik untuk mencari popularitas. Ia tidak ingin mencari nama. Itu bukan fokus-Nya. Itu sebabnya Ia melarang keras setiap orang untuk menceritakan apa yang telah diperbuat-Nya terhadap mereka. Kita harus menyadari hal ini dalam pelayanan kita: fokus kita adalah membangun kerajaan Allah bukan membangun kerajaan kita di dunia.

Dalam beberapa kesempatan pelayanan, ketika selesai berkhotbah ada jemaat yang memuji khotbah ku, “khotbah Anda bagus sekali!” lalu, sesaat aku menjadi tinggi hati. Aku lupa bahwa karunia berkhotbah adalah pemberian Tuhan. Maka, ketika kalian dipuji tentang pelayanan kalian biarlah pujian itu dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri Anda. Pujian itu baik, tetapi pujian itu dapat menjadi alat yang membuat jiwa kita rusak. Hati-hati!

Baca juga: Renungan Harian Kristen Menciptakan Pelayanan yang Berhasil, Ini Kuncinya

Penutup

Terima kasih telah membaca tulisan ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, bagikanlah kepada orang lain, supaya mereka juga mendapat manfaat darinya. Jangan lupa untuk follow blog ini ya, agar kalian tidak ketinggalan tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Dari Dukacita Menjadi Sukacita

Sumber Gambar: Pinterest

Dua orang murid Yesus sedang berjalan kaki dari Yerusalem menuju Emaus kira-kira 12 kilometer. Sepanjang jalan, mereka membicarakan tentang kemungkinan hilangnya mayat Yesus, guru mereka.

Perjalanan ditempuh oleh mereka bukan dengan semangat, melainkan sebaliknya. Mereka merasa terpukul, oleh karena orang yang mereka andalkan dalam hidup selama ini telah pergi dari dunia (bdk. ay. 21). Sekarang, perasaan mereka makin terpukul lagi, karena berita-berita mengenai nasib tubuh Yesus. Di jalan itu, mereka menumpahkan seluruh perasaan mereka kepada Yesus yang tidak mereka kenal, ayat 18 berbunyi: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Mereka bercerita dengan nada pesimis bahwa, Yesus pemimpin yang mereka harapkan itu telah diserahkan oleh imam-imam kepala untuk dihukum mati dan sekarang mayatnya tidak ada dikubur, entah ke mana.

Perjalanan dan percakapan yang panjang itu akhirnya berakhir. Sesuai dengan adat istiadat Yahudi, mereka mengundang Yesus untuk makan malam dan sekaligus bermalam. Bahkan, bukan sekadar mengundang tetapi mendesak-Nya, “. . . Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam” (ay. 29a). Yesus sengaja menerima ajakan itu dan duduk makan bersama mereka. Di situlah, baru mereka mengenal Yesus. Namun, segera Yesus menghilang dari hadapan mereka. Kita tidak diberitahu bagaimana Ia menghilang, tapi yang jelas peristiwa ini membuat mereka sadar atau tercelik.

Dokter Lukas mencatat respons mereka saat itu: “Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem” (ay. 33a). Barangkali, mereka belum sempat makan, karena perasaan gembira yang dialami mereka. Rasa lapar dan lelah tidak menjadi masalah, mereka kini harus kembali ke Yerusalem untuk memberitakan kabar sukacita kepada teman-teman mereka bahwa, benar Yesus telah bangkit. Yesus telah hidup!

Injil-Injil mengisahkan bahwa setelah perjumpaan Yesus dengan murid-murid paska kebangkitan, mereka menjadi bersemangat kembali untuk menjalani hidup dan pelayanannya mereka di dunia. Kebangkitan Yesus telah membawa perubahan dalam diri para murid dari dukacita menjadi sukacita. Dari tidak berpengharapan menjadi berpengharapan. Kiranya peristiwa kebangkitan Yesus yang kita rayakan setiap tahun dapat membangkitkan iman dan pengharapan kita, sehingga kita mampu menghadapi wabah virus Covid-19 yang masih merebak di Indonesia saat ini.

Andalan

Petunjuk Singkat Menulis Paper Teologi

Sumber Gambar: Pinterest

Mengapa Menulis Paper?
Mengapa kita sebagai mahasiswa harus menulis paper? Pertama, karena ini tanggaung jawab sebagai seorang mahasiswa atau sarjana dalam dunia akademik. Kedua, untuk memberikan kontribusi pemikiran kita bagi bidang ilmu tertentu dan masyarakat luas. Penulisan paper teologis, seharusnya mempunyai interaksi dengan teks Alkitab; juga ada interaksi dengan para teolog lain untuk menjaga terjadinya kesalahan sendiri. Selain itu, ada integrasi antara penelitian dan pemikiran kreatif.

Langkah-Langkah Menulis
Berikut ini saya akan menjelaskan secara singkat bagaimana menulis paper teologi dengan baik:

  1. Membaca adalah kunci utama sebelum menulis. Keahlian membaca meliputi beberapa hal yaitu: a) Menangkap isi dari bacaan/informasi yang disampaikan. b) Mengamati relasi antara satu bacaan/informasi dengan bacaan/informasi yang lain. c) Menganalisa bacaan/informasi yang disampaikan.
  2. Ketika mereview sebuah buku atau artikel jurnal, buatlah suatu kerangka bacaan supaya dapat dimengerti struktur argumentasi dengan tepat, apa yang dibicarakan dan bagaimana hal tersebut diutarakan. Berdasarkan sumber-sumber yang dibaca, tanyakan juga tujuan pengarang dari buku/artikel jurnal; pertanyaan apa yang pengarang sedang coba untuk jawab.
  3. Langkah selanjutnya adalah memilih/menentukan topik. Dalam menentukan sebuah topik perlu untuk mempertimbangkan beberapa hal ini: Apakah materi literatur untuk penulisan paper sudah tersedia dan cukup memadai? Apakah materi yang didapat untuk topik cukup mudah dimengerti atau dikuasai? Apakah si penulis sudah terbiasa dengan topik yang akan diteliti? Apakah topik yang dipilih memang adalah topik yang unik dan jarang dibahas pihak lain? Selain itu, topik dan panjang paper harus sesuai dengan waktu yang tersedia. Semakin banyak halaman dipersyaratkan, semakin banyak tulisan yang harus dibaca.
  4. Setelah menentukan topik, maka buatlah struktur/kerangka penulisan. Kerangkan tulisan seperti sebuah peta, yang berfungsi untuk mengarahkan tulisan kita tepat sasaran. Secara umum, dalam pembuatan karangka mencakup pendahuluan, tubuh/isi, penutup dan daftar pustaka. Elemen-elemen ini harus ada dalam sebuah paper teologi.
  5. Setelah menulis paper, Anda perlu membacanya kembali dengan kritis. (Belajarlah mengkritisi paper sendiri. Hal ini perlu untuk mencegah kita dari argument yang tak jelas dan tak benar). Hal-hal yang perlu diperhatikan di sini adalah apakah urutan babnya sudah tepat atau belum. Lihat susunan kalimatnya; apakah sudah benar sesuai dengan EYD atau belum. Supaya tulisan Anda lebih bermutu, Anda bisa meminta teman atau dosen Anda yang mendalami topik yang Anda tulis untuk memberikan feedback atas tulisan Anda.
  6. Karena teologi adalah sebuah tugas spiritual, maka seluruh penulisan paper harus didukung dengan doa.

Selamat mencoba. Tuhan memberkati!

Andalan

Antropologi Teologis

Sumber Gambar: Pinterest

Asal Mula Manusia
Antroplogi ilmiah membahas tentang sejarah manusia, struktur psikologis dan ciri-ciri fisik manusia secara umum, sifat masyarakat dari suku-bangsa tertentu, juga dalam kaitannya dengan perkembangan etnologis, linguistik, kebudayaan dan agama mereka. Namun antropologi teologis, hanya membahas pengalaman manusia dalam kaitannya dengan Allah. Alkitablah sebagai sumber satu-satunya. Tulisan ini akan mendiskusikan antropologi teologis, yang dibagi ke dalam dua bagian besar yaitu Asal Mula Manusia dan Manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah.

A. Penjelasan Alkitab tentang Penciptaan Manusia
Apa yang dapat disimpulkan tentang penciptaan manusia menurut iman Kristen berdasarkan Kejadian 1-2? Louis Berkhof memberikan 5 poin istimewa, sebagai berikut:

  1. Man’s creation was preceded by a solemn divine counsel. Penciptaan manusia dimulai dengan pertimbangan di dalam diri Allah sendiri. Dalam Kejadian 1:26 Allah berfirman: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…” [Beberapa pilihan tafsiran tentang “Kita”: plural of majesty; plural of communication with angels; plural of self-exhortation].
  2. The creation man was in the strictest sense of the word an immediate act of God. Penciptaan manusia merupakan sebuah tindakan Allah tanpa mediasi. Untuk mencipta tumbuh-tumbuhan dan hewan, Alkitab mencatat bahwa Allah berfirman: “Hendaklah….” Tetapi ketika berbicara tentang penciptaan manusia, Alkitab mencatat: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya.…” Sebuah kalimat yang mengindikasikan perbuatan langsung Allah, tanpa mediasi.
  3. In distinction from lower creatures man was created after a divine type. Berbeda dengan ciptaan yang lebih rendah, manusia dicipta menurut peta ilahi.
  4. The two different elements of human nature are clearly distinguished. Ada dua elemen yang berbeda dari natur manusia dibedakan secara jelas dalam Kejadian 2:7. Bagaimana manusia menjadi makhluk yang hidup tercatat dalam kisah itu (bdk. Pkh. 12:7; Mat. 10:28; Luk. 8:55; 2 Kor. 5:1-8; Flp. 1:22-24; Ibr. 12:9).
  5. Man is at once placed in an exalted position. Manusia ditempatkan pada posisi mulia. Alkitab menceritakan bahwa manusia ditaruh di atas seluruh ciptaan yang lain. Ia dimahkotai sebagai “penguasa” dan diberi kuasa untuk menguasai seluruh ciptaan yang lain. Perhatikan kalimat ini: “… supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (1:26). Selanjutnya, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (1:28).

B. Pandangan Teori Evolusi Mengenai Asal Mula Manusia
Ada banyak teori yang telah dikemukakan untuk menjelaskan asal mula manusia, salah satu yang terkenal adalah teori evolusi. Kita akan membicarakan teori ini dengan ringkas berikut ini.

  1. Pernyataan teori. Teori evolusi tidaklah selalu dinyatakan dalam bentuk yang sama. Teori ini kadang menyatakan bahwa manusia berasal dari salah satu spesies kera anthropoid yang ada sekarang, atau bahwa manusia dan kera tingkat tinggi mempunyai satu nenek moyang yang sama. Apapun pernyataannya, naturalistic evolution stated that: man descended from the lower animals, body and soul, by a perfectly natural process, controlled antirely by inherent forces. Secara prinsip ini berarti ada suatu kontinuitas antara dunia binatang dengan dunia manusia. [Teolog, Herman Bavinck mengakui kedekatan – kinship – antara penciptaan binatang dengan manusia – tetapi juga menunjukkan adanya perbedaan yang mendasar]. Teistik evolution secara sederhana menerima proses evolusi sebagai cara yang dipakai Allah.  Kadang ini diungkapkan dengan kondisi, di mana Allah menjembatani antara dunia inorganic dengan dunia organic dan antara dunia irrasional dengan dunia rasional. Ketika Allah bertindak maka diakui bahwa evolusi tidak berfungsi. Dengan sendirinya, teori ini bukanlah teori evolusi murni. Dalam hal manusia, tubuh manusia mengikuti proses evolusi, kemudian Allah mengaruniakan tubuh ini dengan jiwa rasional. Pandangan evolusi teistik banyak dipegang oleh golongan Roma Katolik.
  2. Keberatan: (a) Kejadian 1-2 mangajarkan kepada kita bahwa manusia adalah: the product of a direct and special creative act of God, rather than of a process of development out of the simian stock of animals. [Ada pendapat bahwa Kejadian 2:7 mengisyaratkan bahwa tubuh manusia berasal dari binatang yang memang berasal dari debu. Evolusi berpendapat bahwa manusia berada dalam levelnya yang paling rendah pada awalnya – secara perlahan berkembang dari brutal primitive menjadi lebih beradab – Alkitab tidak demikian]. (b) Teori evolusi tidak mempunyai an adequate basis in well established facts. Teori ini masih bersifat hipotesis dan karena ini tidak bisa dipercaya kebenarannya.

C. Asal Mula Manusia dan Kesatuan Umat Manusia

  1. Seluruh umat manusia barasal dari satu pasang manusia.  Ayat mana saja yang menunjukkan hal itu? Perhatikan Kejadian 3:20 dan dalam PB, Kisah Para Rasul 17:26. Louis Berkhof mengatakan bahwa, manusia mempunyai sebuah kesatuan yang spesifik, kesatuan dalam arti bahwa semua manusia sama-sama memiliki natur manusiawi yang sama, namun juga kesatuan genetic atau genelogis.
  2. Manusia dibentuk dari debu dan nafas hidup dari Allah. Kejadian 2:7 menceritakan bahwa, “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Terindikasi ada dua unsur yang membentuk manusia, yaitu debu dan nafas hidup. Apakah kedua unsur pembentuk manusia itu unik? Agaknya tidak. Sebab Kejadian mengisahkan bahwa binatang juga berasal dari debu dan mempunyai nafas hidup, khususnya binatang darat. Perhatikan Kejadian 1:24 yang menyebutkan, berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi (tanah) mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Kejadian 1:30 menyebutkan, kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa (TNIV – everything that has the breath of life in it), Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya. Dua unsur pembentuk manusia itu juga ada pada binatang darat. Manusia memang mempunyai dua unsur pembentuk yang menjadikannya makhluk yang hidup, namun manusia harus dilihat sebagai satu keasatuan dari tubuh dan jiwa. Debu dan nafas Allah membentuk satu kesatuan dalam menjadikan manusia sebagai makhluk yang bergerak – hidup.

Pemahaman kesatuan antara dua unsur pembentuk manusia ini penting. Alkitab tidak mengajarkan paralelisme dari dua unsur. Roh berdiri sendiri tanpa tubuh atau sebaliknya tubuh hidup sendiri tanpa rohnya. Berkhof menulis demikian: “Every act of man is seen as an act of the whole man. It is not the soul but the man that sins; it is not the body but man that dies; and it is not merely the soul, but man, body and soul, that is reddemed in Christ.” Jadi, meskipun Alkitab mengindikasikan adanya dua unsur dalam diri manusia, namun Alkitab menekankan kesatuan organis kedua unsur tersebut dalam diri manusia.

Catatan tambahan: Ada pandangan yang berpendapat bahwa kepada unsur yang lebih rendah yaitu materi – ditambahkan unsur lain yang lebih tinggi yaitu “soul” atau jiwa dan “spirit” atau roh. Pandangan ini berpendapat bahwa, manusia terdiri dari tiga unsur yaitu: tubuh (materi), jiwa (soul) dan roh (spirit). Pandangan ini disebut pandangan trikotomi. Trikotomi berbeda dengan pandangan sebelumnya, yang berpendapat bahwa manusia hanya terdiri dari dua unsur: tubuh (materi) dan roh (spiritual). Pandangan sebelumnya, disebut pandangan dikotomi. Berkhof berpendapat bahwa, jiwa dan roh digunakan dalam Alkitab secara bertukaran, sehingga kedua kata itu sebenarnya menunjuk pada elemen yang sama.

Manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah
Manusia sebagai gambar Allah adalah satu pokok yang paling penting dari ajaran tentang penciptaan manusia di dalam Alkitab. Citra diri manusia sebagai gambar Allah menjadi penekanan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Perhatikan beberapa ayat berikut ini: Kejadian 1:26-27; 5:1-2; 9:6; Perjanjian Baru di 1 Korintus 11:7; Kolose 3:10;  Yakobus 3:9.

Kata “gambar” (image) dan “rupa” (likeness) digunakan secara synonymously and interchangeably, sehingga tidak merujuk kepada dua hal yang berbeda.  Jika pengertiannya sama, mengapa harus disebutkan dua? Jawabannya adalah kata rupa (likeness) ditambahkan untuk memperkuat bahwa gambar itu benar-benar mirip – a perfect image.  Fakta bahwa manusia adalah gambar Allah membedakan ia dengan binatang dan dari semua ciptaan Allah yang lain.

A. Apa Konsep yang Terkandung dalam Kata “Gambar Allah”?

  1. Gereja-gereja Reformed mengikuti jejak John Calvin, mempunyai konsepsi yang lebih komprehensif dibandingkan Lutheran maupun Roma Katolik. Pandangan teologi Reformed tentang gambar Allah ada pada: 1) Jiwa atau Roh manusia, yaitu, kualitas sederhana, spiritual, tidak terlihat, dan immortal. 2). Kekuatan fisik atau fakultas manusia sebagai makhluk rasional dan moral, yaitu akal dan kehendak dengan fungsi-fungsinya. 3) Integritas moral dan intelektual dari natur manusia, yang nyata dalam pengetahuan sejati, kebenaran, dan kekudusan (Ef. 4:24; Kol. 3:10). 4) Tubuh manusia, bukan sebagai suatu substansi materi, tetapi sebagai organ yang pas untuk jiwa, yang berbagian dalam kekekalan; dan sebagai instrumen di mana manusia dapat melaksanakan penguasaannya atas makhluk lain. 5) Kuasa manusia atas bumi. Ada dua bagian dari Gambar Allah: a) Bagian yang esensial. Bagian ini tidak dapat hilang, sebab bila hilang, manusia berhenti menjadi manusia. b) Bagian yang dapat hilang tetapi manusia tetap sebagai manusia, yaitu: the good ethical qualities of the soul and its powers. Ini sering disebut sebagai original righteousness. It is the moral perfection of the image, yang dapat hilang, dan telah hilang, karena dosa.
  2. Gereja-gereja Lutheran – sesuai dengan pandangan Luther – mempunyai konsep yang lebih terbatas tentang Gambar Allah ini. Meski ada beberapa yang berpandangan luas, tetapi mayoritas membatasinya pada kualitas spiritual yang dianugerahkan kepada manusia pada awalnya, yang sering disebut sebagai original righteousness. Karena pemahaman yang sempit ini, maka dalam paham Luther – malaikat dan binatang – tidak begitu berbeda dengan manusia. karena apa yang dimiliki manusia sebagai gambar Allah sudah hilang, maka manusia tidak begitu berbeda secara signifikan dari binatang. Pandangan Karl Barth juga sangat dekat dengan Lutheran, ketika ia mengatakan bahwa Gambar Allah bukan hanya rusak oleh dosa, tetapi hilang oleh dosa.
  3. Gereja-gereja Roma Katolik. Berkhof menjelaskan pandangan yang paling umum dalam gereja-gereja Roma Katolik. Allah mengaruniakan tiga karunia natural bagi manusia, yaitu spiritualitas, kebebasan kehendak, dan kekekalan tubuh. Ketiganya ini disebut sebagai natural image of God. Allah kemudian mengatur karunia natural itu mulai dari yang rendah sampai yang tinggi. Harmoni akibat pengaturan ini disebut Justitianatural righteousness. Meskipun demikian, dalam diri manusia tetap ada kecenderungan yang untuk memberontak, kecenderungan ini disebut concupiscence. Concupiscence sendiri bukanlah dosa. Ia akan menjadi dosa apabila dipuaskan oleh kehendak dan diaktualkan oleh perilaku. Dalam rangka menguasai concupiscence ini, Allah mengaruniakan dona supernaturalia kepada dona naturalia yang sudah ada. Dona supernaturalia termasuk original righteousness inilah yang hilang oleh dosa. Tetapi hilangnya karunia supernatural ini tidak menghilangkan natur esensial manusia.

Catatan tambahan: Kelompok Socianians dan beberapa Arminian awal mengatakan bahwa Gambar Allah terkandung dalam kuasa manusia atas ciptaan yang lebih rendah, dan hanya ini. Anabaptis mengatakan bahwa manusia pertama, belumlah gambar Allah, tetapi dapat menjadi gambar Allah hanya lewat kelahiran kembali. Pelagians dan kebanyakan Arminian, seluruh rasionalis, dengan sedikit variasi, menyatakan Gambar Allah ditemukan dalam personalitas bebas dari manusia, karakter rasional, disposisi etisreligiusnya, dan kehidupan manusia dalam perksekutuan dengan Allah.

B. Dicipta untuk Kemuliaan Allah
Tujuan penciptaan adalah untuk kemuliaan Allah. Langit menceritakan kemuliaan Allah (Mzm. 19:2), demikian juga seharusnya manusia yang diciptakan Allah. Maka kita dapat mengatakan bahwa, manusia yang dicipta dalam gambar dan rupa Allah selain supaya mereka dapat berkuasa atas ciptaan yang lain, dan dapat menjalankan tugas sebagai wakil (representative) Allah di bumi, juga supaya mereka memuliakan Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya? Memuji Dia? Benar. Tetapi yang tepat adalah menaati firman-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Manusia pertama menjadi contoh bagi kita. Adam dan Hawa harus menaati firman untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, meski mereka tidak mengerti mengapa. Yang penting adalah firman itu jelas bagi mereka. Menaati firman atau ketaatan adalah dasar atau langkah awal memuliakan Allah. Mengapa? Karena di dalam ketaatannya, Adam dan Hawa tidak akan mengalami kehilangan kemuliaannya yang merupakan percikan kemuliaan Allah. Roma 3:23, Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”  Bila Adam dan Hawa taat, mereka tentu tetap memiliki kemuliaan Allah, yang merupakan kunci agar mereka dapat memancarkan kemuliaan Allah. Di dalam ketaatan manusia terhadap firman Allah, terpancar kekuatan kemuliaan Allah.

Daftar Kepustakaan
Berkhof, Louis. 2016. Teologi Sistematika Volume 2: Doktrin Manusia. Surabaya: Momentum.

Andalan

Apa Itu Soteriologi?

Sumber Gambar: Pinterest

Definisi dan Relasi
Apa itu Soteriologi? Soteriologi adalah doktrin/pengajaran yang membahas tentang keselamatan orang Kristen. Soteriologi, sangat erat sekali hubungannya dengan Kristologi (nanti di lain kesempatan saya akan membahas apa itu Kristologi). Mengapa demikian? Karena keselamatan dalam iman Kristen adalah hasil karya Yesus Kristus. Seluruh hidup dan karya Kristus adalah demi keselamatan umat pilihan-Nya. Orang percaya menerimanya secara cuma-cuma (pemberian Allah). Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa soteriologi sebenarnya membahas tentang berkat keselamatan yang diperoleh orang percaya secara cuma-cuma karena kesempurnaan hidup dan karya Yesus Kristus.

Teolog, Herman Bavinck, membedakan 3 kelompok berkat keselamatan dalam hubungan dengan dosa:
Guilt (melanggar perjanjian kerja Allah) – mengembalikan relasi manusia dan Allah – iluminasi Roh Kudus – Nabi, karena hubungan kita sudah dipulihkan (melihat ke belakang).
Pollution (gambar Allah hilang/pemulihan) – memperbaharui – melahirbarukan/lahir baru – Imam, karena gambar Allah sudah dipulihkan (melihat kepada Kristus sebagai Imam besar).
Misery (tunduk di bawah kuasa kehancuran) – membebaskan kita dari penderitaan – Roh Kudus adalah jaminan bagian kita seluruhnya – Raja (melihat ke depan kepada kedatangan Kristus).

Dua Sudut Pandang
Ada yang berkata, lebih baik menyatakan bahwa soteriologi berhubungan dengan the application of the work redemption. Yang lain berkata, lebih baik menyatakan bahwa soteriologi berhubungan dengan the appropriation of salvation. Apa bedanya? Perbedaannya adalah pada sudut pandangnya. Apabila keselamatan dilihat secara teologis sebagai karya Allah, maka kata “application” lebih tepat. Namun bila sudut pandangnya adalah antroplogis – maka kata “appropriation” lebih menggambarkan itu. Kata itu menekankan usaha dalam memperoleh keselamatan: penerimaan atau penolakannya.

Ordo Salutis
Ordo salutis berbicara tentang proses di mana karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus, secara subyektif, direalisasikan dalam hati dan hidup orang berdosa. Ordo salutis bertujuan untuk menjelaskan urutan logis, juga inter-relasi berbagai pergerakkan Roh Kudus dalam menerapkan karya penebusan Kristus. Penekanannya, tentu, bukan pada apa yang dilakukan oleh manusia dalam “mendapatkan” keselamatan tetapi pada apa yang Allah lakukan dalam mengaplikasikan anugerah-Nya.

Berbicara tentang urutan keselamatan (ordo salutis), hendaklah selalu diingat bahwa seluruh proses itu merupakan suatu kesatuan – a unitary process. Namun tiap proses dapat dibedakan dan terjadi dalam urutan logis-definit. Ordo salutis meyakinkan bahwa Allah tidak bekerja sekaligus – in a single act – dalam menerapkan anugerah keselamatan-Nya. Mengapa demikian? Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah Alkitab memang menunjukkan adanya urutan keselamatan tersebut? Urutan tersebut meski tidak secara detail/lengkap disebutkan, namun itu dapat ditemukan dalam Roma 8:29-30. Perhatikan kutipan ayat berikut ini:

Roma 8:29-30 mencatat, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Meskipun Alkitab tidak menyebut secara lengkap tentang seluruh urutan keselamatan, ayat di atas memberi dasar adanya suatu urutan logis keselamatan (ordo salutis).

Ordo salutis adalah buah reformasi. Tidak ditemukan karya yang sama pada zaman skolastik. Masa sebelum reformasi jarang ada pembahasan terpisah tentang keselamatan. Bahkan Peter Lombard dan Thomas Aquinas hanya membahas inkarnasi, setelah itu lanjut pada gereja dan skramen. Apa yang mereka sebut sebagai soteriologi adalah di Fide et de Poenitentia (iman dan penghukuman). Bona Opera (perbuatan baik) juga mendapat perhatian. Karena kelompok Protestan, timbul kritik terhadap pandangan tentang iman dari Roma Katolik, maka wajar bila asal-mula serta perkembangan kehidupan baru dalam Kristus menjadi perhatian kelompok Protestan. Teolog, John Calvin, merupakan orang pertama yang mengelompokkan berbagai bagian ordo salutis dalam cara yang sistematis, namun pengelompokannya, menurut Abraham Kuyper, juga bersifat subyektif, karena secara formal lebih menekankan aktivitas manusia daripada aktivitas Allah. Teolog Reformed kemudian hari mengoreksi kesalahan ini.

Andalan

Mengenal Kitab Amos: Seri Pemahaman Kitab Amos

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan
Dosa Israel sudah sangat parah, sehingga Allah memanggil Amos untuk menegur bangsa itu. Dengan berani ia menyerukan keadilan dan pada saat yang sama mengecam orang-orang kaya yang hidup sejahtera dari hasil penindasan kaum miskin.

Siapakah Amos? Bagaimana pembaca dapat memahami nubuat-nubuat yang tercantum dalam kitab Amos? Inilah maksud tulisan ini dibuat, yaitu supaya pembaca budiman dapat memahami secara utuh kitab Amos.

Latar Belakang Kitab Amos
Sebelum kita meninjau isi dari kitab Amos, ada baiknya jika kita memahami terlebih dahulu latar belakang kitab ini, yang meliputi penulis dan waktu penulisan, keadaan politik, ekonomi, sosial dan agama, serta maksud penulisan kitab ini.

Penulis dan Waktu Penulisan
Sejarah mengenai terbentuknya kitab ini tidak dapat dipastikan. Di sini, kita hanya dapat menduga-duga bahwa, mungkin Amos yang telah menulis kitab ini sewaktu ia kembali ke Tekoa. Atau bisa juga murid-muridnya di Israel Utara yang telah menuliskan nubuat-nubuatnya. Mengenai waktu penulisan kitab Amos secara tradisional dianggap telah ditulis pada akhir dari masa pemerintahan raja Yerobeam II, yakni sekitar 760 SM (Hill & Walton, 2008: 610).

Keadaan Politik, Ekonomi, Sosial dan Agama
Amos memulai karya kenabiannya ketika Uzia (Azarya) menjadi raja di kerajaan Yehuda dan Yerobeam II menjadi raja di Israel Utara (Am. 1:1; bdk. 2Raj. 14:17 – 15:7 dan 2Taw. 26). Dari segi politik dan ekonomi, kedua raja tersebut mendatangkan kestabilan dan kemakmuran pada kerajaan mereka masing-masing. Batas-batas kawasan diperluas melalui kekuatan militer. Yerobeam II mengembalikan daerah Israel dari jalan masuk ke Hamat sampai ke laut Araba (lih. 2Raj. 14:25). Sedangkan, Uzia membangun perbentengan dan membuat jalan-jalan perdagangan (lih. 2Taw. 26). Faktor eksternal yang mendukung kesuksesan ini adalah situasi Kerajaan Asyur yang pada saat itu sedang melemah (Jarot Hadianto, 2017: 33).

Tekstur sosial masyarakat Israel pada masa Amos ditandai oleh ketidakadilan di pengadilan (5:10-12) dan kekacauan di pasar-pasar (8:4-6). Orang miskin telah menjadi mangsa orang kaya (C. Hassell Bollock, 2009: 108-109).

Di tempat-tempat suci di Israel Utara, upacara-upacara agama terus dipelihara, tetapi hal itu diadakan bergandengan dengan sifat kefasikan. Dalam kondisi seperti inilah, Allah memanggil Amos untuk bernubuat tentang penghukuman yang akan menimpa Israel

Maksud Penulisan Kitab
Kitab ini ditulis dengan maksud menegaskan kepada para pembaca tentang hubungan Allah dengan bangsa-bangsa asing dan umat-Nya secara khusus. Bangsa-bangsa yang melakukan kejahatan atau melanggar norma-norma Allah akan dihukum. Demikian pula dengan umat-Nya. Akan tetapi, pengampunan Allah juga tersedia bagi mereka yang mau bertobat dari jalan yang salah.

Penjelasan Isi Kitab
Kitab Amos terdiri atas lima bagian, yaitu pengantar, nubuat-nubuat, perkataan-perkataan,  penglihatan-penglihatan dan penutup. Kita akan meninjau kelima bagian ini secara ringkas.

a. Pengantar 1:1-2
Pengantar dalam 1:1-2, tidak berasal dari pengarang, namun dari editor yang disusun pada akhir pasca kehancuran Kerajaan Yehuda, yaitu sekitar tahun 587 SM (Hadianto, 2017: 35). Dari pengantar ini, kita diperkenalkan dengan Amos, tokoh yang Tuhan pakai untuk memberitakan firman-Nya kepada Israel. Nama Amos artinya, “membawa” atau “dia telah membawa.” Nama ini, kemungkinan merupakan versi singkat dari Amasia (2Taw. 17:16) yang berarti “YHWH telah membawa.” Yang dimaksud dengan “membawa” di sini adalah “menghadirkan” ke dunia” atau “melahirkan.” Dengan demikian, nama Amos dapat diartikan sebagai orang yang dilahirkan YHWH. Betapa eratnya hubungan Amos dengan Tuhan. Kita bisa melihat hal ini, misalnya, dalam Amos 7:8 dan 8:2, di mana di situ Tuhan secara langsung menyapa nama sang nabi (Hadianto, 2017: 31).

Amos berasal dari sebuah desa yang bernama Tekoa (1:1). Desa ini merupakan sebuah desa pertanian yang terletak kirakira 19 km di sebelah selatan Yerusalem (Hill & Walton, 2008: 609), sekaligus merupakan daerah perbatasan yang menjadi titik pemisah antara wilayah yang subur dan wilayah padang gurun yang tandus, yang mengarah ke Laut Mati. Karena terletak di atas bukit, dari Tekoa orang bisa melihat Gilead, Amon, Moab, dan Edom yang terbentang di bagian timur, serta Yerusalem, Samaria, Damsyik, dan Funisia yang berada di bagian utara. Nubuat-nubuat Amos terarah kepada mereka yang tinggal di daerah-daerah tersebut (Hadianto, 2017: 31).

Mengenai pekerjaannya, sejak awal kita sudah diberitahu bahwa, Amos adalah seorang “peternak domba” (1:1) dan “pemungut buah ara hutan” (7:14-15). Dari data ini, sebaiknya kita tidak buru-buru menganggap bahwa Amos ialah seorang yang miskin. Hanya orang kaya yang bisa menjadi peternak domba, sebab itu berarti dirinyalah pemilik domba-domba itu (bdk. 2Raj. 3:4).

Sementara itu, memungut buah ara hutan memang pekerjaan kasar, yang biasanya dikerjakan oleh orang upahan. Namun, perlu diingat bahwa di pasal 7:1415, Amos agaknya sedang merendahkan diri dalam rangka menyindir Imam Amazia yang mengusir dirinya. Bagi Amos, memungut buah ara hutan adalah pekerjaan sampingan yang semakin membuatnya kaya. Ia bisa saja menyuruh para pekerja untuk melakukannya (Hadianto, 2017: 32). Itulah biografi singkat tentang Amos.

Mengenai kapan terjadinya gempa bumi, kita  tidak dapat memastikan. Peristiwa itu, barangkali, telah mendorong Amos mengumumkan nubuatnya. Frasa “TUHAN mengaum dari Sion dan dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya” (ay. 2), sebenarnya, mempunyai arti yang sama, yaitu Allah akan berbicara dan bertindak dengan cara yang dahsyat, sehingga membuat segala-galanya terkejut dan takut.

Begitulah sifat pesan yang harus disampaikan Amos: Tuhan datang (akan bertindak) untuk menjalankan hukuman. Terhadap siapakah hukuman ini? Inilah yang akan dibahas dalam bagian selanjutnya.

b. Nubuat-nubuat 1:3–2:16 
Amos memulai nubuatnya pertama-tama kepada bangsa-bangsa di sekitar Israel, yaitu Damsyik, Gaza, Tirus Edom, Amon, Moab, Yehuda dan puncaknya adalah Israel. Bullock menjelaskan bahwa, sabda-sabda kepada bangsa-bangsa tetangga mempunyai tujuan, yaitu mendapatkan persetujuan para pendengar. Lalu, setelah para pendengar berhasil dibujuk untuk menerima penilaian sang nabi terhadap tetangga-tentangga mereka, barulah Amos membalikkan keadaan dan menghakimi mereka sesuai dengan patokan yang sama (Bullock, 2009: 87).

Karena terbatasnya ruang dan watu, maka kita tidak akan membahas nubuat-nubuat atas bangsa-bangsa ini secara tuntas. Di sini, kita hanya membahas nubuat-nubuat atas Israel. Mari saya mengajak kita melihat isi dari ucapan-ucapan ilahi kepada Israel dalam 2:6-16.

Kata yang diterjemahkan dengan “perbuatan jahat” dalam 2:6a mungkin lebih tepat bila diterjemahkan dengan “perbuatan durhaka” (bdk. Mzm. 32:5; 65:4; 89:35; 107:17). “Perbuatan durhaka” adalah salah satu istilah yang keras untuk dosa/kejahatan (B. J. Boland, 2017: 11).

Selanjutnya, Amos menyebutkan daftar dosa yang mereka lakukan, yaitu: “Mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut” (6c). Orang miskin yang tanpa kesalahan, dijual sebagai budak oleh orang-orang kaya (bdk. 2Raj. 4:1). Tanpa belas kasihan, orang-orang kaya itu menuntut uang dari orang-orang miskin. “Mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara” (7a). Maksudnya adalah: orang-orang kaya itu, tidak peduli sama-sekali akan kepentingan/hak, bahkan nyawa orang miskin; jika orang miskin menghalangi kepentingan mereka, maka orang itu diinjak-injak atau didorong ke samping (bdk. Ayb. 24:4). Berkenaan dengan kata “membelokkan,” mungkin maksudnya adalah orang-orang kaya itu menyogok para hakim, sehingga orang-orang miskin tidak mendapatkan keadilan (bdk. Kel. 23:2).

Frasa “perempuan muda” dalam ayat 7b sebaiknya diterjemahkan sebagai “perempuan pelacur.” Perempuan muda/pelacur muda ini biasanya membaktikan diri di tempat-tempat peribadatan, menurut sifat agama orang Kanaan. Pengaruh agama Kanaan ini yang terus-menerus dilawan oleh para nabi (bdk. Hos. 4:14. Ul. 23:17). Ayat 8 berbicara mengenai keadaan keagamaan  dan ibadat. “Mereka merebahkan diri di samping setiap mezbah,” maksudnya berpura-pura mengadakan perjamuan korban, padahal makan-minum sekanyang-kenyangnya. Dan mereka melakukannya “di atas pakaian gadaian orang,” yaitu pakaian yang telah digadaikan oleh orang miskin. Dikatakan juga, “mereka minum anggur orang-orang yang kena denda di rumah Allah mereka.” Maksudnya orang-orang miskin yang hasil pohon anggurnya dirampas orang-orang kaya dengan bantuan pengadilan yang korup, mengadakan perjamuan minum di rumah ibadat.

Ayat 11-12 menceritakan bagaimana Tuhan telah mengangkat juru-bicara yang kudus/nabi untuk memberitakan kehendak-Nya kepada Israel. Ia juga mengirim para nazir sebagai teladan hidup kudus. Namun, mereka menolak para nabi Tuhan dan merusak orang-orang kudus-Nya (nazir). Oleh sebab itu, hukuman Allah akan menimpa mereka (13). Bagi orang yang cepat kaki, kekuatan orang yang berkuasa, orang yang berkuda dan prajurit yang gagah berani pun tidak dapat meloloskan diri dari hukuman Tuhan (14-16).

c. Perkataan-perkataan 3:1–6:14
Pasal 3 ditujukan kepada Israel secara umum, yakni Israel Utara dan Yehuda (3:1). Allah telah memilih Israel sebagai umat-Nya. “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi.” Namun, Israel melakukan tindakan melawan Allah. Karena itu, Allah akan menghukum mereka karena segala kesalahannya” (2).

Singa telah mengaum (4); jerat Allah sudah dipasang untuk umat-Nya yang tidak taat (5), dan sangkakala yang mengerahkan kuasa-kuasa jahat terhadap umat-Nya hampir ditiup (6). Allah sedang memberikan peringatan yang cukup kepada umat-Nya oleh suara nabi-Nya (ay. 7, 8). Amos bernubuat  bahwa, musuh-musuh Israel, yaitu Asyur dan Mesir akan berkumpul untuk untuk melawan Samaria (9). Tidak ada seorang pun yang akan mempersembahkan korban atas mezbah yang didirikan Yerobeam I, sebab mezbah-mezbah itu akan dihancurkan (13, 14). Balai musim dingin dan balai musim panas yang mewah dari raja-raja dan para bangsawan akan dirusakan, dan rumah-rumah gading yang mewah akan binasa (15).

Pasal empat, dimulai dengan teguran Amos kepada kaum wanita yang menjadi pemimpin dalam percabulan dan pemerasan. “Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Bazan.” Wanita-wanita ini menuntut pemuasan keinginan jasmaninya, meskipun harus “menginjak orang miskin.” Mereka mengajak suami mereka untuk menyediakan perlengkapan pesta dan turut serta dalam pesta-pora mereka (1).

Yahweh telah bersumpah demi kesucian-Nya bahwa, orang-orang jahat ini akan ditangkap dengan “kait” hukuman-Nya dan akan dipindahkan dari kesenangan mereka kepada tawanan (3). Seperti ternak dengan segera melalui celah-celah dip agar, begitu pula mereka akan keluar ada waktu Samaria ditaklukkan (3).

Dengan nada menyindir, nabi menyuruh bangsa Israel melakukan penyembahan di Betel dan di Gilgal, dengan demikian menambah kejahatan mereka (4). Mereka disuruh mempersembahkan kurban syukur dengan ragi (ay. 5) (kebalikan dari aturan ilahi). Dalam ayat 6-11 adalah daftar hukuman Yahweh kepada bangsa ini: kelaparan, kekeringan, hama pada tanaman, penyakit sampar dan mungkin gempa bumi. Namun semuanya itu sia-sia, “kamu tidak berbalik kepada-Ku” (11).

Mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari murka yang akan menimpa mereka. “Bersiaplah untuk bertemu dengan Allahmu,” kata Amos (ay. 12). Allah yang mahakuasa kini hendak “bertemu” dengan mereka dalam murka-Nya yang dahsyat (13).

Dari gaya bahasanya, ayat 1 tampaknya tidak termasuk dalam nyanyian ratapan, melainkan merupakan judul. Sepertinya, ayat 2 dan 3 diucapkan Amos ketika umat itu menghadiri perayaan di Betel (bdk. 7:10-17). Di tengah-tengah keramaian nyanyian-nyanyian pesta dan musik gambus (5:23) tiba-tiba terdengar suatu ratapan. “Telah rebah, tidak akan bangkit-bangkit lagi anak dara Israel” (2). Amos melihat dalam angan-angannya bagaimana anak dara itu terhantar, dan ia terkapar di atas tanah. Di sini juga dilukiskannya tentang keruntuhan Israel dengan gambaran peperangan, “anak dara” itu akan tewas dalam peperangan (ay. 3).

Hukuman atas Israel sudah pasti terjadi, namun Amos menyadarkan mereka akan anugerah Allah. “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (4). Jadi, masa depan Israel bergantung pada tanggapan mereka terhadap anugerah Allah, “mungkin Tuhan, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf” (15).

Dalam 5:18-27 nabi menyerukan celaka atas Israel yang tidak mau bertobat. Mereka yang tidak mau bertobat ini akan berakhir dengan pembuangan ke sebarang Damsyik. Hari Tuhan yang menurut Israel adalah kemenangan, nyatanya adalah hari kecelakaan besar bagi mereka. Amos mengubah konsep mereka tentang hari Tuhan dan menyatakan bahwa, hari itu adalah hari kegelapan paling kelam bagi mereka (18).

Sabda Amos dalam 6:1-14 ditujukan kepada para pemimpin Samaria yang telah dibuai oleh rasa aman yang semu. Mereka berfoya-foya, mereka makan dan minum dan bergembira (1-6); mereka merasa aman dalam kekayaan dan kekuasaan mereka (8); mereka bergembira atas sukses mereka di lapangan politik luar negeri (13); mereka tidak menghiraukan keadaan-keadaan buruk di dalam negeri (12). Oleh karena kesombongan mereka, maka Allah akan menghukum mereka dengan mendatangkan suatu bangsa lain untuk melawan mereka  (14).

d. Penglihatan-penglihatan 7:1 – 9:10 
Pada umumnya penglihatan-penglihatan Amos terbagi dalam lima bagian, yaitu penglihatan bencana belalang (7:1-3), penglihatan api (7:4-6), penglihatan tali sipat (7:7-9), penglihatan bakul yang berisi buah-buahan musim kemarau (8:113), dan penglihatan tentang Tuhan yang berdiri dekat mezbah (9:1-10). Kita akan meninjau kelima penglihatan tersebut secara ringkas.

Penglihatan pertama (7:1-3) melaporkan suatu wabah belalang di musim semi yang menghancurkan hasil panen, nabi itu menaikan doa syafaat bagi Israel, “Tuhan Allah, berikanlah kiranya pengampunan! Bagaimanakah Yakub dapat bertahan? Bukankah ia kecil?” (2). Tanggapan Tuhan terhadap doa nabi itu posistif. Tuhan menjawab: “Itu tidak akan terjadi, firman Tuhan” (3b).

Penglihatan kedua (4-6), menunjukkan bentuk yang sama. Tuhan menunjukkan kepada Amos api yang memakan habis negeri itu. Kedua kalinya Amos menjadi pengantara, “Tuhan Allah, hentikanlah kiranya. Bagaimanakah Yakub dapat bertahan, bukankah ia kecil?” (5). Pernyataan yang sama tentang tanggapan Tuhan terjadi: “Ini pun tidak akan terjadi, firman Tuhan” (6).

Dalam penglihatan ketiga (7-9), Amos melihat Tuhan berdiri dekat sebuah tembok dengan tali sipat di tangan-Nya, sedangkan Ia bertanya kepada Amos tentang identitas benda yang ditangan-Nya itu. Setelah mendapat jawaban dari Amos, Allah melanjutkan dengan ungkapan yang saya percaya mengejutkan Amos dan Israel. Tuhan tidak akan memaafkan mereka lagi (8).

Setelah penglihatan ketiga, lampirannya mengambil bentuk pertemuan antara Amazia, imam di Betel dan Amos (10-17). Amazia, pemimpin imam-imam berhala di Betel, ketika mendengar nubuat Amos terhadap rumah Yerobeam, menganggapnya sebagai perkara politik. Oleh sebab itu, Amazia dengan kekuasaannya berusaha membuat Amos meninggalkan Israel dan kembali ke Tekoa.

Amos tahu bahwa Allah yang memanggilnya, sehingga ia dengan tegas menolak dan mengucapkan hukuman kepada imam Amazia dan keluarganya (16 dan 17).

Penglihatan yang keempat tentang bakul yang berisi buah-buahan musim kemarau (8:1-13), menunjukkan bahwa Israel sudah siap untuk dihukum – “Kesudahan telah datang bagi umat-Ku Israel” (2). Nyanyian pesta yang terdengar di kuil Betel itu akan berubah menjadi ratapan dan jeritan, dan maut yang dahsyat akan berkuasa di keliling mezbah-mezbah berhala itu (3).

Pasal 8:4-14 merupakan sisipan yang berisi tuduhan yang pedas dan tajam terhadap para golongan atas Israel, yang menggemari kemewahan, dan yang menindas orang miskin. Terhadap mereka ini, perkabungan dan kesedihan pahit akan datang (Frank M. Boyd, 2006: 55).

Penglihatan yang kelima (9:1-10) agak berbeda  dengan empat  penglihatan sebelumnya. Pada penglihatan kelima Amos “melihat Tuhan berdiri dekat mezbah” (1). Tidak ada dialog di sini seperti penglihatan 3 dan empat, hanya perintah Tuhan untuk menghancurkan hulu tiang di tempat suci. Amanat dari penglihatan ini sama dengan amanat dalam 5:18-20–tidak ada jalan lolos ketika hukuman menimpa! (Bullock, 2009:  96).

Perkataan-perkataan dalam 3:1-6:14 dan penglihatan-penglihatan dalam 7:1-9:10 pada dasarnya mempertegas ucapan-ucapan nubuat melawan Israel utara, menekankan kepastian kehancuran dan pembuangan bangsa itu (Hill & Walton, 2008: 614).

e. Penutup 9:11-15 
Sekarang kita tiba pada bagian akhir kitab Amos. Ketika membaca bagian terakhir ini, tampak bahwa, suasananya tiba-tiba berubah. Benar-benar lain sama sekali. Padahal, di bagian sebelumnya Amos telah bernubuat bahwa, bangsa ini akan mengalami kegelapan yang kelam dan bukan terang (5:18-20). Oleh sebab itu, kita dapat katakan bahwa, bagian ini bukan ditulis oleh Amos, melainkan ditambahkan/disusun kemudian oleh editor pada akhir pasca kehancuran Kerajaan Yehuda, yaitu pada 587 SM (Hadianto, 2017: 35).

Pesan Teologis dari Kitab Amos
Pesan teologis dari Kitab Amos ini sangat jelas: Tuhan itu Allah yang adil. Ia mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, sebab semua manusia adalah ciptaan-Nya. Ia menghendaki agar semua orang berbuat baik kepada sesamanya sesuai dengan norma-norma yang sudah ditetapkan-Nya. Apabila umat-Nya melanggar norma-norma-Nya, maka Ia akan bertindak untuk menghukum mereka. Israel, yang adalah umat pilihan-Nya nyatanya melakukan dosa yang keji, yakni memperlakukan sesamanya dengan tidak adil. Ibadah yang mereka lakukan, tidak dilakukan dengan benar di hadapan Tuhan. Maka Allah harus menghukum mereka. Penghukuman yang diberitakan Amos, digambarkan sebagai “Hari Tuhan” yang paling kelam. Israel tidak dapat menghindarinya, kecuali mereka mau bertobat. 

Seperti halnya umat Israel, kita pun kerap kali melakukan tindakan-tindakan yang melawan norma-norma Allah. Kita cenderung memperlakukan sesama kita dengan tidak adil. Dalam konteks sosial, kita lebih menunjukkan sikap sopan kepada orang kaya atau yang memiliki jabatan tinggi dibanding kepada mereka yang miskin atau bodoh. Kita hanya mau bergaul dengan orang yang sesuku dengan kita. Kitab Amos mengajak kita untuk menghargai martabat manusia, tidak peduli siapa dia atau dari mana ia berasal. Semua orang sama di mata Tuhan. Semua orang patut dikasihi sebagaimana Allah mengasihi umat-Nya. Dalam konteks agama, kita juga cenderung melakukan kesalahan, misalnya, kita melakukan ibadah/pelayanan demi keuntungan diri sendiri atau kelompok kita. Kita melakukan pelayanan demi mendapat hormat atau imbalan Ini jelas merupakan tindakan-tindakan yang jahat di mata Tuhan. Tuhan menginginkan ibadah yang murni/sejati dari umat-Nya. Saya percaya, apabila ibadah dilakukan dengan ketulusan hati, maka ibadah tersebut memuliakan Tuhan dan pada saat yang sama mendatangkan berkat ke atas kita. Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat dipetik dari Kitab Amos.

Penutup
Dosa Israel yang sudah demikian hebatnya membuat Allah memanggil Amos untuk menegur bangsa itu. Amos bernubuat: “Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi. Bukit-bukit pengorbanan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan, dan Aku akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan pedang” (Am. 7:8-9). Akankah mereka selamat? Entahlah. Memang ada janji pemulihan di Amos 9:11-15, tetapi sebagaimana yang kita lihat dalam struktur kitab Amos, perikop ini adalah tambahan editor pada masa mendatang. Walaupun demikian, harapan bukannya tidak ada sama sekali. Di antara nubuat-nubuat Amos, Amos tetap mengisyaratkan kasih Allah terhadap Israel, yakni kalau mereka berbalik dari dosa yang mereka lakukan. “Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin Tuhan, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf” (Am. 5:15).

Daftar Kepustakaan
Boland, B. J. 2017. Tafsir Alkitab Kontekstual – Oikumenis. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Boyd, Frank M. 2006. Kitab Nabi-Nabi Kecil. Malang: Gandum  Mas.
Bullock, C. Hassell. 2009. Kitab Nabi-Nabi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas. 
Hadianto, Jarot. 2017. Mengenal Nabi & Kitab Para Nabi. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia. 
Walton, Andrewe E. Hill & John H. 2008. Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas.

Andalan

Perempuan Di Ruang Publik

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Jika kita mengamati masyarakat di sekitar kita, maka kita akan menjumpai fakta bahwa mereka cenderung membuat pembedaan antara laki-laki dan perempuan. Dalam banyak hal, laki-laki ditempatkan pada posisi atau kedudukan yang lebih unggul atas perempuan yang dianggap lemah. Laki-laki dianggap lebih cocok dengan pekerjaan di luar rumah (publik), sedangkan perempuan dianggap lebih cocok dengan pekerjaan di dalam rumah (memasak dan mengurus anak). Budaya patriak yang berakar dalam masyarakat Indonesia sungguh-sungguh telah merugikan kaum perempuan.

Baca juga: Miris Hari Perempuan Internasional

Lantas, bagaimana dengan pandangan kekristenan mengenai kedudukan perempuan di dalam gereja? Harus diakui bahwa orang Kristen juga turut membuat pembedaan antara peran laki-laki dan peran perempuan dalam pelayanan gerejawi. Padahal sebenarnya misi orang percaya adalah memberitakan Injil dan melayani sesama seturut pola hidup Tuhan Yesus tanpa membedakan status atau jenis kelamin. Semua orang Kristen dipanggil untuk melayani, bukan dilayani (Mat. 20:28; bdk. Mrk. 10:45).

Keterlibatan mereka cenderung dibatasi. Yang memegang jabatan sebagai pimpinan sinode/gereja umumnya adalah laki-laki. Akibatnya, kaum perempuan tidak mendapat kesempatan untuk berkarya sesuai kemampuan yang Tuhan karuniai bagi mereka. Kaum perempuan dinomorduakan atau didiskriminasi.

Banyak perempuan yang berpotensi di dalam gereja tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan pendeta laki-laki dalam melaksanakan tugas pelayanan gerejawi, terutama sebagai pemimpin. Padahal, kaum perempuan dihadirkan Tuhan untuk berjalan atau bekerja bersama dengan laki-laki. Kaum perempuan dihadirkan Tuhan untuk membina masa depan umat Tuhan bersama kaum laki-laki dalam menghadapi tantangan zaman.

Oleh sebab itu, melalui tulisan singkat ini aku akan membongkar anggapan masyarakat Kristen bahwa perempuan tidak layak tampil di depan publik atau menjadi pemimpin. Untuk melakukan hal ini, aku akan menelusuri jejak atau sepak terjang kaum perempuan di ruang publik ditinjau dari Alkitab, masa roformasi, dan masa kini.

Dengan melakukan hal ini, maka diharapkan agar pembaca Kristen hari ini dapat tercelik matanya akan peran dari kaum perempuan yang ternyata tak bisa disepelekan. Akhirnya, kita harus memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada kaum perempuan untuk memimpin umat Tuhan, mengingat mereka juga dikaruniai talenta oleh Tuhan untuk memimpin gereja-Nya.

Perempuan dalam Alkitab

Para penulis Alkitab sering menggambarkan perempuan sebagai bawahan bagi kaum laki-laki. Menurut Moltmann (1998), hal ini karena Alkitab ditulis dalam budaya yang didominasi patriarkal. Sebuah contoh di dalam Alkitab yang memperlihatkan hal ini adalah teks Imamat 27: 1-7.

Meskipun kaum perempuan dalam Alkitab kurang diberikan posisi atau otoritas untuk memimpin, kenyataannya mereka telah memainkan peran yang krusial dalam sejarah keselamatan umat Israel. Dan berikut adalah beberapa contoh dari perempuan-perempuan dalam kisah Alkitab di antaranya adalah Debora, Ester, dan Priskila.

Debora

Mengenai tokoh Debora Hakim-Hakim 4:4-5 mencatat, “Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, istri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepada-Nya.”

Ayat-ayat tersebut menyatakan mengenai peran Debora di tengah-tengah bangsa Israel. Pertama ia sebagai nabiah, sebagaimana yang dilakukan Musa dalam keluaran 19:1-25, dimana ia menjalankan peran sebagai juru bicara Allah bagi umat-Nya. Fungsi yang sam dengan Musa itulah yang diperankan oleh Debora sebagai nabiah, yang dalam konteks Hakim-Hakim 4:8-9, Debora memberitahukan mengenai siapa yang akan memimpin Israel dalam peperangan, dan juga menyampaikan firman mengenai “hukuman” pada Barak lantara syarat yang ditambahkan oleh Barak, bahwa ia hanya akan pergi berperang kalau Debora menyertainya.

Kedua, sebagai hakim atas Israel. Keberadaan Debora sebagai hakim atas Israel oleh para sarjana dianggap sebagai hal yang “tidak biasa” atau “anomali.” Bahkan, seorang penafsir mengatakan bahwa kemunculan Debora sebagai pemimpin adalah karena kurangnya kualitas laki-laki saat itu. Hal ini dikaitkan dengan Barak, yang katanya kurang beriman. Akan tetapi, pandangan tersebut terlalu sempit. Debora telah mendapat status sejak awalnya oleh Allah, sebagai nabiah dan hakim. Fungsi Debora agak berbeda dari hakim-hakim pada umumnya, yaitu lebih sebagai administrative pemerintahan dan sebagai penyelesai perselisihan di tengah-tengah bangsa Israel. Meskipun demikian, ia kerap disetarakan dengan hakim-hakim laki-laki pada umumnya.

Deskripsi mengenai keberadaan kepemimpinan Debora terlihat dengan jelas dalam Hakim-Hakim 5, yang terdapat dalam tiga ayat, yaitu ayat 7, 12, dan 15. Pada 5:7 terdapat kata kerja dengan subyeknya Debora, yaitu “bangkit” dan sebutan sebagai “ibu di Israel,” yang merujuk kepada kehormatan. Pada 5:12 terdapat kata kerja “bangunlah Debora.” Dan dalam 5:15 terdapat frasa “pemimpin suku Isakhar menyertai Debora.” Dengan demikian membuktikan Debora sebagai pemimpin di tengah-tengah umat Israel.

Ester

Ester adalah salah satu perempuan dalam Perjanjian Lama yang sangat pemberani. Dia memiliki taktik “berperang” yang luar biasa, sehingga dapat menaklukkan Haman si pembenci bangsa Yahudi. Melalui aksi heroik Ester ini, ia akhirnya memulihkan kembali kehormatan pamanya Mordekhai, yang sebelumnya dilecekan oleh Haman dan membebaskan bangsanya dari ancaman maut. Ia benar-benar pahlawan bagi bangsa Israel pada masanya. Tentu keberhasilannya adalah karena pertolongan Tuhan.

Priskila

Priskila, adalah salah satu tokoh perempuan dalam jemaat mula-mula yang cukup berhasil dalam kepemimpinan gerejawi. Dikisahkan di dalam Kisah Para Rasul 18:1-2 bahwa Paulus pergi ke Korintus untuk bertemu dengan Priskila dan Akwila. Priskila dan suaminya datang ke Korintus karena telah terjadi kerusuhan di kota Roma. Selama di Korintus Paulus dan pasangan suami istri ini melayani dan bekerja sebagai tukang kemah.

Dari Korintus Paulus kemudian menuju kota Efesus. Priskila dan Akwila menyertainya (18:18). Dari Efesus Paulus menuju Siria. Priskila dan Akwila ditinggalnya di Efesus untuk mengurus jemaat. Di Efesus Priskila dan Akwila melayani orang-orang Yahudi yang belum percaya Yesus dan mendidik Apolos dalam ajaran yang benar. Kurang lebih satu tahun Priskila dan Akwila memegang jemaat sendirian tanpa Paulus, mentor rohani mereka. Maka terbentuknya jemaat Efesus, adalah berkat usaha keras dari Priskila dan suaminya.

Kalau Allah bisa memakai perempuan-perempuan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka bukan tidak mungkin pada masa kini Allah juga memakai kaum perempuan untuk tugas memimpin dan pemberitaan Injil.

Perempuan dalam Masa Reformasi

Reformasi telah membawa perspektif baru dalam diri kaum perempuan di tengah pengajaran bahwa perempuan itu seharusnya berdiam diri. Berikut ini adalah beberapa nama perempuan yang berani menembusi aturan-aturan yang melarang perempuan tampil di ruang publik pada masa reformasi gereja

Katharina Schütz Zell (1497-1562)

Dilahirkan dalam keluarga biasa namun cukup terpandang dalam masyarakat, Katharina mengecap pendidikan yang baik, sekalipun dia tidak sempat belajar bahasa Latin secara khusus. Selama bertahun-tahun dia dihormati sebagai ibu dari gereja di Strasbourg, di tengah situasi di mana kepemimpinan gereja menjadi hak prerogatif laki-laki. Dalam suatu masyarakat di mana istri yang baik itu harus berdiam diri dan taat dan hanya dapat menjadi mandiri jikalau menjadi seorang janda, Katharina sudah berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan publik berhadapan dengan para bangsawan dan aristokrat, dan dia adalah pasangan yang seimbang dengan suaminya, Mathhew Zell, seorang mantan imam Katholik yang menjadi pendeta Lutheran.

Sebagai seorang istri dari Reformator, ia membuktikan bahwa dia dapat dan akan mengajar imannya secara intelektual dan menggunakan humor. Dia adalah penulis dari berbagai macam genre teks religius untuk menantang para teolog laki-laki pada masa itu dan konvensi-konvensi budaya pada masa itu dengan berbicara di hadapan publik. Sebagai seorang aktivis, dia mengatur para pengungsi dan menyerukan kepada pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap para pengungsi guna kesejahteraan mereka.

Zell menjuluki istrinya, Katharina dengan tiga nama, yaitu: Pasangan yang dinikahi, sebagai ekspresi dari doktrin Protestan mengenai pernikahan; Ibu dari mereka yang menderita, sebagai perluasan alamiah dari ide mengenai peran perempuan; dan ketiga adalah asisten pelayan. Katharina menyebut dirinya a church mother (“Kirchenmutter”), karena dia yakin bahwa dia dipanggil Allah untuk memelihara gereja dan umat Allah. Dia adalah teolog perempuan hebat pada masa itu. Dia menghadirkan perwakilan dari seorang perempuan Protestan yang dapat bersuara di hadapan publik pada masa itu, di tengah situasi di mana banyak perempuan yang masih berdiam diri.

Marie Dentière (1495-1561)

Marie adalah nama perempuan satu-satunya yang tertulis dalam tembok Reformasi di Jenewa. Namanya masuk dalam jajaran Reformator di Jenewa, di mana Calvin melayani pada abad ke-16. Marie adalah satu dari banyak perempuan pada masa itu yang membawa banyak terobosan dalam Reformasi di Jenewa, khususnya di kalangan perempuan. Dia dilahirkan dari kalangan keluarga bangsawan dan menjadi biarawati di biara Agustinian, Tournai-Belgia. Dia meninggalkan biaranya setelah mendengar banyak ide-ide mengenai Reformasi dan selanjutnya dia pergi ke Strasbourg, di mana di sana dia menikah dengan Simon Robert, mantan imam.

Aktivitasnya sangat banyak dan dia memulai sekolah bagi para gadis bersama dengan suaminya. Dia mendorong para biarawati untuk bergabung dengan Reformasi dan menikah serta menulis sejarah pembebasan Jenewa dari Katholik dan bahkan dia berkorespondensi dengan Marguerite de Navarre. Pada tahun 1533, Robert, suami Marie, meninggal dunia dan tahun 1535 dia menikah lagi dengan Antoine Froment dan pasangan ini kemudian menetap di Jenewa, di mana Froment melayani.

Marie adalah pembicara yang ulung berkaitan dengan isu-isu yang diperdebatkan oleh para Reformator dan Gereja Katholik saat itu, khususnya penolakan terhadap selibasi, mendukung pendidikan bagi perempuan dan keterlibatan perempuan dalam peran mereka di gereja. Dalam hal ini dia memainkan peran penting sebagai seorang perempuan yang notabene guru dari doktrin gereja dan moral. Dia adalah pendukung dari Gerakan Reformasi yang berbahasa Perancis dan pendukung Farrel dan Calvin dalam misi mereka di wilayah Swiss yang berbahasa Perancis. Marie jugalah yang protes keras kala Farrel dan Calvin ditarik keluar dari Jenewa.

Meskipun demikian, John Calvin pernah menegurnya karena pandangannya sangat vokal mengenai peran perempuan dalam gereja dan karena itu dia mengkritik para pelayan di Jenewa masa itu termasuk Calvin, berkaitan dengan peran perempuan. Sekalipun Calvin tidak setuju dengan Marie mengenai posisi perempuan, namun pada akhirnya dia juga menulis kata pembuka dari salah satu khotbah Calvin mengenai kesopanan yang terambil dari surat 1 Timotius, yang diterbitkan pada tahun 1561. Usia yang bertambah menjadikannya berhikmat dalam memberikan respon terhadap isu-isu yang menimbulkan perdebatan, atau bisa jadi rekonsiliasi Marie dan Calvin karena alasan Reformasi atau yang lain. Sejarah tidak mencatat hal ini. Namun yang jelas, pada akhir menjelang hidup mereka didapati adanya rekonsiliasi di antara mereka.

Terlepas dari keberdiaman sejarah mengenai apa yang terjadi sesungguhnya mengenai peran perempuan di Jenewa, Marie Dentière melibatkan dirinya dalam perjuangan Reformasi di Jenewa.

Anne Askew (1521-1546)

Anne Askew adalah seorang teolog dan martir Protestan dari Inggris. Anne Askew dilahirkan di Kelsey Selatan, Lincolnshire pada tahun 1521. Dia adalah anak kelima dari enam bersaudara bagi William Askew dan Elizabeth Wrottesley Askew. Karena saudara perempuannya, Martha, meninggal dunia sekitar tahun 1540, maka ayahnya memaksanya untuk menikah dengan tunangan kakaknya, Thomas Kyme. Pernikahan ini sangat tidak bahagia bagi Anne Askew. Dengan sikap otoriternya, akhirnya Kyme memaksa Anne keluar dari rumahnya, karena kepercayaan Anne kepada ideide Protestan.

Tulisan Askew, Examination, menunjukkan bahwa Anne Askew adalah seorang yang terpelajar dengan pengetahuannya yang baik tentang Kitab Suci dan retorika. Tulisan ini juga merupakan respon perempuan yang mempertanyakan idealisme masyarakatnya tentang keperempuanan. Bukannya menampilkan dirinya sebagai perempuan yang diam dan tidak berdaya, Askew justru berbicara di depan publik, karena itu dia dijuluki sebagai ―gospeller,‖ dan menulis kisahnya serta berargumentasi dengan para inkuisitor pada masa itu untuk menegur mereka karena kesalahan-kesalahan mereka. Askew banyak mendapat dukungan dari Ratu Catherine Parr dan anggota keluarganya yang sangat bersimpati dengan Protestantisme.

Dalam arena politik, para musuh Potestan seperti Stephen Gardiner, Bishop Winchester, Thomas Wriothesley dan Edmund Bonner, Bishop London, sudah mengamati dengan seksama gerak-gerik dari ratu Catherine yang mendukung Kelompok Protestan. Mereka berusaha keras untuk mematahkan usaha dan gerakan Protestan, namun belum berhasil karena memang dilihat bahwa sahabat Raja Henry VIII, Uskup Agung Thomas Cranmer, adalah notabene pendukung dari Reformasi. Para musuh ini berusaha mencari jalan dan menemukan cara mereka untuk mematahkan gerakan ini melalui Askew yang adalah sahabat dari Catherine Parr.

Anne Askew ditangkap dan diinterogasi pada bulan Maret 1545 berkaitan dengan penolakannya terhadap ajaran transubstansiasi. Penolakannya yang kokoh terhadap ajaran transubstansiasi ini berujung kepada hukuman bahwa dianggap sebagai bidah, dan karena itu dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar. Para musuhnya berusaha membujuk dia sebelum dibakar seandainya dia mau melepaskan iman Protestannya. Namun Askew dengan kokoh tetap berpegang kepada keyakinan Protestannya, dan tidak dapat melepaskan atau mengingkarinya. Karena kekokohan sikapnya, maka akhirnya dia mati dengan cara dibakar. Sikapnya tersebut juga menjadi contoh bagi para martir yang lain yang juga akan dibakar bersama dengannya, untuk tetap berpegang kepada keyakinan Protestan.

Dalam doanya bagi para musuh Protestan, yang menganiayanya sebelum dia dibakar, dia berseru, demikian,

“Lord, I heartily desire of thee that thou wilt of thy most merciful goodness forgive them that violence which they do, and have done, unto me. Open also thou their blind hearts, that they may hereafter do that thing in thy sight, which is only acceptable before thee, and to set forth thy verity aright, without all vain fantasies of sinful men. So be it, O Lord, so be it!”

Dengan menyebutkan beberapa perempuan di atas, tidak berarti hanya mereka saja yang tercatat dalam peran penting di era Reformasi. Masih banyak para perempuan yang tercatat dalam perjuangan Reformasi dengan kontribusi masing-masing yang mereka berikan. Namun, cukuplah bagi para pembaca untuk mengetahui beberapa representasi dari perempuan-perempuan di atas dan menemukan peran penting yang mereka berikan dalam Reformasi, sebagai istri, guru, dan pemimpin perpejuangan Reformasi.

Perempuan dalam Masa Kini

Dewasa ini, peran perempuan dalam pembangunan nasional dapat dilihat dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Peran perempuan di bidang ekonomi dapat dilihat dari banyaknya kaum perempuan yang berada diranah publik, di mana mereka berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja sebagai karyawan atau kepala kantor/perusahaan. Dalam ranah politik, banyak dari mereka yang terlibat sebagai politikus, menteri hingga presiden. Sedangkan dalam ranah sosial, mereka terlibat sebagai pemimpin organisasi gerejawi dan institusi pendidikan. Hal ini, berkat terorganisasinya gerakan feminisme di dunia Barat pada awal abad ke-19.

Gerakan ini telah memberikan pengaruh yang sangat besar, bukan hanya pada kehidupan perempuan di seluruh dunia, tetapi juga bagi kaum laki-laki. Masyarakat mulai membuka diri pada kesataraan gender. Perempuan bukan lagi sebagai pelengkap, tambahan, atau subordinasi, tetapi perempuan dan laki-laki diciptakan oleh Allah setara, sebagai Imago Dei. Gambar dan peta teladan Allah.

Penutup

Dari pemaparan di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, siapa saja bisa menjadi seorang pemimpin, asalkan ia memiliki panggilan dan karunia memimpin dalam dirinya. Maka seyogianya kita tidak boleh membatasi kepemimpinan hanya untuk kaum laki-laki saja. Sebaliknya, kita harus memberikan ruang kepada kaum perempuan untuk memimpin, sebab kenyataannya mereka bisa memimpin dengan sangat baik. Perempuan dan laki-laki dapat bekerja sama demi membangun kerajaan Allah di dalam dunia.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, jangan ragu untuk membagikannya kepada orang lain. Sampai jumpa di tulisan-tulisan berikutnya.


Daftar Rujukan

Antonius Steven Un. Mutiara Kebenaran dari Perjanjian Lama: Bergumul Bersama Nuh, Ishak, Ester & Hamba yang Menderita. Surabaya: Momentum, 2019.

Elsie McKee, ed and trans., Church Mother. Chicago: The University Press, 2006.

Elkana Chrisna Wijaya. Studi Tokoh Debora dalam Kitab Hakim-Hakim 4-5: Menjawab Isu Kontemporer Kepemimpinan Wanita dalam Organisasi Kristen, dalam Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (April 2018).

Deetje Rotinsulu Tiwa. “Pengaruh Teologi Perempuan terhadap Peran Perempuan Indonesia,” dalam Deetje Rotinsulu Tiwa & Mariska Lauterboom, Perempuan Indonesia dalam Karya & Pengabdian: Bunga Rampai dan Penghargaan untuk Marie-Claire Barth-Frommel. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014.

Ruth Scafer, dkk., Menggugat Kodrat Mengangkat Harkat: Tafsiran dengan Perspektif Feminis Atas Teks-Teks Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014.

Randall Martin, ed., Women Writer in Renaissance England: An Annotated Anthology, 2nd Edition. London: Pearson, 2010.

John N. King, ed., Foxe‟s Book of Martyrs: Select Narratives. Oxford: University Press, 2009.

Mary B. McKinley, ed., “Volume Editor‘s Introduction,” Marie Dentière: Epistle to Marguerite de Navarre and Preface to a Sermon by John Calvin. Chicago: University Press, 2004.

Christina Langella, “Women of the Reformation: Anne Askew; Gospelling In The Fire by Diane Bucknell,” <artikel online> diakses dari http://heavenlysprings.org/womenofthereformation/women-of-the-reformation-anne-askew-gospelling-in-the-fire-by-diane-bucknell/; tanggal 11 Agustus 2020 pukul 23:33 WIB.

Andalan

Catatan Kecil Tentang Perjalanan Kuliah

Sumber Gambar: Pinterest

Pendahuluan

Setiap orang pasti memiliki impian, sekalipun tidak semua orang dapat mewujudkannya. Ada impian yang tercapai dan ada juga yang tidak. Kedua sisi negatif dan positif ini, selalu menyertai perjalan hidup umat manusia.

Waktu kecil aku memiliki sebuah impian, yaitu menjadi polisi. Aku sering ditanya teman-teman dan guruku, “Billy, nanti waktu kamu besar mau jadi apa?” Dengan semangat 45 aku menjawab, “mau jadi polisi.” Impian itu ternyata tak tercapai karena bukan kehendak Tuhan. Tuhan ternyata menghendaki aku untuk menjadi seorang hamba Tuhan, bukan polisi. Hehehe.

Kalau ditanya, apakah aku kecewa karena impian masa kecilku tidak tercapai? Aku jawab: tidak sama sekali! Justru sebaliknya, aku senang karena telah menemukan impian yang sesungguhnya – menjadi hamba Tuhan.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin berbagi sedikit kisah perjalananku menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti (SATI), Malang dan di STT IMAN, Jakarta (STTIJ). Harapanku adalah kisah ini dapat menginspirasi dan memotivasi sidang pembaca, khususnya para muda-mudi Indonesia untuk memperjuangkan impiannya bersama Tuhan apapun resiko yang dihadapi.

Panggilan Menjadi Hamba Tuhan

Terus terang, melayani sebagai hamba Tuhan di pedesaan itu susah, pake BANGET. Mungkin kalau melayani di kota besar seperti Jakarta agak sedikit enakan, ya. Hehe. Papaku seorang pendeta dan Mamaku adalah seorang guru fisika di SMA. Ketika kecil hingga besar, aku melihat Papa berjuang mati-matian menggembalakan jemaat yang tidak seberapa jumlahnya sambil menghidupi keluarganya.

Papa mendapatkan gajinya dari persembahan jemaat, selebihnya ia cari sendiri. Sering kami sekeluarga diajak Papa berkebun atau me-laut demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pernah suatu kali kami bertiga (Papa, aku, dan adikku Maykhael) pergi me-laut. Kami menangkap ikan menggunakan jaring/jala di tengah-tengah hujan, angin dan gelombang besar. Perahu kami hampir saja terbalik karena diterpa gelombang besar. Begitulah kehidupan di laut penuh resiko.

Baca Juga: Serunya Spearfishing di Pulau Saparua, Maluku Tengah

Kalau mau hitung gaji papa, sebenarnya, tidak cukup untuk membiayai sekolah aku dan Maykhael. Beruntung ada mama yang membantu menopang biaya sekolah kami, sehingga kami dapat menyelesaikan pendidikan SMA dengan baik. Bahkan, bisa untuk membiayai kuliahku. Aku pikir ada untungnya kalau kita punya istri seorang PNS. Hehehe.

Kalau menjadi hamba Tuhan itu susah secara finansial, lantas mengapa aku mau menjadi hamba Tuhan? Jawabannya sederhana: panggilan! 

“Panggilan hidup itu kita miliki karena ada Allah yang memanggil.” Sen Sendjaya.

Ya, jikalau bukan Tuhan yang memanggilku, aku pasti tidak mau menjadi hamba Tuhan. Beneran deh. Haha.

Baca Juga: Renungan Harian Kristen Pemuda: Memahami Panggilan Tuhan

Aku ingat betul moment ketika aku dipanggil Tuhan untuk menjadi rekan sekerja-Nya, yaitu saat aku menghadiri Youth Camp – sebuah acara khusus untuk kaum muda yang diselenggarakan oleh kampus STEMA, Ambon. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus.

Panggilan hidup dari Tuhan saat itu begitu kuat, begitu membara dalam diriku, sehingga mendorong aku untuk mengambil keputusan masuk STT.

Singkat cerita, setelah lulus SMA aku menyampaikan keinginanku kepada Papa-Mama dan Maykhael. Puji Tuhan mereka mendukung keinginanku untuk masuk STT. Masalahnya sekarang adalah aku enggak punya sponsor untuk kuliah. Lalu aku berdoa kepada Tuhan. Papa-Mama dan Mykhael juga turut berdoa supaya aku mendapatkan sponsor.

Menjelang pembukaan pendaftaran mahasiswa baru, Tuhan mengutus seorang hamba Tuhan ke Saparua. Karena hamba Tuhan ini cukup dekat dengan Papa, Papa kemudian mencoba menyampaikan keinginanku kepada temannya. Puji Tuhan, ia bersedia membiayai sekolahku. Ternyata teman papa itu hanya membiayai aku 1 semester, sebab ia mengalami masalah ekonomi. Tapi aku tetap bersyukur, karena teman Papa itu, aku bisa berangkat ke STT Satyabhakti, Malang (selanjutnya disingkat Sati).

“Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya bahu membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya.” Paulo Coelho.

Aku mendapat informasi tentang STT Sati dari salah satu mahasiswa Sati yang kebetulan sedang berlibur ke Saparua, Maluku Tengah. Menurutku, dari semua STT beraliran Pentakosta-Karismatik di Indonesia, Sati termasuk salah satu yang terbaik. Karena keterbatasan ruang dan waktu, pada kesempatan ini aku tidak bisa menjelaskan ke kalian keunggulan Sati. Namun aku bisa menjamin bahwa kalian enggak akan kecewa jika masuk Sati.

Menjalani Proses Perkuliahan di SATI, Malang

Pada awal bulan Agustus tahun 2009, aku berangkat dari Saparua ke Ambon, lalu menuju Malang menggunakan pesawat sore. Ketika tiba di bandara Juanda, Surabaya aku dijemput oleh keluarga istri omku. Kami lalu bergegas menuju kampus. Aku tiba di kampus sekitar jam 10 malam dan langsung masuk ke asrama.

Kehidupan di Asrama

Kalian yang sudah pernah tinggal di asrama pasti tahu. Asrama punya sejumlah aturan yang wajib ditaati oleh setiap mahasiswa. Misalnya, harus bangun pagi tepat waktu. Wajib mengikuti doa pagi. Melakukan tugas harian (menyapu, mengepel, mencuci piring kotor di dapur, masak nasi pagi, dll) yang sudah dijadwal oleh kepala asrama dengan bertanggung jawab. Jikalau tidak metaati maka mahasiswa tersebut akan mendapat hukuman.

Bicara soal melakukan tugas harian, aku pernah dijadwal masak nasi pagi. Biasanya masak nasi pagi itu dilakukan jam 3 pagi. Ini adalah salah satu tugas harian ter-horor bagi anak asrama pria. Mengapa aku bilang horror? Sebab jika terlambat bangun pagi, maka kita akan bertanggung jawab atas kelaparan yang menimpa semua mahasiswa dan dosen. Begitu takutnya aku, sampai aku pernah menyetel alarm sebanyak 2 buah. Suatu ketika teman sekamarku iseng bangunin aku jam 1 pagi. “Billy, bangun masak nasi. Ini sudah jam 3,” desak temanku. Tanpa melihat jam, aku langsung bangun dan buru-buru ke dapur. Ternyata ketika melihat jam di dapur masih jam 1 lewat sedikit. Hahaha. Ya sudah aku kembali lagi ke asrama dan menunggu sampai jam 3 pagi.

Di samping melakukan kewajiban asrama, kita juga bertanggung jawab atas tugas pribadi seperti mencuci pakaian, setrika, membereskan tempat tidur, dll. Semuanya dilakukan sendiri-sendiri. Beruntung Papa-Mamaku mendidik aku untuk melakukan tugas pribadi secara mandiri. Jadi, aku tidak kaget lagi dengan gaya hidup di asrama. Cuma satu aja yang sulit bagi aku saat itu: bagun pagi. Sekarang sih sudah bisa. 

Satu hal yang sangat berkesan ketika tinggal di asrama adalah solidaritas yang dibangun di antara mahasiswa asrama. Sikap saling peduli begitu tinggi di antara kami. Ketika ada teman yang membutuhkan bantuan, kami segera membantu. Suatu kali aku pernah sakit dan harus berobat ke dokter. Seorang temanku yang mengetahui kondisiku saat itu langsung menawarkan bantuan mengantarkan aku ke klinik terdekat. Lalu ketika aku terbaring di kamar karena sakit, teman-teman kamarku merawat aku sampai sembuh. Hidup berasrama itu asik.

Kegiatan Perkuliahan

Kegiatan perkuliahan mempunyai tantangan tersendiri bagiku. Secara umum perkuliahan dilaksanakan dari Hari Senin hingga Jumat siang. Normalnya, waktu kuliah dimulai pada pagi hari jam 8.00 sampai siang jam 12.00 Waktu sisanya, biasa digunakan untuk kegiatan-kegiatan mandiri seperti bekerja dan belajar.

Yang menjadi tantangan bagiku dalam kegiatan belajar adalah membuat paper/makalah dan membuat laporan baca. Untuk laporan baca saja kita wajib membaca buku 100 sampai 200 halaman, per mata kuliah. Jadi, bisa bayangin kalau ada 5 mata kuliah yang memiliki tugas wajib baca. Ini berat buat aku. Sejak SD aku terbiasa meminta bantuan Papa-Mama untuk mengerjakan PR (aku akui ini kebiasaan yang buruk). Tapi, sekarang sudah tidak bisa lagi. Aku harus berjuang seorang diri. Di semester awal perkuliahan nilai aku anjlok. Aku sedih sekali. Ada perasaan ingin mundur. Tapi berkat motivasi Papa-Mama dan teman-teman aku bangkit lagi. Walaupun tertatih-tertatih, aku akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh SKS.

Yang paling berkesan selama mengikuti kegiatan perkuliahan ialah moment di mana aku dibimbing untuk pembuatan tugas akhir/skripsi. Waktu itu yang menjadi dosen pembimbing aku adalah Pdt. Soerono Tan, M.Th (maaf sebelumnya pak, saya menyebut nama bapak di sini. Hehehe). Beliau salah satu dosen Favorit aku di Sati.

Dalam proses pembimbingan, tulisan aku berulang-ulang kali dicoret oleh beliau. Macam-macam gambar terlukis di lembar kerjaku seperti lingkaran dan anak panah. Hahaha. Kalian yang pernah dibimbing skripsi pasti pernah ngalamin. Beliau memang sangat ketat dalam kepenulisan. Sepengalamanku tidak ada satu kata atau tanda baca yang terlewati oleh matanya. Seluruh kalimat dibaca dengan teliti. Dari beliaulah aku belajar menjadi orang yang berhati-hati dalam menulis.

Pada akhirnya, setelah proses pembimbingan yang panjang selama 1 semester selesai, aku dinyatakan lulus ujian skripsi dengan nilai yang tinggi, yaitu “-A.” Aku satu-satunya anak bimbingannya yang mendapat nilai “-A.” Emang bener sih, doa, usaha dan kerja keras itu tidak menghianati hasil.

Kegiatan Pelayanan

Masa praktek pelayanan terdiri dari dua jenis. Praktek mingguan (weekend) dan praktek dua bulan. Praktek weekend biasanya dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu di gereja lokal atau yayasan panti asuhan/jompo. Aku pernah ditempatkan untuk melayani di sebuah panti jompo di Malang. Benar-benar pengalaman yang luar biasa, boleh melayani oma-opa. Sedangkan praktek dua bulan dilaksanakan akhir semester genap, yaitu bulan Juli dan Juni. Aku tiga kali mendapat kesempatan terlibat praktek dua bulan. Pertama di Ambon, Maluku. Kedua di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dan terakhir di Tobelo, Mauluku Utara.

Hal yang menarik dari praktek dua bulan ini adalah kesempatan untuk mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan seminar kepada guruguru sekolah minggu. Di samping kesibukan pelayanan, kami juga punya kesempatan untuk jalan-jalan. Hehehe. Tetapi hal yang paling menggembirakan dari praktek pelayanan dua bulan ini adalah adanya jiwa yang menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan dan mau dididik di Sati. Sepengalamanku, ada dua atau tiga orang yang berhasil dibawa untuk masuk Sati. Puji Tuhan.

Pindah ke Jakarta, Melayani Sambil Kuliah di STTIJ

Setelah menyelesaikan studi S1 pada September 2014, aku kembali ke Saparua. Maksud aku kembali adalah untuk melayani di Saparua. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Ketika berada di Saparua, seorang kakak tingkat ku menelpon aku dari Jakarta. Dia menawarkan pelayanan di Jakarta. Aku berdoa tanya Tuhan (ciri orang Pentkosta bangett. Hahaha.).

Ketika aku menyampaikan niat ku ke Mama dan adi ku, ternyata respons mereka positif. Mereka dukung aku penuh untuk melayani di Jakarta. Saat itu aku belum kepikiran untuk melanjutkan studi. Aku cuma mau melayani saja. Namun, setelah melayani 3 tahun barulah aku kepikiran untuk melanjutkan studi S2.

Sebagai informasi tambahan, Papa aku meninggal dunia karena kecelakaan sepeda motor pada tahun 2014, satu bulan sebelum aku diwisuda. Aku sangat sedih dan sempat down saat itu. Tapi Puji Tuhan, aku berhasil bangkit lagi. Aku ingat pesan papa ke aku sebelum ia meninggal dunia, “Billy kalau ada kesempatan, kamu lanjut kuliah S2 agar kamu bisa jadi dosen.” Saat itu, aku gak terlalu menghiraukan pesannya, karena aku belum kepikiran ke sana. Baru setelah di Jakarta, aku kepikiran untuk kuliah S2. Bersyukur, keinginan papa akhirnya bisa terkabul, meskipun ia tidak melihatku lagi. Aku pribadi sangat bangga dengan papaku. Ia seorang pekerja keras dan suka memotivasi anak-anaknya supaya menjadi orang yang berhasil.

Setelah yakin dengan keputusan ku, aku kemudian menghubungi kakak tingkat ku di Jakarta dan menyatakan kesediaan ku untuk melayani di Jakarta. Pada bulan November awal tahun 2014, aku berangkat ke Jakarta.

Memulai Pelayanan Baru, Sambil Merencanakan Kuliah

Di Jakarta, aku melayani di Gereja Sidang Jemaat Allah Jembatan Lima Cab. Batu Tulis, Jakarta Pusat – Sebuah gereja kecil di pinggiran kota. Sambil melayani, aku juga menyibukkan diri dengan belajar. Aku sering beli buku baru. Karena senang membeli buku, aku kemudian menjadi member di dua toko buku, yaitu toko buku BPK Gunung Mulia, Jln. Kwitang Jakarta Pusat dan toko buku Momentum, Jln. Kemayoran, Jakarta Pusat. Sampai pada saat tulisan ini dibuat, koleksi bukuku sudah mencapai sekitar 300 lebih judul buku (belum termasuk PDF).

Setelah genap tiga tahun melayani, aku kemudian mencoba menyampaikan niat untuk studi lanjut kepada pendetaku. Awalnya beliau tidak setuju, tetapi karena aku ngotot, beliau akhirnya menyerah dan mengizinkaku untuk studi lanjut. Hehehe. Dan sekolah yang menjadi pilihan untuk studi lanjut, yaitu STT IMAN, Jakarta (STTIJ).

Ada beberapa alasan mengapa aku memilih masuk STT IMAN, Jakarta (SSTIJ). Yang pertama, karena program studi yang ditawarkan cocok dengan minat research aku, yaitu Christian Leadership. Kedua, karena biaya kuliah di STTIJ cukup murah. Dan terakhir, karena kualitas para pengajarnya. Para dosen STTIJ adalah lulusan-lulusan dari sekolah terbaik, baik di dalam negeri maupun di luar negeri (aku pernah menulis tentang kualitas dosen dan sarana-prasarana STTIJ di facebookku dua tahun silam, silahkan kunjungi facebook aku Billy Steven Kaitjily). Belakangan, aku baru tahu dari salah satu dosen aku, bahwa STTIJ termasuk salah satu sekolah Injili terbaik di Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, STT yang beraliran Injili dengan doktrin atau teologi yang solid, yaitu STTRI, STTAA, STTII Jogyakarta, STT Alithea Lawang, STT SAAT, Malang dan STTIJ. Jadi, bagi kalian dari latar belakang Injili yang ingin masuk ke sekolah teologi beraliran Injili, sekolah yang disebutkan di atas bisa jadi rujukan.

Memulai Perkuliahan di STTIJ

Jadwal pelayanan di gerejaku tidak terlalu padat. Waktu pelayanannya, yaitu pada hari Rabu, Kamis dan Minggu, sisa waktunya dipakai untuk kegiatan kuliah dan kantor dan sesekali mengadakan kunjungan ke jemaat. Tugas utama aku di gereja adalah membantu mengajar anak-anak sekolah Minggu. Tapi kalau boleh jujur, aku enggak cocok pelayanan ke anak-anak. Aku lebih cocok melayani di pemuda dan umum. Hehehe. Ini sedikit protesku ke para gembala sidang. Jangan tempatkan mahasiswa praktek atau pelayan Tuhan di gereja Anda dalam bidang yang bukan menjadi minat mereka. Hal ini akan membuat mereka frustrasi sehingga menganggu kegiatan pelayanan. Sebaliknya, tempatkanlah mereka pada bidang yang memang menjadi minat mereka. Aku percaya, pelayanan yang dijalankan sesuai dengan minat kita, niscaya akan mendatangkan keberhasilan.

Kegiatan perkuliahan STTIJ diatur sesuai dengan waktu mahasiswa. Jadi berbeda dengan jadwal perkuliahan S1 yang sudah terlebih dulu ditetapkan pihak sekolah. Di S2 jadwal perkuliahannya fleksibel. Disesuaikan dengan jadwal mahasiswa. Kita juga bisa mengatur jumlah kredit yang akan diambil setiap semesternya.

Bercermin dari pengalaman ku ketika kuliah S1 dulu, kali ini aku enggak mau gagal lagi. Aku benar-benar fokus untuk belajar. Pada semester awal nilaiku sangat bagus. Aku senang banget. Demikian juga dengan semester- semester berikutnya, nilaiku tetap bagus. Salah satu faktor kenapa nilaiku bagus adalah karena tempat di mana aku melayani belum banyak kegiatan ibadah. Jadi, aku bisa fokus belajar. Seluruh mata kuliah sudah selesai dan sekarang aku sedang menyusun Tugas Akhir atau Tesis. Semoga berjalan lancar.

Buat kalian yang kepingin seperti aku, melayani sambil kuliah boleh-boleh saja. Tapi carilah gereja kecil yang belum banyak kegiatan ibadahnya. Atau bergabung dengan gereja besar, tapi melayani part time. Namun, alangkah baiknya lagi jika kalian punya beasiswa supaya kalian bisa fokus kuliah saja. Sepengetahuanku di beberapa STT seperti STTRI dan STT SAAT menyediakan program beasiswa S2. Kalian bisa memanfaatkan kesempatan ini.

Kegiatan di Luar Gereja dan Kampus

Kegiatan pelayanan dan kuliah kadang-kadang membuatku jenuh dan stres. Karena itu, aku butuh sesuatu yang menghibur. Untuk melepaskan kejenuhan dan stres, aku biasanya mengunjungi toko buku baik untuk membeli maupun sekadar untuk membaca buku. Kadang-kadang aku mengunjungi taman sekadar untuk jalan-jalan menikmati pemandangan pepohonan. Kadang-kadang aku ke mall. Pokoknya hal-hal yang bisa membuat aku tidak jenuh dan stress.

Namun, belakangan ini aku lebih sering menghabiskan waktuku untuk menulis e-book. Teryata kegiatan membaca dan menulis itu dapat menghilangkan stress. Bagaimana cara kalian menghilangkan perasaan jenuh dan stress?

Penutup

Dari kisah ku ini, aku cuma ingin menyampaikan satu hal saja: siapa pun dan dari mana pun kalian berasal, selama masih ada kesempatan untuk mengemban pendidikan tinggi, lakukanlah dengan sungguh-sungguh apa pun resikonya. Selama masih ada waktu untuk berkarya, lakukanlah itu, bukan untuk kemegahan diri kita, tetapi untuk kemuliaan nama Tuhan.

Terima kasih telah membaca tulisan ku hingga selesai. Jika kalian merasa mendapat manfaat dari tulisan ini, mari bagikan juga kepada orang lain, agar mereka mendapat manfaat yang sama. Akhirnya, jangan lupa untuk follow blog ini ya, agar kalian tidak ketinggaln tulisan terbaru.

Andalan

Renungan Harian Kristen: Benarkah Yesus Mati?

“Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka Ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati” (Mrk. 15:44)

Kontroversi tentang kematian Yesus mulai berkembang pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Orang-orang non-Kristen mencoba menjelaskan kematian Yesus. Mereka berpendapat bahwa, Yesus hanya pingsan karena kelelahan di atas kayu salib, atau Ia diberi obat yang membuatnya kelihatan mati.

Para pembuat teori ini mendapat dukungan dari kesaksian Alkitab sendiri, bahwa pada saat-saat terakhir Yesus diberi suatu cairan di suatu bunga karang (ay. 36). Konsekuensinya, kebangkitan Yesus bukanlah suatu kebangkitan mukjizat, melainkan sekadar suatu kesadaran kembali yang kebetulan.

Benarkah teori ini?

Dalam Injil-Injil kita tahu bahwa, Yesus disiksa oleh serdadu-serdadu Romawi. Perlu diketahui bahwa pencambukan di Roma pada masa itu dikenal sangat brutal. Si serdadu akan menggunakan sebuah cemati dari kepangan tali kulit dengan bola-bola logam yang dijalin ke dalamnya. Ketika cemati menghantam ubuh Yesus, bola-bola itu akan menyebabkan memar dan pecah akibat pukulan berikutnya. Cemati itu juga memiliki potongan-potongan duri tajam, sehingga menikam tubuh Yesus dengan sangat hebat. Pecambukan itu akan ditimpa ke segala arah dari bahu turun ke punggung, pantat, dan kebagian belakang kaki.

Sangat mengerikan bukan?

Itulah sebabnya, Yesus berjalan terhuyung-huyung ke lokasi penyaliban, di bukit Golgota (bukit tengkorak). Yesus sempat tidak tersadarkan diri saat memikul salib, sehingga digantikan oleh Simon dari Kirene.

Karena efek-efek mengerikan dari pemukulan itu dan paku-paku berukuran besar ditancapkan menembus kedua tangan dan kaki-Nya. Maka, pastilah Yesus berada dalam situasi yang kritis.

Dapatkah seseorang bertahan hidup dalam situasi seperti ini?

Secara manusiawi, mustahil! Kita membaca bahwa, para serdadu sempat memberikan anggur asam kepada-Nya yang bertujuan menghilangkan rasa sakit. Namun, Yesus menolaknya. Akhirnya, setelah menderita beberapa jam, Ia menghebuskan nafas terakhirnya.

Kekristenan mempercayai bahwa, Yesus benar-benar mati. Kematian-Nya bukan dibuat-buat seperti pandangan beberapa tokoh non-Kristen. Bahkan, sebelum kematian-Nya, para nabi Perjanjian Lama telah bernubuat. Nabi Yesaya, misalnya, berkata, “Tetapi TUHAN berkehendak meremukan dia dengan kesakitan” (Yes. 53:10). Kesaksian Perjanjian Lama, sudah cukup membuktikan bahwa Yesus mati.

Terima kasih sudah mampir di blog ku. Jika kalian mendapat manfaat dari tulisan ini, jangan ragu untuk membagikannya kepada yang lain.

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai